COVID-19 Mengganas, Prancis dan Jerman Lockdown Lagi

29
Prancis dan Jerman Lockdown Lagi
Jerman dan Perancis menutup kembali perbatasan. (Foto: The Guardian)

Jakarta – Kasus COVID-19 di beberapa negara yang sebelumnya sukses ditekan hingga tak ada lagi transmisi lokal, kini kembali mencatat rekor. Beberapa di antaranya memilih kembali lockdown.

Banyak negara Eropa yang kembali menghadapi gelombang baru COVID-19. Gelombang baru COVID-19 dikhawatirkan lebih buruk dibandingkan gelombang pertama COVID-19.

Seperti yang dialami Prancis dan Jerman, negara tersebut memilih kembali lockdown. Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Angela Merkel pada Rabu (28/10/2020), memerintahkan negaranya kembali lockdown.

Bahaya gelombang besar COVID-19 disebut mengintai beberapa negara tersebut karena akan memasuki musim dingin.

“Virus itu beredar dengan kecepatan yang bahkan tidak diantisipasi oleh perkiraan yang paling pesimistis,” kata Macron dalam pidato yang disiarkan televisi, dikutip dari Reuters.

“Seperti semua tetangga kami, kami tenggelam oleh percepatan virus yang tiba-tiba,” lanjutnya.

Gelombang kedua COVID-19 di Jerman dan Prancis
“Kita semua berada di posisi yang sama dibanjiri gelombang kedua yang kita tahu akan lebih sulit, lebih mematikan daripada gelombang pertama,” kata Macron.

Menilai gelombang baru COVID-19 lebih berbahaya, Prancis mulai memberlakukan lockdown pada Jumat pekan ini. Sementara Jerman akan menutup menutup bar, restoran, dan teater mulai 2 hingga 30 November mendatang.

“Saya telah memutuskan bahwa kita harus kembali ke penguncian yang menghentikan virus,” katanya.

Aturan baru saat lockdown lagi
Warga Prancis diminta untuk tinggal di rumah kecuali kebutuhan mendesak membeli barang-barang penting. Seperti kebutuhan medis atau berolahraga hingga satu jam sekali.

Mereka akan diizinkan untuk pergi bekerja jika perusahaan mereka menganggap tidak mungkin untuk kerja dari rumah. Sekolah akan tetap buka.

Siapa pun yang meninggalkan rumah mereka di Prancis sekarang harus membawa dokumen yang memperbolehkan mereka berada di luar dan diperiksa oleh polisi setempat.

Apa yang terjadi?
Kasus Prancis kembali melonjak di atas 36.000 kasus baru setiap hari. Jerman, yang tidak terlalu terpukul dibandingkan tetangganya di Eropa awal tahun ini, mengalami peningkatan kasus secara eksponensial.