LIPI Kembangkan Teknologi untuk Menelusuri COVID-19 Demi Kurangi Rasio Penularan

14
Seorang petugas kesehatan mengambil sampel usap nasofaring dari seorang jurnalis selama program pengujian COVID-19 pada 4 November 2020 di Dewan Pers di Jakarta.
Seorang petugas kesehatan mengambil sampel usap nasofaring dari seorang jurnalis selama program pengujian COVID-19 pada 4 November 2020 di Dewan Pers di Jakarta. (Foto: The Jakarta Post)

Matanaga – Sudah delapan bulan lebih sejak Presiden Joko Widodo alias Jokowi mengumumkan kasus pertama COVID-19 di Indonesia pada tanggal 1 Maret lalu, dan hampir dalam periode yang sama pemerintah selalu mengulang-ulang pentingnya menaati protokol kesehatan dan menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Namun demikian, jumlah kasus baru terus meningkat hingga melebihi 470 ribu kasus terkonfirmasi hingga tanggal 17 November 2020 kemarin. Selain wabah COVID-19 yang terus menyebar, juga banyak kasus ketika pasien terinfeksi kabur dari fasilitas isolasi, yang semakin meningkatkan kecemasan peningkatan potensi tingkat reproduksi virus.

Rasio reproduksi merupakan gambaran dari seberapa efektifnya angka reproduksi (Rt), yang diwakili oleh angka dari kasus terinfeksi dari satu orang yang membawa virus.

Memerhatikan masalah tersebut, Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi untuk Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2ET LIPI) telah mengembangkan sebuah alat penelusuran kontak yang dinamakan Si-Monic. Ini merupakan alat pertama yang ditemukan di Indonesia dan kabarnya telah melewati uji laboratorium dan fungsionalitas yang diperlukan.

Kepala P2ET LIP, Budi Prawara, mengatakan bahwa Si-Monic merupakan sistem pengawasan individu untuk pasien COVID-19 dan juga kasus terduga, seperti kontak dekat. Setiap alat Si-Monic diisi dengan chip Bluetooth Low Energy (BLE) yang memiliki angka identifikasi spesial.

Itu dirancang untuk memantau pergerakan pengguna dari server pusat melalui aplikasi Si-Monic, yang bisa diunduh di Google Play Store, yang memberikan update secara konstan mengenai pergerakan dan status si pemakai. Sistem Si-Monic juga akan memberi tahu kepada otoritas kesehatan lokal jika si pemakai mencoba untuk mencopot atau mendeaktivasi alat tersebut.

P2ET LIPI telah bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP2D) Jawa Barat untuk meningkatkan uji klinis dari program penelitian alat kesehatan ini di provinsi tersebut, yang akan melibatkan 20 orang pasien COVID-19.

Budi mengatakan bahwa LIPI berharap agar uji Si-Monic di Jawa Barat bisa membantu alat untuk berkontribusi dalam mengurangi tingkat reproduksi COVID-19 di provinsi tersebut.

LIPI telah mengejar beberapa proyek penelitian untuk membantu melawan pandemi COVID-19, termasuk dua tipe obat herbal yang meningkatkan kekebalan tubuh untuk pasien COVID-19.

Tim mengembangkan obat herbal ini dipimpin oleh LIPI dan Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), dan berhasil merekrut 90 orang relawan untuk melakukan uji klinis terakhir pada bulan Agustus di rumah sakit darurat COVID-19 Wisma Atlet.

Sebelumnya pada bulan Juni, LIPI mengumumkan bahwa itu mengembangkan sebuah high-flow nasal cannula (HFNC) atau kanula hidung aliran tinggi, perangkat yang relatif non-invasif yang mengirimkan oksigen tambahan kepada pasien COVID-19, yang mengalami kesulitan bernapas.

“HFNC [dari LIPI} merupakan yang pertama [dari tipenya] yang lulus standar kantor keamanan kesehatan dari Kementerian Kesehatan,” kata peneliti LIPI, Agus Haryono.

Secara terpisa, peneliti LIPI Henri Maja Saputra mengatakan bahwa Gerlink LIPI HFNC-01 efektif dalam menangani pasien yang berada di masa-masa awal terinfeksi COVID-19 yang masih bisa bernapas dengan sendirinya.

Segala percobaan ini merupakan upaya dalam melawan COVID-19 hingga vaksin siap untuk digunakan. Sejauh ini, sudah ada beberapa pengembang vaksin yang telah menyampaikan kabar baik perihal kemanjuran yang tinggi.

Setelah Pfizer mengumumkan vaksinnya efektif 90 persen pada awal bulan November ini, kini Moderna mengklaim bahwa kandidat vaksin buatannya memiliki tingkat efikasi yang lebih tinggi, hingga mencapai 95 persen.