Empat Fakta Mengejutkan Tentang Kemodernan Manusia Purba

24
Manusia Purba
Manusia Purba. (Foto: Medium)

Matanaga – Mungkin sulit untuk diterima jika Anda mendengar bahwa manusia purba memiliki keunggulannya tersendiri ketimbang kita manusia modern. Apalagi untuk mengetahui fakta bahwa manusia yang hidup ratusan ribuan tahun lalu tersebut tidak sebodoh yang kita bayangkan.

Mereka tidak hanya memakan pisang atau bergelantungan dari satu ranting pohon kepada yang lainnya. Para leluhur kita pintar dan berani. Hidup di alam liar mempertajam insting survival mereka. Mereka tahu bagaimana caranya bertarung dan kapan untuk membiarkan sesuatu untuk hidup dengan damai. Leluhur kita dan saudara-saudaranya itu canggih, cerdas, dan pekerja keras.

1. Mereka membangun tempat tidur pestisida sendiri

Manusia purba tidak memiliki kasur yang nyaman seperti yang Anda miliki, namun mereka cukup cerdas untuk bisa memiliki kenyamanan saat beristirahat. Para arkeolog telah menemukan bahwa mereka memiliki tempat tidur rumput yang nyaman di Border Caves, Afrika Selatan, mengindikasikan keberadaan tempat tidur 200 ribu tahun yang lalu. Mereka meletakkan kasur mereka dalam sebuah lapisan untuk menciptakan lingkungan yang bebas kotoran dan serangga yang merayap.

Penemuan sisa-sisa abu digabungkan oleh insektisida alami yang mengelupas kerangka luar serangga, mendehidrasi, dan bahkan membunuh mereka. Tempat tidur yang difosilkan ini merupakan testimoni bahwa manusia-manusia purba, tak hanya membangun rumah yang nyaman, melainkan juga tempat tidur yang nyaman.

Mereka juga mengetahui bagaimana caranya menciptakan pestisida, insektisida, dan hidup dalam kondisi yang bagus. Bahkan, mereka lebih canggih daripada yang kita pikirkan sebelumnya — menunjukkan bahwa mereka memiliki kompleksitas kognitif, perilaku, dan juga sosial.

2. Mereka memiliki delapan spesies manusia lain untuk diajak interaksi

Penelitian mengungkapkan bahwa ada sembilan spesies manusia yang berkeliaran di bumi 300 ribu tahun yang lalu, dan mereka adalah saudara-saudara kita yang sudah lama menghilang.

Homo neanderthalensis merupakan para pemburu kekar yang menempati daratan Eropa. Homo erectus merupakan yang pertama dan hidup di Indonesia. Denisovans menempati Asia, selagi Homo rhodesiensis hidup di Asia Tengah. Homo naledi, Homo luzonensisHomo floresiensis juga spesies yang serupa dengan otak berukuran kecil. Mereka menempati Afrika Selatan, Filipina, dan Indonesia. Sebagai tambahan, ada orang-orang misterius di Gue Rusa Merah (Red Deer Cave) yang menempati area besar di Cina.

Terlepas dari keberagaman mereka yang luar biasa dan populasi yang berkembang, delapan dari sembilan spesies tersebut punah. Terlepas dari Homo sapiens, tidak ada populasi manusia lainnya yang hidup. Meskipun tidak ada bencana lingkungan yang nyata, kebanyakan peneliti mengindikasikan bahwa penyebaran Homo sapiens merupakan penyebab utama dari kepunahan massal ini. Mengerikan untuk mengetahui bahwa kita selalu menjadi spesies yang berbahaya dan kompetitif, bukan?

3. Mereka bisa berjalan di aliran berlapisan material vulkanik

Aliran piroklastik merupakan arus cepat gas panas dan material vulkanik. Mereka bergerak dengan rataan kecepatan 100 km/jam dan bisa mencapai temperatur hingga 1.000 derajat Celcius. Hanya kondisi itu yang bisa menjelaskan mengapa ada jejak humanoid yang ditemukan di bebatuan vulkanik berusia 345 ribu tahun di kota Roccamonfina, Italia.

Para arkeolog dan geolog Italia menjelaskan bahwa jejak kaki ini bisa jadi adalah para Neanderthal yang penasaran. Mereka bisa mengunjungi area dari erupsi vulkanik ketika datarannya sudah lunak dan mendingin, namun masih berada di atas 55 derajat Celcius.

4. Mereka hidup dalam lingkungan multi-spesies

Meskipun ada sembilan spesies manusia berbeda yang hidup dalam garis waktu evolusi, mereka semua tersebar dalam periode waktu yang berbeda. Namun demikian, beberapa penelitian mengindikasikan bahwa sekitar 1,9 juta tahun yang lalu, tiga spesies manusia menempati area yang sama di Afrika Selatan. Meskipun bukan leluhur langsung kita, namun mereka semua adalah spesies manusia, yaitu A. africanus, Paranthropus robustus, dan H. erectus.

Fosil mereka ditemukan di Sistem Gua Drimolen Paleo yang tidak mengindikasikan adanya kekerasan di antara ketiga spesies, mengindikasikan bahwa mereka hidup dalam damai dan harmoni.

Kebetulan ketiga spesies tersebut hidup di area yang sama bisa disebabkan oleh migrasi dari satu atau lebih spesies karena faktor lingkungan. Beberapa waktu kemudian, mereka bisa saja berpindah ke tempat lain yang jauh untuk menyebarkan populasi ke seluruh dunia.