Staf Ahli Ridwan Kamil Bercerita Bagaimana Bisa Sembuh dari COVID-19 dan Jadi Donor Plasma

17
Staf Ahli Ridwan Kamil Bercerita Bagaimana Bisa Sembuh dari COVID-19 dan Jadi Donor Plasma
Staf Ahli Ridwan Kamil Bercerita Bagaimana Bisa Sembuh dari COVID-19 dan Jadi Donor Plasma. (Foto: Pikiran Rakyat)

Bandung – Baru-baru ini, RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung sedang mengembangkan terapi plasma konvalesen untuk mempercepat penyembuhan pasien positif COVID-19. Ridwansyah Yusuf Achmad (32), salah satu donor plasma konvalesen turut berkontribusi dalam program terapi karena ia merupakan satu dari sekian banyak orang yang sempat tertular virus corona kemudian sembuh.

“Awalnya kan saya sempat kena (COVID-19) bulan Maret lalu. Sekitar dua minggu kemudian dinyatakan sembuh. Waktu itu saya dirawat di RSHS dan setelah pulang dikontak oleh dokter, ditawarkan untuk mendonorkan plasma darah saya,” kata Yusuf, sapaan akrabnya saat dihubungi detikcom, Jumat (26/6/2020).

Dia menceritakan, dengan usianya yang masih terbilang muda, ia memberanikan diri untuk mendonorkan plasma darahnya. Karena dia percaya dari satu labu darah plasma konvalesen (darah kuning) yang ia donorkan dapat menyelamatkan satu nyawa manusia.

“Saat ditawarkan oleh dokter, saya tanya buat apa? Lalu mereka katanya sedang pengembangan menggunakan plasma darah untuk membantu pasien COVID-19 yang membutuhkan. Saya bilang bersedia dan saya ikuti semacam prosedur tambahan,” ujarnya.

Yusuf yang sekaligus staf ahli Gubernur Jabar Ridwan Kamil hubungan internasional itu menceritakan prosedur yang telah ia lewati untuk dapat mendonorkan plasma darahnya. Dari mulai swab tes ulang untuk menentukan tidak ada virus yang tersisa hingga pengecekan darah di laboratorium.

“Alhamdulillah dari swab tes negatif, lalu saya dicek darah untuk pengetesan kondisi tubuh dan beberapa analisa lainnya. Kemudian setelah itu baru diperbolehkan dan layak untuk mendonorkan plasma konvalesen,” imbuhnya.

Pelaksanaan donor dilakukan di PMI Kota Bandung yang berada di Jalan Aceh. Menurutnya, para petugas pengambil darah menggunakan standar alat pelindung diri (APD) dan memberikan kenyamanan selama proses pengambilan darah. Dia mengaku, tidak merasa khawatir saat memberikan plasma darahnya meskipun baru dinyatakan sembuh dari virus yang mematikan ini.

“Kekhawatiran tidak ada, cuman ini baru pertama kali jadi pengalaman yang berbeda. Selama 45 menit tangan tidak bergerak dan jarum yang dipasang cukup besar, karena sebelumnya belum pernah melakukan donor darah. Ukurannya 400 cc darah kuning yang diambil,” tuturnya.

Sekitar dua minggu kemudian, Yusuf bisa melakukan donor lagi jika masih dibutuhkan oleh pihak rumah sakit.

“Sekitar dua minggu, kalau dibutuhkan bisa donor lagi. Setelah donor juga saya masih bisa melakukan aktifitas seperti biasa, jadi normal-normal saja,” katanya.

Dia berharap tidak hanya dirinya yang dapat turut bergabung dalam membantu pasien positif di rumah sakit.

“Buat kawan-kawan yang sudah sembuh mungkin bisa dimanfaatkan program plasma konvalisen ini karena di RSHS sedang diterapkan dan mudah-mudahan bisa membantu sebagian orang untuk bisa sembuh dari COVID-19,” jelasnya.

Sebelumnya, Yusuf menjadi salah satu dari 27 orang yang dinyatakan sembuh dari infeksi COVID-19 di RSHS Jawa Barat. Dia masuk dalam klaster Musda Hipmi di Karawang dan diisolasi selama 14 hari di Hasan Sadikin.

Yusuf menceritakan awal mula dirinya ketahuan terinfeksi COVID-19. “Saya tanggal 15 Maret cek lab dengan Gubernur, niatnya untuk ujicoba Labkes Jabar, karena di hari itu kan mulai ada kebijalan pro aktif test. Hasilnya saya positif,” ujarnya yang mengaku tak merasakan gejala apapun sebelum diterkonfirmasi positif COVID-19.

Disinggung mengenai kemungkinan ia tertular di mana, Yusuf mengaku tak mau ambil pusing untuk mencari tahu. Sebelum Musda Hipmi yang digelar 9 Maret, ia mengaku bertemu dengan banyak orang dari luar negeri karena tuntutan pekerjaannya. “Sebelumnya kan saya dengan Pak Gubernur juga baru dari Australia, pulang tanggal 1 Maret,” tuturnya.

Selanjutnya sehari setelah dinyatakan positif, ia pun dijemput dengan ambulans untuk diisolasi di RS Hasan Sadikin. Sopir dan petugas mengenakan ADP lengkap. “Saya pasien positif ke-11 di Jabar, ke seratus tiga puluh sekian di Indonesia,” kata Yusuf yang merupakan Tim Akselerasi Pembangunan (TAP) Jabar.

Kini, Yusuf sudah dinyatakan sembuh dan sudah mulai beraktifitas seperti sedia kala.