Flu Spanyol Juga Pernah Melanda Indonesia, Penularannya Sangat Cepat dan Mematikan

17
Flu Spanyol
5 Fakta Pandemi Flu Spanyol yang Juga Pernah Melanda Indonesia. (Foto: ERA.ID)

Jakarta – Virus Corona COVID-19 bukan satu-satunya pandemi yang dihadapi dunia dan Indonesia khususnya. Pada 1918, flu spanyol juga menyebar luas ke segala penjuru dunia di tengah berkecamuknya perang dunia.

Ada banyak kemiripan antara flu spanyol dengan COVID-19, salah satunya punya gejala mirip influenza. Penularannya juga sangat cepat dan mematikan.

Syefri Luwis, seorang peneliti sejarah wabah di Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa kemunculan flu spanyol di Indonesia juga sempat bikin geger pada zamannya. Seharusnya, ada banyak hal yang bisa dipelajari dari pengalaman masa silam.

“Sekitar 102 tahun yang lalu, kita sudah pernah mengalami flu spanyol. Akan tetapi, masyarakat sekarang bertindak seolah-olah baru mengalami kejadian ini,” kata Syefri dalam diskusi di BNPB.

Berikut 5 fakta flu spanyol yang melanda Indonesia 100-an tahun silam.

1. Memakan banyak korban jiwa

Sebuah penelitian menjelaskan bahwa flu Spanyol telah memakan sekitar 20-100 juta korban jiwa di seluruh dunia. Penelitian baru dari Prof Siddharth Chandra, seorang direktur di Michigan State University menjelaskan bahwa di daerah Jawa dan Madura, kurang lebih ada 4,37 juta korban jiwa dari jumlah penduduk sekitar 60 juta orang.

2. Terjadi dalam dua gelombang

Ravando Lie, seorang kandidat Doktor Sejarah di University of Melbourne menjelaskan bahwa pandemi flu spanyol terjadi dalam dua gelombang. Pada saat gelombang pertama, diperkirakan belum berbahaya. Namun, gelombang kedua telah mematikan banyak korban.

“Pada gelombang pertama, disebutkan bahwa masyarakat Hindia Belanda (Indonesia) tak perlu khawatir karena virus ini tak separah wabah virus influenza akhir abad-19. Namun, pada gelombang kedua justru mematikan jutaan orang sehingga pemerintah Hindia Belanda membentuk komisi investigasi untuk penyebaran virus ini,” jelas Ravando, dalam diskusi di BNBP Indonesia.

3. Banyak dibayangi hoax

Rupanya tren peredaran hoaks sudah ada sejak tahun 1918. Ravando menjelaskan bahwa saat pandemi flu spanyol terjadi, banyak hoaks yang beredar untuk kepentingan pribadi. Salah satunya adalah hoaks yang dibuat oleh tukang lele di Wonogiri, bahwa konsumsi ikan lele bisa menangkal virus flu spanyol. Hal ini membuat stok lele ludes dan harga melonjak berkali lipat.

Selain itu, terdapat juga hoaks di Purwokerto mengenai seseorang yang mengaku bahwa ia ditemui oleh Nyi Roro Kidul, sehingga memiliki kekuatan menangkal penyakit flu spanyol. Hal ini membuat masyarakat mendatangi rumahnya dan menyumbang untuk didoakan.

4. Protokol kesehatan kurang ditaati

Para dokter pada masa itu menyarankan untuk tidak melakukan kumpul-kumpul atau melakukan lockdown guna mengurangi penyebaran penyakit flu spanyol. Akan tetapi kalangan kehakiman menolak aturan itu dengan alasan lockdown dapat membuat kekacauan dan kebingungan di masyarakat.

Tak hanya itu, diterapkan juga hukuman kurungan jika melanggar tata cara, seperti menaikan dan menurunkan penumpang, melakukan kegiatan angkut barang di pelabuhan. Namun, rumusan protokol itu menimbulkan ketegangan di antara para pengusaha.

5. Mengandalkan riset ilmiah

Ravando menceritakan pada saat itu, strategi melakukan penelitian ilmiah bisa menjadi salah satu terobosan penting, dengan cara menyebarkan kuesioner pada dokter di Hindia Belanda. Terkumpul 83 hasil kuesioner guna mengetahui penanganan yang berbeda-beda di berbagai wilayah. Dengan demikian, penelitian ini dapat menemukan cara terbaik untuk menanggulangi adanya flu spanyol.