Amerika Serikat Tawarkan Kerja Sama Vaksin dengan Indonesia

19
Seorang petugas kesehatan di puskesmas di Tapos, Depok, Jawa Barat, melakukan simulasi vaksinasi COVID-19 pada 21 Oktober
Seorang petugas kesehatan di puskesmas di Tapos, Depok, Jawa Barat, melakukan simulasi vaksinasi COVID-19 pada 21 Oktober. (Foto: The Jakarta Post)

Matanaga – Amerika Serikat kabarnya telah menawarkan diri kepada Indonesia untuk bekerja sama dalam memproduksi vaksin COVID-19, demikian pernyataan dari Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, dalam kesepakatan yang bisa memberikan dinamika baru dalam kolaborasi yang sama dengan Cina.

Bertindak sebagai utusan khusus Presiden Joko Widodo alias Jokowi, Luhut terbang ke Washington pada pekan ini untuk mengkonsolodasikan kerja sama dengan Amerika Serikat, seiring dengan kesuksesan teranyar dalam hal ekspor Indonesia dalam hal keuntungan perdagangan di bawah Sistem Preferensi Umum (GSP).

Ditemani oleh Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat yang baru ditunjuk, Muhammad Luthfi, Luhut memenuhi panggilan resmi dari Presiden AS Donald Trump pada hari Selasa (17/11) kemarin, berdasarkan pernyataan dari kantor Luhut pada hari Rabu (18/11).

Trump ditemani oleh penasihatnya, Jared Kushner dan Ivanka Trump dan juga CEO dari Korporasi Keuangan Pembangunan Internasional AS (International Development Finance Corporation), Adam Boehler.

“Sebagai tambahan dari pertemuan dengan Presiden Donald Trump, Menko Luhut disambut oleh Wakil Presiden AS Mike Pence di kantornya. Pence menawarkan kerja sama produksi vaksin antara perusahaan AS dan Indonesia,” demikian pernyataan resmi tersebut.

Meski begitu, dilansir dariĀ The Jakarta Post, Kedutaan AS untuk Indonesia di Jakarta tidak bisa dihubungi untuk konfirmasi lebih lanjut mengenai hal ini.

Selagi Indonesia kesulitan untuk menghadapi penyebaran COVID-19, dan infeksi dan kasus kematian terus meningkat, pemerintah masih memiliki harapan mengenai pengembangan vaksin yang ada.

Sebagai tambahan dari pengembangan vaksin, pejabat pemerintahan juga sedang sibuk untuk mencapai kesepakatan dalam hal pengembangan bersama vaksin demi mengamankan dosis di masa depan dari negara-negara lain.

Pejabat-pejabat senior telah berharap agar vaksin bisa menjadi pengubah keadaan dalam hal perlawanan terhadap pandemi COVID-19, yang telah menginfeksi hampir 500 ribu orang Indonesia dan membunuh lebih dari 15 ribu orang di negeri ini.

Persaingan dalam menemukan vaksin COVID-19 telah membantu mengartikan bagaimana negara-negara menjaga hubungan mereka satu sama lain, dan Indonesia tidak terkecuali.

Indonesia telah mengumumkan sejak beberapa bulan lalu bahwa mereka telah mengamankan hampir 300 juta dosis kandidat vaksin, yang kebanyakan diproduksi oleh perusahaan asal Cina.

Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yi, sebelumnya pernah mengatakan bahwa Indonesia bisa menjadi pusat produsen vaksin dari Cina untuk Asia Tenggara di masa depan.

Pada awal bulan lalu, Luhut memimpin sebuah delegasi untuk terbang ke Cina demi menyelesaikan proses pembelian kandidat vaksin dalam partai besar dari beberapa firma Cina, yaitu Sinovac, CanSino, dan Sinopharm, juga dengan perusahaan asal Abu Dhabi, G42.

Kebanyakan vaksin ini sudah berada dalam tahap akhir uji klinisnya dan pemerintah mengharapkan kiriman pertama dari perusahaan-perusaan Cina itu pada bulan ini.

Namun demikian, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mengindikasikan bahwa mereka tidak akan bisa memberikan izin penggunaan darurat vaksin hingga tahun depan.

Indonesia juga telah mengutarakan ketertarikannya terhadap vaksin kandidat yang diproduksi oleh perusahaan asal Britania, AstraZeneca. Namun tidak satu pun dari vaksin-vaksin tersebut yang telah menginformasikan hasil efikasi dari uji klinis tahap ketiga.

Yang sudah memperlihatkan hasil menjanjikan adalah perusahaan-perusahaan asal Amerika Serikat. Pfizer menjadi yang pertama, dalam kerja samanya dengan firma asal Jerman, BioNTech, dengan tingkat keefektifan vaksin yang mencapai 90 persen, dan kemudian diperbarui menjadi 95 persen pada hari Rabu kemarin.

Kemudian, ada juga vaksin dari Moderna yang diklaim memiliki tingkat kemanjuran sebesar 94,5 persen, yang diklaim oleh ahli penyakit menular Amerika Serikat, Anthony Fauci, sebagai sesuatu yang mengesankan.