Biografi Massimiliano Allegri

63
Massimiliano Allegri

Kepala Sekolah

MataNaga – Saat aku melihat tendangan Mario Mandzukic melekung melewati kiper Real Madrid, aku berpikir, Wow.. mungkin masuk.

Kemudian bola masuk ke dalam gawang, aku berpikir, OK, mungkin ini adalah kesempatan kami.

Gol tersebut tercipta karena sebuah rangkaian teknis mengagumkan dari para pemain kami dan juga sebuah penyelesaian yang indah dari Mandzukic.  Di dalam pikiranku, itu adalah sebuah gol yang tidak akan pernah terulangi lagi. Gol tersebut menunjukkan perbedaan yang dimiliki sebuah klub yang sampai ke sebuah final Liga Champion dengan klub yang tersingkir. Kalian tidak bisa sampai ke sana hanya karena hebat. Kalian juga harus spesial.

Kami punya pemain-pemain spesial. Sayangnya, Real Madrid punya lebih banyak pemain-pemain tersebut. Di babak kedua, aku tahu kami tidak punya perlengkapan atau bagian-bagian yang kami perlukan. Kami punya dua pemain yang sudah tidak kuat berdiri lagi karena cedera dan Real Madrid bermain dengan sangat pintar. Mereka bermain dengan santai. Mereka bermain dengan nyaman.

Untuk mencapai final, kalian memerlukan keberuntungan dan talenta. Untuk memenangkan final, kalian perlu menjadi tim terbaik. Dan ini mungkin kedengarannya aneh, tetapi sebenarnya aku pergi dari lapangan malam tersebut dengan pikiran yang damai. Karena aku tahu kami bukanlah tim terbaik di lapangan. Sesederhana itu.

Aku meninggalkan Cardiff bersama tim dan kembali ke Italia. Malam berikutnya, saat aku tiba di rumah, aku harus menanyakan pada diriku sendiri sebuah pertanyaan yang sangat sulit: Apakah ini akhirnya? Apakah sampai sejauh ini saja aku dapat membawa tim ini?

Aku bertanya-tanya apakah sudah saatnya aku menutup bab terakhir kisahku bersama Juventus. Sebagian dari diriku berpikir untuk mengundurkan diri secara terhormat pada hari seninnya.

Lalu aku memikirkan kembali alasan kenapa aku memutuskan menjadi seorang manajer pertama kalinya.

Untuk itu, kita harus kembali lagi ke waktu ketika aku masih berusia 14 tahun. Ketika aku masih seorang anak kecil. Aku adalah seorang anak pediam yang gembira. Kenangan-kenangan terbaikku adalah saat kakekku membawaku ke lapangan pacuan kuda di Livorno bersamanya. Sebagai seorang anak-anak, hanya itu semua yang dapat kuingat. Lapangan pacuan kuda, sepakbola dan mungkin makan malam bersama ibuku. Aku tidak menyukai sekolah tetapi sekolah belum terlalu serius pada saat itu.

Lalu ketika aku berusia 14 tahun, semuanya menjadi serius.

“Massi, kamu tidak boleh mangkir dari sekolah! Kamu harus ikut ujian! Kamu harus duduk diam dan belajar mengenai Napoleon!”

Aku benci hal tersebut.

Aku ingat saat duduk di dalam kelas pada suatu hari dan guru marah padaku karena sesuatu dan aku menyadari sesuatu. Aku ingat berkata pada diriku sendiri: Aku tidak ditakdirkan untuk menjadi seorang murid yang baik. Tetapi aku bisa menjadi seorang kepala sekolah yang baik.

Mungkin saja setiap manajer sepakbola bermimpi menjadi seorang kepala sekolah sebelumnya – il preside – mungkin saja.

Bahkan ketika aku bermain sepakbola di lapangan sebagai seorang remaja, aku ingin menjadi gurunya. Sejujurnya, mari katakan saja aku.. sedikit bandel, tidak patuh. (beberapa manajer mungkin punya kata yang lain untuk itu.) Aku pernah berdiskusi dengan semangat beberapa kali dengan pelatihku sendiri tetapi bukan untuk lebih sering bermain dan semacamnya. Alasannya adalah karena, bahkan pada saat itu, aku ingin tim bermain dengan caraku. Ketika aku pensiun sebagai pemain dan mengungkapkan keinginan untuk menangani tim sepakbola, ada banyak orang-orang yang berpikir aku tidak akan berhasil.

Bahkan saat pekerjaan pertamaku sebagai seorang manajer datang, aku menolak tawaran pertama yang aku terima, dari Pistoiese hampir 20 tahun yang lalu karena aku tidak ingin duduk di dalam sebuah kelas. Peraturannya saat itu adalah aku harus pergi ke sekolah pelatih sepakbola selama sebulan dan menghabiskan lima jam di dalam kelas setiap hari untuk mendapatkan lisensi seorang pelatihku. Aku kembali membayangkan saat aku berusia 14 tahun lagi – mimpi buruk! Sebaliknya, aku memilih pergi ke Coverciano di mana aku bisa mendapatkan lisensi dalam 15 hari. Aku hanya perlu duduk di kelas selama dua jam sehari dan sisanya aku boleh melatih.

Mungkin aku sedikit keras kepala tetapi aku pikir, khususnya saat ini ketika permainan seakbola sudah berubah, itulah yang aku perlukan. Media selalu membicarakan tentang formasi. Mereka membicarakan matematika.

3-5-2.

5-4-1.

4-2-3-1.

“Tuan Allegri, formasi apa yang akan kamu pilih? Kami harus tahu.”

Di dalam lapangan, semunya lebih rumit dari itu. 3-5-2 adalah 3-5-2 ketika timmu mendapatkan bola tetapi ketika timmu tidak mendapatkan bola, kalian mungkin memerlukan 5-4-1. Banyak lagi.

Yang terpenting adalah bentuk, disiplin dan insting. Aku rasa insting adalah yang paling penting. Saat aku tidak mempercayai instingku sendiri, saat aku meragukan diriku sendiri, itulah saat aku membuat kesalahan-kesalahan. Sebagai seorang manajer, kalian paling banyak belajar dari kegagalan. Ketika aku memikirkan momen paling penting dalam karirku, tidak ada hubungannya dengan scudetto atau Liga Champion.

Momen tersebut adalah hari ketika aku berjalan ke kantor di AC Milan dan aku dipecat. Hal tersebut tidak mengejutkan. Aku tahu akan akan didepak. Mereka melakukannya dengan hormat. Mereka memberitahuku secara langsung kalau aku tidak akan menjadi manajer klub mereka lagi. Tetapi hal tersebut juga tidak lantas membuatku tidak kecewa. Kalian tahu dalam pikiran kalian bahwa dipecat adalah bagian hidup dari seorang manajer tetapi hal tersebut tidak akan membuat kalian berhenti merasakannya, dalam hati kalian, kalian sudah gagal.

Ketika aku meninggalkan Milan, aku melihatnya sebagai sebuah kegagalan dalam pekerjaanku.

Terkadang aku dianggap seseorang yang dingin tetapi sebenarnya, itu adalah bagian dari keputusanku. Kalian harus sedikit melepaskan keterlibatan emosi sebagai seorang manajer untuk terus melangkah ke depan. Aku mencintai sepakbola dan aku menemukan kegembiraan dalam pekerjaanku – itu alasan kenapa aku selalu kembali bekerja setiap paginya – tetapi hal tersebut bukanlah kehidupanku selama 24 jam sehari. Waktu terpenting dalam hari-hariku, tidak peduli apapun itu, adalah jam 9 pagi.

Sebenarnya waktu terpenting dalam hari-hariku adalah jam 7 pagi ketika aku akan minum espresso ku. Tetapi waktu terpenting dalam hari-hariku yang kedua adalah jam 9 pagi, saat aku membawa anak laki-lakiku, Giorgio, ke sekolah. Mungkin sediki berbeda dengan manajer lain. Tetapi bagiku, aku tidak bisa menjadi seorang manajer pabrikan, aku tidak bisa menjadi seseorang yang bukan diriku. Aku hanya bisa menjadi diriku sendiri.

Ketika aku tiba di Juventus pertama kalinya tiga tahun yang lalu, aku tidak banyak merubah banyak hal awal-awalnya. Klub ini cukup sukses di bawah asuhan tuan Conte. Tetapi secara perlahan-lahan, saat pemain-pemain baru datang, aku mulai sedikit banyak merubah berbagai hal, membangun tim seperti yang aku inginkan – area di mana para pemain dapat bekerja sama, bagaimana kami menjadi lebih kuat lagi saat menyerang dan bagaimana kami dapat fleksible secara taktis.

Dan di musim itu, kami mencapai final Liga Champion bersama-sama. Terasa bagaikan malam pembukaan di La Scala (rumah opera terkenal di dunia yang terletak di Milan). Usaha yang kami lakukan. Jumlah orang yang menonton. Atmosfernya, emosinya. Antisipasinya. Tidak seperti yang lainnya. Bagaikan sebuah opera.

Andai saja pertandingan tersebut tidak berakhir dengan kekalahan dari Barcelona. Aku sangat kecewa tetapi aku pikir aku mendapat pelajaran dari kekalahan tersebut.

Ketika kami sekali lagi mencapai final Liga Champion melawan Real Madrid di musim yang lalu, aku benar-benar berpikir aku telah membenahi kekurangan kami dan apa yang perlu kami lakukan, secara teknis maupun taktis.

Khususnya ketika Mario mencetak gol briliannya, aku berpikir, mungkin inilah saatnya momen kami.

Jelasnya, bukan seperti itu yang terjadi.

Ketika aku pulang ke rumah setelah kekalahan itu, aku harus berpikir dengan keras apakah aku harus terus lanjut. Aku memikirkan alasan kenapa aku menjadi seorang manajer pertama kalinya. Aku juga memikirkan tentang kakekku. Dia adalah seorang laki-laki pekerja keras – seorang tukang batu. Ketika aku masih anak-anak, dia selalu berusaha tetap hadir dalam semua pertandingan sepakbolaku. Tidak penting apakah kami menang atau kalah. Dia tidak peduli dengan sepakbola.

Dia akan berkata, “Bel gioco, Massi. Ora vuoi andare a vedere i cavalli?”

(“Permainan yang baik, Massi. Jadi sekarang apakah kamu ingin pergi melihat kuda?”)

Dia bahkan tidak pernah menanyakanku tentang pertandingan. Yang dia pedulikan hanyalah apakah aku bersenang-senang dan bahwa dia ada di sana melihatku bermain.

Itulah nilai-nilai yang ada di dalam diriku. Ada banyak tekanan pada tingkat sepakbola seperti ini dan memang seharusnya seperti itu. Tetapi aku mencoba mengingat alasan kenapa aku menjalaninya. Aku tidak menganggap diriku sebagai seorang manajer. Aku menganggap diriku sebagai seorang pelatih tim muda.

Aku melakukan ini karena aku cinta mengajari. Itu adalah kegembiraan dalam hidupku. Aku suka bila dapat membuat pemain menjadi lebih baik dan lebih pintar.

Jadi ketika aku berpikir tentang skuad Juventus ini, keputusanku menjadi sedikit pribadi. Aku tahu aku masih punya banyak hal yang harus kubuktikan. Dan aku tahu aku masih punya banyak hal untuk diajarkan.

Jadi pada malam itu, sebelum aku tidur, aku memutuskan jika klub masih setuju dengan strategiku dan kami dapat memulai lagi bersama-sama maka aku akan tetap tinggal.

Keesokan harinya, pikiranku jernih. Aku pergi ke kantorku jam 7 pagi dan meminum espressoku. Ini adalah sebuah musim baru, dengan kesempatan-kesempatan yang baru. Banyak hal yang sudah dikatakan di media mengenai tim ini dan pemainnya. Apa yang dapat kami lakukan. Apa yang tidak dapat kami lakukan.

Aku melihat ke Paulo Dybala dan Gigi Buffon. Mereka dapat dikatakan adalah simbol dari tim ini.

Aku melihat Dybala yang bagaikan seorang anak cemerlang yang akan memulai tahun pertamanya di sekolah. Buffon, seorang juara Piala Dunia satu kali, bagaikan seseorang yang sedang mengejar gelar Masternya di universitas. Yang satu sedang memulai karirnya dan yang satunya lagi sedang mendekati akhir karirnya. Yang satu ingin menunjukkan bahwa dia dapat menjadi salah satu pemain hebat di Eropa. Yang satunya lagi sudah menjadi seorang pemain hebat tetapi ingin mengakhiri legasinya dengan berada di puncak.

Aku tahu kami dapat menghilangkan bekas luka kami dari Cardiff. Aku tahu kami bisa mendapatkan sebuah musim yang sangat bagus. Aku tahu kami bisa mendapatkan perjalanan di Liga Champion yang  sangat bagus.

Aku tahu seperti apa keesokan paginya. Dan pagi berikutnya lagi. Dan pagi berikutnya setelah itu.

Jadi saat ini kami akan terus bekerja. Kami akan berusaha sampai ke malam seperti malam pembukaan La Scala sekali lagi. Hal baik mengenai opera adalah akan selalu ada sebuah pertunjukan baru setiap tahunnya.