Biografi Mario Gomez

99
Mario Gomez

Moment Kamu Tanpa beban

MataNaga – Ayahku selalu memberitahuku satu kisah khusus ini mengenai pertandingan pertama sepakbolaku.

Aku berusia empat tahun dan aku tidak benar-benar tahu apa yang aku lakukan. Yang aku tahu hanyalah aku mendapatkan bola di kakiku dan aku ingin mencetak gol. Jadi aku mulai mendribble dan semua teman-teman setimku mulai meneriakkan namaku.

“Mario! Mario! Mario!”

Aku terus maju.

“Marioooooooo!”

Apa yang salah dengan mereka? Mengapa mereka ingin aku mengoper bolanya? Tidak ada bek yang menghadangku.

“Mario!” bahkan para orang tua meneriakan namaku sekarang. “Kamu salah arah! Mario, tidakkkkkk!”

Aku tidak mengerti ada arah yang benar dan salah. Aku hanya melihat gawang dan aku ingin menendang bola masuk ke dalam gawang.

Aku tidak terlalu mengingatnya, jadi kalian harus percaya dengan kata-kata ayahku. Tetapi ada dua hal yang aku tahu. Yang pertama, adalah bahwa saat aku mendapatkan bola di kakiku, yang aku inginkan hanyalah menendangnya ke dalam gawang.

Dan yang kedua? Aku selalu ingin melakukan setiap hal dengan caraku sendiri.

Terlebih saat bermain sepakbola.

Kalian semua telah mendengar kisah-kisah tentang anak-anak kecil yang bermimpi bermain sepakbola secara profesional. Semuanya dimulai dengan sama: kamu tidak punya waktu untuk hal lain. Yang kamu inginkan hanyalah menendang bola. Tidak penting seberapa malam atau seberapa dingin cuacanya.

Aku juga tidak berbeda. Setiap hari saat aku pulang ke rumah dari sekolah, aku akan melempar tasku ke sudut ruangan dan memanggil ibuku.

“Ma, aku akan keluar bermain sepakbola.”

“Tunggu, tunggu, tunggu!” katanya. “Kamu harus makan dulu. Kamu harus mengerjakan PR-mu terlebih dahulu.”

Tetapi pintu belakang sudah akan tertutup dan aku akan berada di taman kami. Kebanyakan waktu, sepupu kecilku akan bergabung denganku, tetapi jika dia punya hal lain untuk dikerjakan aku akan menutup garasi dan menendang bolanya ke pintu selama berjam-jam. Ratusan dan ratusan tendangan dengan kaki kiriku, lalu dengan kaki kananku. Itu adalah caraku, bahkan saat aku masih muda, untuk mampu bermain dengan kedua kaki.

Di dalam rumah, orang tuaku akan mendengar suara ribut dari bola menghantam pintu garasi. Bam! Bam! Bam! Tetapi mereka tidak pernah menyuruhku berhenti, mereka juga tidak pernah menaruh tekanan kepada diriku untuk menjadi seorang pesepakbola profesional. Mereka hanya melihat kebahagiaan yang diberikan permainan itu kepadaku.

Jadi kapanpun ada pot bunga yang pecah atau jendela yang pecah, ayahku akan keluar dengan kekecewaan di raut wajahnya.

Dia akan berkata, “Mario, kenapa kamu membidik ke sana? Kamu bisa menendang jauh lebih baik dari itu.”

Tetapi dia tidak akan pernah mengambil bolanya dariku.

Ayahku berasal dari Spanyol, jadi dia mencintai sepakbola juga. Dia tidak terlalu peduli dengan tanaman-tanamannya dan terkadang dia bahkan ke luar rumah dan bermain bersamaku. Kecuali saat hari minggu jam enam sore. Dia akan berada di satu tempat: di depan televisi menonton program highlight sepakbola mingguan.

Aku tidak suka menonton sepakbola di televisi. Itu selalu membosankan bagiku. Kenapa harus duduk di depan televisi, jika kamu bisa keluar dan bermain sepakbola sungguhan?

“Papi, ayo ke luar!” kataku, sambil menarik lengannya. “Ayo main!” suatu sore saat aku berusia sekitar tujuh atau delapan tahun, sudah cukup baginya. Alih-alih mengusirku pergi, dia mendudukkanku di sampingnya.

“Aku ingin kamu melihat ini, Mario. Tonton saja.”

“Tidakkkk! Membosankan.”

Ayahku menunjuk ke televisi, “Lihat! Di sana! Sekarang!”

Saat aku melihat, ada seorang pemain Eintracht Frankfurt di layar. Dia mendribble bolanya melewati kiper tim lawan, lalu melewati seorang bek, dan lalu seorang bek lainnya – mempermainkan mereka – sampai dia mencungkil bolanya masuk ke gawang dengan mudahnya.

“Woahhhhhh,” kataku. “Apa yang baru saja dia lakukan?”

“Lihat?” kata ayahku. “Dia adalah Jay-Jay Okocha. Dan tidak ada seorangpun yang seperti dia.”

Dari momen tersebut, aku bermimpi bermain seperti Jay-Jay. Dia adalah idolaku. Caranya mengerakkan bola – dia seperti seorang seniman. Dia melakukan berbagai hal dengan bola yang bahkan tidak bisa aku bayangkan. Dan setelah melihat dribble dan gol tersebut, aku menonton highlight bersama ayahku setiap minggu. Aku bahkan mulai menonton pertandingan bersama dengannya.

Kebanyakan kami akan menonton pertandingan La Liga di rumah kami dan tidak ada pertandingan yang lebih penting ketimbang El Clasico. Saat Real Madrid dan Barcelona bertanding melawan satu sama lain, semua paman dan sepupuku akan datang ke rumah kami. Seragam Raul akan mengisi ruang tamu, begitu juga dengan suara teriakan dan nyanyian selam 90 menit. Keluargaku semuanya adalah fans Real Madrid, tetapi, seperti yang aku katakan, dalam sepakbola, tidak ada yang mengaturku. Jadi aku memutuskan mendukung Barcelona. Sebagian karena aku ingin berbeda, tetapi sebagiannya lagi karena aku menyukai menonton permainan para pemain Brasil: Ronaldinho, Rivaldo dan favoritku sepanjang waktu, Romario. Namanya mirip dengan namaku, dan sebagai seorang anak-anak, itu sudah menjadi alasan yang cukup bagiku. Tetapi terlebih lagi, aku mengagumi keringanan pergerakan Romario di dalam kotak penalti – dia sangat gesit – dan ruang yang dapat dia ciptakan untuk dirinya sendiri.

Aku ingin menjadi seperti Romario. Tetapi semakin aku bertambah besar, aku menyadari bahwa tipe striker yang aku inginkan untuk menjadi bukanlah tipe striker yang dapat aku menjadi. Aku lebih besar dan lebih kuat ketimbang anak-anak lainnya, jadi aku menjadi nomor 9 sejati di lapangan. Beberapa anak mempunyai talenta dalam mendribble tetapi aku punya talenta dalam mencetak gol. Tidak peduli apakah dengan kaki kiriku, kaki kananku atau kepadalu, itulah yang aku pandai.

Tetapi tidak seperti anak-anak lainnya, aku sebenarnya tidak pernah berpikir aku dapat bermain sepakbola secara profesional. Itu terjadi begitu saja. Selangkah demi selangkah. Aku bertambah baik dan bermain untuk tim terbaik berikutnya, lalu yang berikutnya, lalu yang berikutnya..

Dan lalu suatu tahun, saat aku berusia sekitar 13 tahun, Stuttgart mendekatiku dan ayahku, dan bertanya apakah aku ingin bergabung dengan mereka. Pergi ke akademi top akan menjadi impian banyak pesepakbola muda tetapi aku hanya ingin dekat dengan rumah, dengan teman-temanku dan keluargaku. Aku hanya merasa waktunya belum tepat bagiku untuk pergi. Aku ingin menyelesaikan sekolah di kota asalku. Aku tidak pernah berpikir, “aku harus melakukan ini, ini dan ini,” agar dapat bermain secara profesional.

Beberapa tahun berikutnya, setelah aku dan tim lokalku kalah dari Stuttgart 7-0, manajernya mendatangiku sekali lagi – kali ini, dengan senyuman di wajahnya.

“Apakah bahkan sampai saat ini, kami tidak bisa meyakinkanmu untuk datang?”

Aku menyadari di mana aku bermain itu penting dan akhirnya aku memutuskan bergabung dengan Stuttgart. Mereka adalah klub yang lebih kuat yang menyediakan lebih banyak kesempatan. Aku siap bermain di tingkat berikutnya.

Sekarang ini, akademi-akademi sudah berbeda banyak. Sekarang ini semuanya mengenai sepakbola saja. Tetapi saat aku masih di sana, kami punya sedikit lebih banyak waktu luang. Aku berkesempatan tinggal di apartemenku sendiri, benar-benar belajar mengurus diri sendiri – tidak hanya sebagai seorang pesepakbola tetapi juga sebagai seorang remaja.

Segera aku belajar apa artinya menjadi seorang lelaki di lapangan juga. Setelah bermain baik bersama tim muda aku di bawa ke tim kedua Stuttgart dan kemudian, akhirnya ke tim senior. Pelatih kami adalah seseorang yang keras – banyak latihan, banyak berlari. Suatu hari, dia mendatangiku dan memberitahuku aku akan bermain di pertandingan Liga Champion kami melawan Chelsea.

Aku masih berusia 18 tahun dan selama 10 menit aku berada satu lapangan dengan Frank Lampard. Sentuhan pertamaku adalah saat melawan Marcel Desailly.

Luar biasa! Pikirku. Aku bukan anak-anak lagi.

Tetapi jalanku masih panjang. Ada banyak hal yang harus dilakukan untuk menjadi seorang striker bagus. Pelatih pertama yang benar-benar mengubah karirku adalah Giovanni Trapattoni. Saat dia datang ke Stuttgart, dia tidak berkata apa-apa ke kami para pemain muda. Tidak satupun kata. Dia ramah, tetapi yang kami dapatkan hanya “selamat pagi” atau saat latihan selesai “selamat malam.”

Minggu demi minggu berlalu. Tidak ada yang terjadi. Tidak ada senyuman. Tidak ada acungan jempol.

Dan lalu sekitar empat minggu setelah dia tiba, Giovanni menyuruhku datang ke kantornya setelah latihan selesai. Aku tidak tahu buat apa dia mencariku.

“Dengar, Mario,” katanya, “Aku sudah memperhatikanmu selama empat minggu sekarang dan aku sangat terkesan, tetapi aku pikir kita harus meningkatkan beberapa hal darimu. Dan jika kita bisa meningkatkan beberapa hal tersebut, kamu akan menjadi striker berikutnya untuk tim nasional Jerman.”

Setelah berminggu-minggu dalam kediaman, Giovanni tiba-tiba saja membongkar esensiku sebagai seorang pemain hanya dalam beberapa kalimat pendek. Dan mulai dari hari itu, setelah setiap sesi latihan, dia akan tetap tinggal sampai larut bersamaku dan dua pemain muda lain hanya untuk meningkatkan beberapa hal yang telah kami bicarakan. Giovanni adalah orang pertama yang membuatku merasa sebagai seorang pesepakbola profesional. Dan meskipun dia meninggalkan Stuttgart hanya dalam beberapa bulan, dia memberikan kesan mendalam bagiku. Dalam minggu-minggu terakhir musim tersebut, aku mendapatkan langkahku – begitu juga dengan tim kami. Stuttgart memenangkan Bundesliga dan aku dipanggil oleh tim nasional Jerman, seperti yang Giovanni katakan.

Dan lalu aku menerima sebuah panggilan telepon.

Aku sedang mengemudikan mobil dan sebuah nomor tidak dikenal muncul di layar ponselku. Jadi aku menepi ke sisi jalan dan menjawab.

“Halo, Mario,” kata suara tersebut. “Aku adalah seorang reporter untuk majalah Kicker dan aku ingin memberitahukan padamu bahwa kamu terpilih sebagai Pesepakbola Jerman Terbaik di tahun 2007.”

Aku terkejut. Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Sejujurnya, hal paling penting bagiku adalah Stuttgart juara lagi setelah bertahun-tahun duduk di peringkat kelima atau keenam di liga. Aku adalah bagian dari kesuksesan tersebut. Penghargaan tersebut, membuatku diincar berbagai klub. Aku merasa aku akhirnya tiba di sepakbola profesional.

Tetapi aku menyadari dengan cepat karena hal tersebut, datang banyak tekanan dan harapan – yang meningkat lagi di tahun 2009 saat aku dibeli oleh Bayern Munchen, klub terbesar di Bundesliga – salah satu klub terbesar di dunia – yang menjadi rekor transfer pada saat itu.

Saat aku tiba di Bayern Munchen, aku ingin memperlihatkan pada semua orang apa yang bisa aku lakukan. Tetapi keadaan tidak berjalan seperti yang aku harapkan. Aku belajar bahwa tidak semua manajer itu sama. Dan tidak semua klub juga sama.

Aku tidak cocok dalam formasi dan aku tidak yakin aku akan menjadi lebih dari sekadar pemain cadangan. Jika aku jujur, aku meminta untuk pergi beberapa kali. Tetapi presiden klub menyuruhku untuk bersabar.

“Waktumu akan tiba,” dia memberitahku.

Sementara itu, aku berlatih dengan kemarahan dan frustasi. Bagiku, kesenangan dari sepakbola menjadi hilang. Untuk pertama kalinya, sepakbola tidak membuatku senang.

Tetapi sepakbola adalah sebuah olahraga gila. Setiap orang yang menonton pertandingan tahu hanya dibutuhkan satu momen – berada di tempat yang tepat di waktu yang tepat – untuk mengubah segalanya. Begitu juga di luar lapangan.

Dan setelah permulaan burukku, manajer kami menginginkan sebuah perubahan.

Suatu hari, Louis Van Gaal berjalan ke arahku. “Kamu mendapatkan kesempatan sekarang,” dia berkata, tersenyum. “Tergantung dirimu sendiri apakah kamu akan menggunakannya atau tidak.”

Hanya itu yang dikatakannya. Aku mulai bermain di pertandingan sebagai pemain inti lagi.

Segera saja, aku menemukan posisiku di lapangan dan kepercayaan diriku. Musim berikutnya, aku menjadi pencetak gol terbanyak di liga. Tetapi lebih dari trofi-trofi, ada satu hal yang benar-benar membuat perbedaan untuk seorang pemain – khususnya seorang striker – di luar lapangan: kepercayaan dari pelatihmu. Di akhir musim kedua kami bersama, Van Gaal mendatangiku lagi.

“Kamu tahu apa yang terjadi di antara kita, tetapi aku selalu jujur dan memberitahumu apa yang aku pikirkan,” dia memberitahuku. “Tetapi sekarang, kamu tidak hanya mencetak gol, kamu melakukan semua hal yang aku harapkan dari seorang striker. ‘Apakah seharusnya aku memainkan dia atau tidak?’ bukan lagi sebuah pertanyaan yang aku tanyakan pada diriku sendiri.”

Itu adalah salah satu kemenangan terbesar dalam karirku.

Dalam satu tahun, aku sudah mengubah pemikiran Van Gaal sepenuhnya mengenai diriku sebagai seorang pemain. Yang terpenting, saat keadaan tidak mudah bagiku, aku belajar bagaimana mengatasinya.

Sebagai striker, terkadang kami mendapat banyak kesedihan dari para fans dan jurnalis, mungkin lebih banyak ketimbang pemain lainnya di lapangan. Jika kamu gagal mencetak gol, kamu adalah orang jahat. Tetapi, bagiku, itu bukan tidak adil, itu hanya bagian dari permainan. Bermain sebagai striker adalah pekerjaan terbaik di dunia – karena di sisi lain, jika kamu mencetak gol di menit ke 90 setiap orang anak meneriakkan namamu. Dan itu adalah momen yang aku kejar setiap minggu, saat aku melangkah ke lapangan, saat aku masuk ke kotak penalti.

Bagiku, semuanya terjadi di dalam kotak penalti tersebut. Aku tidak akan pernah menjadi seorang striker yang membawa bola dari bawah, melewati para bek. Aku tidak akan pernah menjadi Jay-Jay atau Romario. Alih-alih, aku berada di dalam kotak penalti dan menunggu waktuku.

Tempat yang tepat. Waktu yang tepat.

Di Jerman, kami mengatakan hal terpenting bagi seorang striker adalah mempunyai “hidung” – untuk mencium darimana bolanya datang. Dan kami beruntung karena di Jerman kami punya salah seorang striker terbaik di negara kami yang bisa melakukan hal tersebut – Thomas Muller. Dia selalu tahu darimana datangnya bola. Kalian akan melihat dia berlari dan bolanya akan tiba di kakinya. Aku pikir aku punya talenta ini juga. Bagian tersulitnya adalah masuk ke dalam pikiran para pemain tengahmu. Apa yang dia lakukan? Apa yang sedang dia pikirkan?

Kamu juga mencoba memahami pertahanan lawanmu. Terkadang kamu akan melawan kiper-kiper seperti Casillas – the “penalty killer” (si pembunuh penalti) seperti yang banyak dari kami sebut dirinya. Terkadang, ada satu bek yang selama 90 menit, menghancurkanmu.

Ada satu bek yang selalu ada dipikiranku.

Nemanja Vidic.

Aku tidak berpikir aku akan pernah melupakan bermain melawan dia saat dia sedang dalam masa jaya di Manchester United atau saat Jerman dan Serbia bertanding satu sama lain. Selama 90 menit, dia akan menghancurkanku. Sampai hari ini aku tidak mengerti bagaimana seorang laki-laki dengan tinggi 190cm dan dengan berat badan hampir 90 kilo bisa berada di mana saja.

Kelihatannya ke manapun aku pergi, dia sudah ada di sana menungguku. Aku balik ke kanan dan dia akan ada di sana. Aku balik ke kiri dan dia sudah memotongku. Bahkan jika aku berhasil melewatinya, sedetik kemudian dia sudah berada di depanku, menahan tendanganku.

Sebagai seorang striker, pekerjaanmu kebanyakan adalah melupakan. Saat kamu punya seseorang seperti Vidic menjagamu dan menderita selama 89 menit, yang harus kamu lakukan adalah lupakan segalanya. Lupakan 89 menit itu. Karena di menit ke 90, kamu mungkin akhirnya mendapatkan kesempatanmu.

Aku cukup baik dalam hal ini di karirku.

Kecuali masih ada satu pertandingan yang tidak bisa aku lupakan.

Bahkan sekarang ini, aku rasa aku tidak bisa menjelaskan final Liga Champion 2012 melawan Chelsea dan apa arti kekalahan itu bagiku. Semua mengenai pertandingan itu terus ada dalam ingatanku, sampai cuacanya. Saat itu harinya indah – seolah-olah sudah tertulis untuk kami. Kami telah mendominasi semua tim yang melawan kami. Sejujurnya, kami mungkin bukan para pemain terbaik di dunia pada saat itu tetapi kami tidak dapat dihentikan. Yang terpenting lagi, kami bermain di Munchen, di depan para fans kami dan lapangan kami.

Pertandingan itu milik kami. Kami memegang kendali sepanjang pertandingan tetapi skornya imbang 0-0 sampai menit ke 83. Itulah menit di mana sebuah gol dari Thomas Muller membuat kami unggul. Dan lalu, saat pertandingan tersisa dua menit lagi, Didier Drogba menyundul bola masuk ke gawang kami. Kami tidak bisa bangkit kembali dan pada akhirnya kalah 4-3 di adu penalti.

Pertandingan tersebut masih hari paling menyedihkan dalam karirku. Setelah semua yang kami lakukan, tidak menjadi tim yang mengangkat trofi rasanya berat. Rasanya masih berat.

Permainan ini dapat sangat mengurasmu, jadi setelah musim berikutnya – bahkan setelah Bayern memenangkan treble untuk pertama kalinya, aku tahu aku sudah siap untuk sebuah perubahan. Aku melakukan operasi pergelangan kaki di musim panas tahun 2012 dan butuh waktu cukup lama untukku untuk kembali ke diriku semula. Tetapi saat aku kembali, aku berbagi posisiku dengan Mario Mandzukic. Dia sebenarnya adalah salah satu pencetak gol terbanyak di Bundesliga pada musim tersebut. Dan aku pikir itulah alasan kenapa kami sangat sukses di tahun tersebut – karena kami semua melakukan apapun yang harus kami lakukan untuk tim.

Tetapi datang dari Stuttgart ke Munchen, aku menyadari apa yang diperlukan untuk menjadi seorang striker pada tingkat tersebut. Dan itu sangat sulit di klub seperti Bayern. Kamu harus memberikan 100% setiap hari. Taruhan dan harapannya selalu tinggi. Dan meskipun aku punya kesempatan bermain untuk klub-klub terbaik di Eropa, aku ingin mengambil satu langkah mundur dan benar-benar memikirkan apa yang aku inginkan dari karirku – dan juga dari hidupku. Aku tidak pernah punya impian-impian besar menjadi seorang pesepakbola profesional atau bintang dari sebuah klub. Dan setelah memenangkan gelar-gelar liga dan trofi-trofi Liga Champion, dan berurusan dengan semua ekspektasi-ekspektasi yang datang, aku memutuskan bahwa aku ingin mencoba sesuatu yang lain.

Jadi aku pergi ke Italia, bermain untuk Fiorentina.

Kehidupan di Italia sempurna, la dolce vita (kehidupan yang manis/baik), seperti yang dikatakan mereka. Lalu aku mendapat cedera lutut dan istirahat selama lima bulan. Orang-orang mulai mempertanyakan diriku dan kenapa aku meninggalkan Jerman. Dia ke sana hanya untuk liburan. Dia tidak benar-benar ingin bermain lagi.

Sekali lagi, aku menemukan diriku melawan kembali harapan-harapan dan keraguan-keraguan. Tetapi saat aku akhirnya kembali, aku mencetak satu gol melawan Juventus – pertandingan terpenting di musim tersebut – dan mempunyai perasaan itu lagi, momen di mana bola meninggalkan kakiku dan masuk ke gawang..

Setelah setahun di Firenze dan cedera kedua memotong musimku menjadi lebih pendek, aku tahu sudah waktunya untuk sesuatu yang lain lagi. Aku cinta Italia – orang-orangnya, negaranya, semuanya indah. Aku tidak akan pernah menyesali waktuku di sana tetapi aku pikir permainanku menderita. Antusiasme dan fokusku berubah.

Aku ingin melupakan semuanya.

Jadi aku pergi ke Turki.

Hal yang aku pelajari dari para fans Turki adalah: Mereka ada di bumi ini untuk klub mereka. Setiap minggu, mereka hidup untuk klub mereka. Itu adalah pengalaman paling luar biasa dapat berada di sana dan bermain di depan mereka. Tetapi sekali lagi, orang-orang meragukan kenapa aku pergi ke sana. Bermain untuk Besiktas, aku melihat sebuah kesempatan di piala klub Eropa dan mungkin bahkan sebuah gelar. Banyak yang melihat itu sebagai akhir dari karirku tetapi itu ternyata adalah dorongan yang aku butuhkan. Aku pikir kehidupan mempengaruhi permainanmu di lapangan dan kehidupan di Istanbul memberikanku dorongan tersebut. Aku menggunakan energi tersebut dan hari di mana kami memenangkan liga, aku akhirnya merasakan kebahagiaan sebagai seorang pesepakbola lagi. Aku adalah pencetak gol terbanyak di liga dan Besiktas memenangkan kejuaraan untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun.

Meskipun aku selalu ingin merasakan budaya-budaya berbeda dan berpergian sambil bermain sepakbola, berada di Turki artinya jauh dari keluargaku di Jerman. Aku akan menelepon orang tuaku untuk memberitahu mereka aku baik-baik saja – terlepas dari apapun yang mungkin mereka baca di berita-berita – tetapi aku tahu kekhawatiran mereka tidak pernah hilang.

Sudah waktunya pulang ke rumah.

Aku pikir banyak orang yang bertanya-tanya kenapa aku membuat keputusan-keputusan yang aku lakukan. Tetapi semuanya tidak hanya sekadar sepakbola bagiku. Aku belajar ingin menjadi siapa diriku di luar lapangan juga. Untuk waktu yang lama, aku telah digambarkan dengan jumlah gol yang aku cetak. Aku tidak pernah punya sebuah kesempatan untuk duduk dan bertanya pada diriku sendiri, Apa yang benar-benar aku inginkan?

Aku tidak bisa mengatakan aku menyesali apapun, bahkan tidak waktuku di Fiorentina, yang banyak orang-orang katakan sebagai sebuah kegagalan. Karena meskipun.. secara profesional, Fiorentina mungkin menjadi salah satu tahun terburukku di lapangan. Tetapi itu adalah sesuatu yang aku butuhkan di luar lapangan.

Selama bertahun-tahun aku menjadi seorang pesepakbola profesional, aku pikir aku lupa alasan kenapa aku ingin bermain sepakbola dan kenapa sepakbola membuatku bahagia. Di Italia, aku duduk bersama istriku di rumah di Firenze menonton Jerman memenangkan Piala Dunia 2014. Sebagai seorang pemain muda, tugas nasional selalu terasa bagaikan.. sebuah tugas. Itu selalu ada, itu normal, itu adalah bagian dari pekerjaan.

Itu seharusnya menjadi istimewa, tetapi aku tidak pernah melihatnya seperti itu. Dan lalu aku melihat mereka mengangkat trofi tersebut di Brasil. Aku tidak ada di sana karena cedera. Dan aku langsung tahu saat itu aku tidak ingin kehilangan sebuah momen seperti itu lagi. Jadi di Italia, aku membuat sebuah keputusan – aku benar-benar menyadari.

Aku memberitahu diriku sendiri, Aku tidak ingin berakhir seperti ini. Aku harus bermain untuk negaraku lagi.

Aku fokus untuk sembuh dan bugar untuk Piala Eropa 2016. Banyak orang yang berpikir aku tidak akan dipanggil ke tim nasional tetapi aku membuktikan mereka salah. Aku bermain sebagai pemain inti di turnamen tersebut dan mencetak dua gol. Aku sudah sering memakai seragam Jerman tetapi musim panas itu, itu artinya sesuatu yang lebih.

Tentu saja, sedikit berbeda sekarang. Aku adalah salah satu pemain tertua di tim. Aku mencoba menjadi seorang kakak laki-laki, sama seperti Kevin Kuranyi dan Miroslav Klose ke aku dulunya. Aku ingat pertandingan pertamaku dan benar-benar mengikuti mereka.

Lebih dari apapun, aku ingin menjadi bagian dari skuad di Piala Dunia 2018 di Rusia. Sekarang ini, setiap momen aku berada di lapangan untuk Jerman adalah sesuatu yang spesial.

Aku pikir kebanyakan orang melupakan striker seperti diriku, nomor 9 sejati yang berada di depan kotak penalti. Bahkan aku ingin menjadi seorang pemain seperti Romario saat masih anak-anak. Sepakbola selalu mengalami perubahan, klub-klub menginginkan striker yang lebih kecil, yang dapat banyak bergerak.

Tetapi untukku, aku bisa menerimanya. Orang-orang dapat memberitahuku. “Oh, kamu tidak akan bermain lagi dalam waktu tiga atau empat tahun,” karena meskipun sepakbola selalu mengalami perubahan – tetap diperlukan seorang pemain di lapangan yang bisa berada di tempat yang tepat di waktu yang tepat dan menendang masuk bola ke gawang, meskipun tidak seanggun dan seringan Romario.

Aku sudah bermain untuk banyak klub dan untuk banyak manajer dan telah melalui banyak naik dan turun. Tetapi satu hal tidak pernah berubah. Dan itu adalah perasaan saat mencetak gol. Tidak peduli di manapun aku bermain atau seberapa tua diriku, itu adalah momen yang aku jalani selama 20 tahun. Itu adalah momen hidupku setiap minggu.

Aku harap aku bisa menjelaskannya. Aku harap setiap orang dapat merasakannya walau hanya sekali. Satu-satunya waktu aku mempunyai sebuah perasaan yang lebih kuat adalah saat aku menikahi istriku.

Mencetak gol adalah ledakan perasaan. Itu ada di sana segera – bam! Sebelum kamu menendang bolanya, kamu merasa berat kamu bagiakan 200 kilo. Lalu saat bola meninggalkan kakimu, melayang di udara dan masuk ke gawang.

Dan pada momen tersebut, kamu merasa tanpa beban.

(Artikel ini di tulis saat Mario Gomez bermain untuk Wolfsburg setelah Besiktas dan di tahun ini dia kembali ke Stuttgart)