Dokter di New York, AS Dibuat Bingung Dengan Gejala Langka Pada Pasien Virus Corona

15
COVID-19
Ilustrasi. (Foto: Langgam.id)

Jakarta – Tim dokter dari New York, Amerika Serikat, melaporkan kasus tak biasa pada seorang pasien yang terinfeksi virus Corona COVID-19. Pasien adalah seorang dokter spesialis anestesiologi berusia 34 tahun tanpa ada riwayat penyakit penyerta.

Laporan yang dipublikasi di jurnal The Lancet mendeskripsikan pasien awalnya merasa sakit dan hasil tes menunjukkan positif influenza A. Setelah beristirahat selama 10 hari kondisinya membaik dan pasien kembali bekerja di fasilitas kesehatan.

Tak berapa lama, tiba-tiba saja pasien kembali jatuh sakit di sore hari saat bekerja. Ia langsung dibawa ke ruang gawat darurat dengan gejala demam, meriang, dan kesulitan bernapas. Pasien juga disebut mengalami reaksi badai sitokin, kondisi saat reaksi berlebih sistem imun menyerang sel tubuh yang sehat.

Timothy Harkin dari departemen pulmonologi di Mount Sinai Hospital menjelaskan hasil tes swab saluran napas atas pasien negatif untuk virus Corona COVID-19. Hasil pindaian menunjukkan paru-paru kanan pasien mengalami peradangan dengan ciri-ciri bulatan “halo” seperti infeksi jamur.

“Ciri-ciri peradangan ini sebelumnya tidak pernah dilaporkan dalam kasus-kasus COVID-19,” tulis laporan seperti dikutip dari SCMP, Rabu (20/5/2020).

Pasien sempat diberikan antibiotik dan terapi standar lain namun kondisinya tidak membaik. Dokter curiga pasien terinfeksi corona sehingga tes kembali dilakukan, namun lagi-lagi hasilnya negatif.

Akhirnya tim di Mount Sinai Hospital memutuskan memakai teknik bronchoalveolar lavage (BAL) untuk mengambil sampel lendir dan jaringan paru-paru pasien. Teknik BAL jarang dilakukan karena bersifat invasif.

Hasilnya baru ketahuan pasien positif terinfeksi virus Corona. Saat itu kondisinya pasien sudah sembilan hari dirawat di rumah sakit.

Laporan menggarisbawahi keanehan yang terjadi dalam kasus ini, di antaranya badai sitokin terjadi begitu cepat dan absennya virus di saluran napas atas.

“Untuk sebuah penyakit yang lima bulan lalu sama sekali tidak diketahui, kemungkinan… masih terlalu dini bagi klinisi bisa yakin gejala apa yang umumnya terjadi,” pungkas Timothy.