Penemuan Vaksin Teranyar Berikan Harapan untuk Hadapi Pandemi COVID-19

17
vaksin covid
Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia)

Matanaga – Harapan dunia untuk mengalahkan pandemi virus corona semakin meningkat pada hari Senin (16/11) kemarin, setelah sebuah vaksin memiliki data keefektifan 95 persen dari uji klinisnya, memberikan keoptimisan yang sangat diperlukan dalam melawan tingginya jumlah infeksi dan berbagai aturan pembatasan yang menyiksa.

Kabar dari perusahaan bioteknologi Amerika Serikat, moderna, datang setelah hasil serupa diumumkan oleh perusahaan raksasa Pfizer, yang bekerja sama dengan BioNTech dari Jerman untuk menemukan vaksin lainnya.

Sebagai imbasnya, terjadi peningkatan pasar saham yang luar biasa pada hari Senin kemarin, yang dibangun oleh kabar dari Pfizer pada sepekan sebelumnya.

Ahli penyakit menular terbaik Amerika Serikat, Anthony Fauci, memberi pujian atas hasil ini, mengatakan kepada AFP bahwa data yang mereka terima telah melebihi ekspektasi. “Ide bahwa kami memiliki vaksin efektif 94,5 persen benar-benar sangat impresif,” katanya.

Moderna, yang mendapatkan hasil dari uji klinis yang melibatkan lebih dari 30 ribu peserta, memperkirakan bahwa mereka bisa memproduksi sekitar 20 juta dosis vaksin yang siap untuk dikirimkan ke Amerika Serikat pada akhir tahun.

Namun demikian, vaksin apa pun masih jauh dari jangkauan masyarakat umum, dengan pemerintah di seluruh dunia masih akan bergantung kepada proses pembatasan dalam hal pergerakan, berkumpul, dan berbisnis demi menekan angka penyebaran.

Di Amerika Serikat, presiden terpilih Joe Biden mengutarakan rasa frustrasinya kepada penolakan Donald Trump di White House dalam hal proses transisi, mengatakan bahwa “lebih banyak orang yang meninggal dunia” karena virus corona tanpa koordinasi lebih lanjut untuk melawan pandemi yang ada saat ini.

Amerika Serikat sendiri telah menjadi negara dengan kasus terbanyak virus corona di dunia. Secara global, jumlah infeksi di seluruh dunia telah hampir mencapai 55 juta kasus, dengan lebih dari 1,3 juta di antaranya yang meninggal dunia dan para ahli memperkirakan bahwa masalah sulit masih akan dihadapi oleh masyarakat dalam beberapa bulan ke depan.

“Sebuah vaksin saja tidak akan mengakhiri pandemi,” tegas kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Suplai awal akan terbatas untuk pekerja kesehatan dan populasi yang lebih rentan, yang bisa memberikan bantuan besar kepada sistem kesehatan rumah sakit, namun “masih akan memberikan ruang kepada virus untuk bergerak,” tandasnya.

Di daerah-daerah terparah Eropa, pembatasan sudah kembali dilaksanakan, yang sering menghadapi protes luar biasa dari masyarakat, dari Yunani ke Britania, tempat mantan penderita COVID-19 Perdana Menteri Boris Johnson, harus diisolasi sebagai langkah pencegahan pada hari Senin (16/11) lalu karena bertemu dengan seorang anggota parlemen, yang kemudian dinyatakan positif virus.

Swedia, yang diketahui paling minim untuk melakukan pencegahan virus karena tidak pernah melakukan lockdown, memutuskan pada hari Senin kemarin untuk melarang perkumpulan orang lebih dari delapan orang, untuk pertama kalinya.

“Itu semakin memburuk. Lakukan kewajiban Anda dan bertanggung jawab untuk menghentikan penyebaran virus,” kata Perdana Menter Stefan Lofven.

Dan di Jerman, yang memulai babak baru penutupan pada awal bulan ini, Kanselir Angela Merkel dipaksa untuk melakukan pencegahan yang lebih ketat seperti mengenakan masker di sekolah dan kelas-kelas yang lebih kecil.

Selagi kasus harian telah menurun di Jerman, namun pemerintah mengatakan bahwa itu masih terlalu tinggi. Namun Merkel menyatakan bahwa para pimpinan di negara bagian tidak memiliki niatan untuk lebih serius dalam menangani pandemi, dengan menerapkan pembatasan yang jauh lebih ketat demi menekan angka penyebaran.