Mari Belajar Soal Hidup Berbahagia dari Negara-Negara Paling Bahagia di Dunia

18
Islandia Resort
Islandia Resort. (Foto: Agoda)

Matanaga – Setiap tahun, laporan mengenai indeks kebahagiaan masyarakat dunia dirilis, dan negara-negara akan dideretkan dari yang paling bahagia kepada yang paling muram. Negara-negara Skandinavia adalah yang paling hebat dalam memuncaki daftar ini selama bertahun-tahun. Maka dari itu, tidak ada salahnya untuk belajar dari mereka dalam hal ini.

Finlandia

Finlandia merupakan negara paling bahagia di dunia selama tiga tahun beruntun. Untuk mencari tahu rahasia kebahagiaan mereka, Rachel Hosie, seorang jurnalis dari Insider, menghentikan 10 orang di jalanan dan menanyakan kepada mereka tentang apa yang membuat orang-orang Finlania berbahagia. Kimmo, salah satu orang yang diwawancarai, mengatakan, “Kami tidak memiliki selisih yang begitu jauh dalam hal pendapatan.”

Selagi ini adalah fakta yang biasa untuk kebanyakan negara nordik, namun itu tidak demikian di seluruh dunia. Dalam level global, yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Dalam sebuah artikel di Psychology Today, Darbe Saxbe mengatakan bahwa ketidaksetaraan sosial merupakan hal yang korosif secara sosial karena meningkatkan kekerasan, level kepercayaan yang rendah dan lainnya.

Ada beberapa faktor yang bermain di sini, satu alasan mengapa pendapatan bisa terlalu berbeda mungkin karena obsesi kita untuk memenangkan rat race. Kita terobsesi untuk menjadi lebih terkenal, menjadi miliarder, dan memenangkan rat race.

Denmark

Anda mungkin pernah mendengar tentang konsep Hygge yang digunakan oleh orang-orang Denmark untuk meningkatkan kebahagiaan mereka. Hygge adalah kualitas kenyamanan dan keramahtamahan yang menimbulkan perasaan puas atau sejahtera. Itu benar-benar sesuatu hal yang sederhana untuk membuat diri nyaman, seperti mengenakan kaos yang nyaman, meminum minuman hangat, menyalakan lilin, berbagi makanan, mengonsumsi makanan manis, menghabiskan waktu dengan orang-orang terkasih, atau keluar merasakan alam. Itu, pada dasarnya, untuk menjadi nyaman.

Namun masyarakat modern telah mengasosiasikan aktivitas-aktivitas tersebut sebagai satu hal yang terasa salah, karena kita terlalu terobsesi dengan figur atletis untuk menikmati sesuatu yang manis sesekali. Kita terlalu terobsesi untuk mengejar sesuatu, ketimbang membuang waktu dengan alam.

Kita bahkan berhenti untuk melihat hal-hal yang indah dari sesuatu yang sederhana. Joshua Bell, seorang pemain biola terkenal, pernah ambil bagian dalam eksperimen sosial oleh The Washington Post dan bermain di subway. Meskipun dia memainkan satu lagu paling kompleks dan indah dari salah satu biola termahal, tidak ada banyak orang yang memerhatikan. Lucunya lagi, dia telah menjual seantero arena sepekan sebelumnya.

Eksperimen tersebut mengindikasikan bahwa orang cenderung melewatkan keindahan dan kebahagiaan yang ada di hadapan mereka. Itu mengindikasikan bahwa mungkin kita terlalu berusaha keras untuk menemukan kebahagiaan. Di sisi lain, orang-orang Denmark telah menguasai seni untuk mengambil yang terbaik dari hal-hal sederhana.

Islandia

Islandia merupakan suatu negara damai yang Istana Presiden-nya bisa kita masuki secara bebas. Ketuklah pintunya dan Anda akan menemuinya. Tidak akan ada penjagaan yang ketat karena tingkat kriminalitas sangatlah rendah di sana hingga tidak perlu keamanan yang berlebihan.

Di Islandia pula, satu dari 10 orang akan mempublikasikan sebuah buku sekali dalam seumur hidup mereka. Satu dari 10 orang dan itu adalah angka yang gila. Angka itu mengindikasikan kreativitas yang luar biasa dalam percobaan kita untuk menjalani hidup yang nyata.

Dan fakta bahwa banyak orang di Islandia yang menulis merupaka suatu indikasi bahwa orang-orang yang tidak menulis menemukan kreativitas dalam cara yang lain. Itu bisa diasumsikan bahwa di Islandia, kreativitas tidak menderita. Itu adalah kenormalan dan bukan sesuatu yang spesial.

Dan mereka benar. Kreativitas harusnya sudah menjadi kenormalan, seperti yang pernah dikatakan oleh Sir Ken Robinson di TED Talk: “Picasso pernah mengatakan ini, dia mengatakan bahwa semua anak dilahirkan untuk menjadi seniman. Masalahnya adalah bagaimana cara menjaga rasa senimannya seiring waktu berjalan. Saya meyakini ini dengan sangat serius, bahwa kami tidak mengembangkan kreativitas, kita berkembang dari kreativitas, kita teredukasi dari situ.”

Seiring menuanya kita, kita cenderung mendesak kreativitas terlalu besar, dan kemudian itu menjadi sesuatu yang tidak kita miliki lagi di masa dewasa. Namun kreativitas sudah ada bersama kita sepanjang waktu. Kreativitas sehari-hari bisa membawakan kita kepada kebahagiaan. Itulah sebabnya, kita mungkin lebih sering melukis atau menulis dalam seskali waktu, melahirkan sesuatu yang kreatif, tidak peduli bentuknya, untuk memperkaya hidup kita.