Terobosan Teknologi dalam Pembuatan Vaksin COVID-19 Bisa Bantu Menangani Penyakit Lain

15
Vaksin Corona
Ilustrasi. (Foto: Pikiran Rakyat)

Matanaga – Terobosan teknologi yang bisa mentransformasi tubuh menjadih pabrik vaksin penangkal virus tak hanya siap untuk mengubah perlawanan terhadap COVID-19, namun juga pandemi berikutnya atau bahkan kanker, menurut para ilmuwan.

Kesuksesan awal dari vaksin yang disebut sebagai messenger asam ribonukleat (mRNA) dalam uji klinis tahap akhir oleh Moderna dan juga Pfizer, beserta perusahaan rekanannya, BioNTech, sebagai bukti pertama bahwa ide ini berhasil.

Vaksin eksperimental tersebut memiliki kemanjuran di atas 90 persen berdasarkan temuan awalnya, yang jauh lebih tinggi daripada yang diharapkan oleh regulator Amerika Serikat untuk vaksin, yaitu sebesar 50 persen.

Kini para ilmuwan mengatakan bahwa teknologi tersebut, sebuah revolusi slown-motion dalam pembuatannya sejak mRNA ditemukan hampir 60 tahun yang lalu, bisa meningkatkan pengembangan vaksin baru di masa depan.

Metode tradisional soal menciptakan vaksin dengan – memperkenalkan virus yang dilemahkan atau mati, atau suatu kepingan, untuk menstimulasi sistem kekebalan tubuh – telah mengambil alih selama sedekade terakhir, berdasarkan sebuah studi pada tahun 2013 silam.

Satu vaksin flu pandemi bisa menghabiskan lebih dari delapan tahun untuk ditemukan, selagi vaksin untuk hepatitis B baru ditemukan 18 tahun setelah dikerjakan. Vaksin Moderna dilaksanakan dari mulai pengurutan gen kepada injeksi pertama kepada manusia, hanya dalam waktu 63 hari.

Dengan vaksin yang dikerjakan oleh BioNTech dan Pfizer juga berada dalam jalur yang sama, maka keduanya bisa mendapatkan persetujuan dari regulator pada tahun ini, benar-benar kurang dari setahun semenjak virus corona pertama muncul.

Perusahaan lainnya sedang mengejar teknologi seperti CureVac dari Jerman, yang juga memiliki vaksin kandidat berbasiskan mRNA, namun masih belum memulai uji klinis tahap akhir dan berharap agar mendapatkan lampu hijau setelah Juli 2021.

“Kami melihat kembali kepada lompatan yang dibuat pada tahun 2020 dan mengatakan: ‘Ini adalah momen ketika ilmu pengetahuan benar-benar bisa mengambil langkah maju’,” kata Jeremy Farrar, seorang direktur untuk Unit Penelitian Klinis Universitas Oxford, yang didukung oleh Wellcome Trust.

Ditemukan pada tahun 1961, mRNA membawakan pesan dari DNA tubuh kepada selnya, mengatakan kepada mereka untuk membuat protein yang diperlukan untuk fungsi kritis, seperti proses biologi terkoordinasi seperti mencerna atau melawan penyakit.

Vaksin eksperimental dari Moderna juga Pfizer dan BioNTech menggunakan mRNA yang dibuat di labolatorium untuk menginstruksikan sel untuk membuat protein spike dari virus corona, yang menyerang sistem kekebalan tubuh tanpa aksi untuk mereplikasi sebagai virus yang aktual.

Terobosan terjadi sekitar pada tahun 2005 ketika Katalin Kariko, seorang ilmuwan asal Hungaria dan menjadi wakil presiden senior di BioNTech, bersama engan para koleganya di University of Pennsylvania, menemukan cara untuk mengantarkan mRNA tanpa membuat sistem kekebalan tubuh menjadi berlebihan.

Memerlukan waktu 15 tahun hingga dunia membutuhkan bantuannya, Kariko mengatakan bahwa hasil kerja seumur hidupnya terbayarkan, tak hanya untuk melawan COVID-19, namun juga mungkin penyakit lainnya.

“Itu bisa lebih mudah untuk produk anti-viral berikutnya, sebuah vaksin untuk influenza dan juga penyakit menular lainnya,” kata Kariko.

Moderna dan BioNTech, sebagai contoh, juga menerapkan teknologi mRNA kepada pengobatan kanker eksperimental lainnya. BioNTech sedang menguji mRNA anti-melanoma dengan perusahaan farmasi raksasa Swiss, Roche, dan sedang berada dalam fase kedua uji klinis.

Di antara proyek paling akhir dari Moderna, selain vaksin COVID-19, adalah senyawa mRNA untuk mengangani kanker ovariumn atau iskemia miokardial, yang juga sudah memasuki fase kedua pengujian.