Negara Kaya Berlomba Borong Vaksin Corona, Negara Miskin Harus ‘bersabar’ Menunggu Giliran

18
Vaksin Corona
Negara Kaya Berlomba Borong Vaksin Corona, Bagaimana Nasib Dunia?. (Foto: Fajar)

Jakarta – Seiring perkembangan vaksin COVID-19 yang semakin maju, puluhan negara kaya dilaporkan melakukan perjanjian dengan perusahaan farmasi. Hal ini dikhawatirkan ahli akan membuat ketimpangan distribusi vaksin di dunia. Negara miskin mungkin harus ‘bersabar’ menunggu gilirannya mendapat vaksin.

“Ada risiko negara-negara melakukan apa yang sudah kita takutkan sejak lama. Semuanya berjuang demi diri sendiri,” kata mantan kepala agensi USAIDS, Gayle Smith, seperti dikutip dari Reuters pada Kamis (30/7/2020).

Amerika Serikat (AS) misalnya diketahui sudah memborong suplai 100 juta kandidat vaksin Corona dari perusahaan farmasi BioNTech dan Pfizer. Inggris Raya dan Uni Eropa (EU) juga mengamankan stok kandidat vaksin dari GlaxoSmithKline, Sanofi, AstraZeneca, dan Moderna.

Organisasi kemanusiaan internasional Medecins Sans Frontieres (MSF) berkomentar tren nasionalisme terkait pengadaan vaksin ini berbahaya. Alasannya karena menghentikan pandemi Corona COVID-19 ini tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri.

Selama masih ada wilayah yang belum bisa bebas dari Corona, maka aktivitas seperti perdagangan dan turisme secara global tidak akan bisa benar-benar kembali normal.

Seth Berkley dari koalisi COVAX berjuang mengamankan akses cepat dan adil terhadap vaksin COVID-19. Diprediksi bila uji klinis berjalan lancar maka dunia bisa memiliki sekitar 2 milyar dosis vaksin dari berbagai kandidat di akhir tahun ini.

COVAX berharap bisa membagikan sekitar 20 persen vaksin tersebut pada populasi negara anggotanya yang terdiri dari sekitar 75 negara kaya dan 90 negara miskin.

“Tapi bila kemudian Anda berusaha hanya memvaksinasi AS dan EU, sebagai contoh tiap orang dapat dua dosis, maka dibutuhkan sekitar 1,7 milyar dosis vaksin. Bila yang tersedia sesuai prediksi, maka sisanya tidak akan cukup untuk yang lain,” kata Seth.

Skenario negara berebut vaksin ini dijelaskan pernah terjadi saat flu burung H1N1 mewabah. Hanya saja kala itu penyakit flu burung sifatnya lebih jinak sehingga dapat dikendalikan hingga akhirnya reda. Dunia tidak terlalu mengalami dampak buruk dari ketidakseimbangan distribusi vaksin.

COVID-19 kemungkinan besar tidak akan seperti skenario flu burung. Beberapa ahli khawatir ketimpangan distribusi vaksin hanya akan memperpanjang pandemi dan kerugian karenanya.