Banyak Misinformasi yang Beredar di Masyarakat Terkait Virus Corona, Salah Satunya Jaringan 5G

30
Corona Virus
Studi Sebut Profesi yang Paling Banyak Sebarkan Klaim Palsu Soal Virus Corona. (Foto: Foreign Policy Research Institute)

Jakarta – Peneliti dari Reuters Institute di Oxford University menemukan sebagian besar yang terlibat dalam menyebarkan informasi yang salah mengenai virus Corona adalah mereka yang berprofesi sebagai politisi, selebriti, dan influencer.

Dalam laporan yang diterbitkan pada April lalu, mereka menemukan bahwa 20 persen dari tokoh publik, selebriti, dan politisi bertanggung jawab atas klaim palsu mengenai virus Corona, namun 69 persen dari klaim mereka beredar di media sosial.

Salah satu misinformasi yang paling banyak beredar adalah teori konspirasi bahwa jaringan 5G berkontribusi terhadap penyebaran virus Corona. Meski para ahli telah menyebut klaim tersebut tidak berdasar, masih banyak public figure yang tetap mempercayainya.

“Mereka memiliki jangkauan yang luas untuk konten yang akan mereka sebarkan. Klaim paling umum berkaitan dengan kebijakan publik, meski kami juga melihat banyak informasi yang salah soal informasi kesehatan (mengenai COVID-19),” tutur Scott Brennen, seorang peneliti dari Reuters Institute, dikutip dari The Guardian.

Sebut saja aktor Woody Harrelson dan rapper MIA yang memposting mengenai kecurigaan mereka soal penyebaran COVID-19 melalui akun sosial media mereka, meski tak lama dihapus.

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa klaim palsu dari Presiden AS Donald Trump menjadi sampel paling besar yang memperlihatkan bahwa ‘politisi’ memegang pengaruh yang sentral terhadap misinformasi soal COVID-19. Perusahaan-perusahaan teknologi seperti Google, Facebook, Twitter, dan TikTok sedang mencoba untuk menindak penyebaran informasi menyesatkan dari platform mereka, bahkan dari para politisi.

Selain itu, peneliti di Reuters Institute juga menyebut agar tidak ‘meremehkan’ pengaruh dari misinformasi yang disebarkan oleh masyarakat umum di sosial media mereka. Sebab kelompok ini juga memerankan peranan yang cukup besar dalam menyebarkan informasi tidak benar mengenai COVID-19.

“Anggota masyarakat juga tampaknya memiliki banyak alasan untuk berbagi informasi yang salah,” tulis laporan tersebut.

Sebelumnya laporan lain dari King’s Collage London menunjukkan adanya hubungan antara informasi salah yang disebarkan dan kepatuhan menjalankan tindakan pencegahan COVID-19. Mereka menemukan orang yang percaya klaim palsu cenderung mengabaikan protokol kesehatan agar tidak tertular COVID-19.