Kapan Pandemi Covid-19 Berakhir? Belajarlah dari Wabah Flu Spanyol 1918

16
Flu Spanyol
Flu Spanyol. (Foto: Vox)

Jakarta – 100 Tahun sebelum COVID-19, pandemi Spanish Flu terjadi sampai 3 gelombang. Ancaman gelombang kedua virus Corona mesti diwaspadai, jangan jatuh ke lubang yang sama.

Spanish Flu atau Flu Spanyol berlangsung selama 12 bulan dari musim semi 1918 sampai musim panas 1919. Washington Post memberitakan, 500 juta orang ketularan, korban jiwa sekitar 50 juta orang di seluruh dunia.

Yang banyak orang lupa adalah Flu Spanyol tidak datang sekali. Pandemi ini datang dalam 3 gelombang. Semua gara-gara mobilitas manusia yang tidak dibatasi, mendorong penyebaran Flu Spanyol.

Jeffery K Taubenberger dan David M Morens menulis jurnal medis berjudul 1918 Influenza: the Mother of All Pandemics yang diterbitkan US National Library of Medicine National Institutes of Health. Di situ mereka menuliskan bagaimana Flu Spanyol datang dalam 3 gelombang.

Gelombang pertama tercatat muncul di Amerika pada Maret 1918, meskipun tidak terlacak asalnya dari mana. Gelombang pertama relatif bersifat lokal lalu mereda. Data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika, Rabu (20/5/2020) mencatat ada 100 kasus di pangkalan militer Camp Funston, Fort Riley, Kansas.

Ketika mereda, di situlah orang-orang salah perhitungan, di sangka wabah flu ini selesai sepenuhnya. Kesalahan pertama adalah, Amerika saat itu terlibat Perang Dunia I tahun 1918, terjadilah mobilitas orang besar-besaran ke Eropa berupa pengiriman ratusan ribu tentara ke medan perang.

“Ratusan ribu tentara Amerika pergi menyeberangi Samudera Atlantik untuk berperang. Pergerakan tentara secara massal menyebabkan penyebaran flu secara global,” kata CDC.

Kesalahan kedua adalah menutupi informasi terkait wabah. Tidak boleh ada pemberitaan soal penyakit dan kematian pada media massa di Jerman, Inggris, Prancis dan AS gara-gara Perang Dunia I. Semua itu demi menjaga semangat tentara yang berperang.

Akibatnya fatal, tidak ada orang yang waspada dan terjadilah gelombang kedua Flu Spanyol pada September-November 1918 di seluruh dunia. Spanyol yang tidak ikutan perang, berani duluan memberitakan pandemi ini sehingga warga dunia mengira flunya berasal dari Spanyol.

“Gelombang kedua atau gelombang musim gugur menyebar global dari September ke November 1918 dan jauh lebih fatal,” kata Taubenberger dalam risetnya.

Senada dengan itu, CDC juga mengungkap data pandemi gelombang kedua jauh lebih berbahaya dari gelombang pertama. “Pandemi mencapai puncaknya di Amerika pada gelombang kedua, musim gugur 1918,” kata CDC.

Menurut CDC, pandemi gelombang ketiga terjadi musim dingin 1918 sampai musim semi 1919. Gelombang ketiga baru reda pada musim panas 1919.

“Sekitar 1/3 populasi dunia terinfeksi virus flu 1918, mengakibatkan setidaknya 50 juta kematian di seluruh dunia,” kata CDC.

Berkaca pada pandemi Flu Spanyol, dunia harus berhati-hati dengan COVID-19. Gelombang kedua Flu Spanyol terjadi di musim gugur akibat mobilitas manusia besar-besaran di musim panas.

Sedangkan saat ini, dunia bersiap-siap untuk pelonggaran lockdown menjelang musim panas 2020. Pemerintah, ilmuwan dan masyarakat harus berhitung betul dengan risikonya. Dunia jangan jatuh ke lubang yang sama di musim gugur mendatang.

Akibatnya fatal, tidak ada orang yang waspada dan terjadilah gelombang kedua Flu Spanyol pada September-November 1918 di seluruh dunia. Spanyol yang tidak ikutan perang, berani duluan memberitakan pandemi ini sehingga warga dunia mengira flunya berasal dari Spanyol.

“Gelombang kedua atau gelombang musim gugur menyebar global dari September ke November 1918 dan jauh lebih fatal,” kata Taubenberger dalam risetnya.

Senada dengan itu, CDC juga mengungkap data pandemi gelombang kedua jauh lebih berbahaya dari gelombang pertama. “Pandemi mencapai puncaknya di Amerika pada gelombang kedua, musim gugur 1918,” kata CDC.

Menurut CDC, pandemi gelombang ketiga terjadi musim dingin 1918 sampai musim semi 1919. Gelombang ketiga baru reda pada musim panas 1919.