AS Setujui Terapi COVID-19, G-20 Desak Akses Vaksin Global

31
Raja Saudi Salman bin Abdulaziz memberikan pidato pembukaan KTT G20, yang diadakan secara virtual karena pandemi COVID-19.
Raja Saudi Salman bin Abdulaziz memberikan pidato pembukaan KTT G20, yang diadakan secara virtual karena pandemi COVID-19. (Foto: The Jakarta Post)

Matanaga – Regulator obat Amerika Serikat (AS) memberikan persetujuan untuk penggunaan darurat terapi antibodi COVID-19 pada hari Sabtu (21/11) kemarin, dan negara-negara G20 mendesak akses global untuk vaksin, lantaran pandemi makin memaksa dunia ditutup demi menekan angka penyebaran.

Dengan jumlah kasus yang telah melampaui 12 juta di Amerika Serikat, yang tertinggi di dunia, banyak warga yang menuju ke bandara demi mengunjungi keluarga mereka masing-masing untuk libur panjang Thanksgiving pada pekan ini, terlepas dari peringatan pemerintah untuk tetap tinggal di rumah.

Beberapa negara bagian AS telah menerapkan kembali pembatasan, termasuk California, yang melarang adanya aktivitas pada pukul 10 malam hingga 5 pagi.

Menyeberangi Samudera Atlantik, Perdana Menteri Britania, Boris Johnson, berencana untuk mengumumkan bahwa pembatasan di seantero Inggris akan berakhir pada tanggal 2 Desember, demikian pernyataan dari kantornya.

Namun lockdown akan dilonggarkan secara bertahap, melalui tiga fase di berbagai daerah. Britania memang merupakan negara yang paling terdampak akibat COVID-19 di Eropa, dengan jumlah kasus yang mencapai 1,4 juta dan lebih dari 54 ribu orang meninggal dunia.

Di Timur Tengah, Iran mengumumkan penutupan bisnis non-esensial pada lebih dari separuh kotanya hingga dua pekan ke depan dan menerapkan pembatasan pergerakan.

Persetujuan penggunaan terapi antibodi COVID di AS telah memberikan harapan kepada mereka yang terinfeksi, meski hanya akan ada sedikit dosis yang akan tersedia pada beberapa pekan ke depan.

Terapi yang sama juga digunakan terhadap Presiden Donald Trump, ketika ia dinyatakan terinfeksi virus corona.

Lampu hijau dari pembuat obat Regeneron datang setelah REGEN-COV2, sebuah kombinasi dari dua antibodi buatan lab, menunjukkan pengurangan pasien yang terkait COVID-19 untuk dilarikan ke rumah sakit atau ruang darurat. Ini efektif untuk mereka yang memiliki penyakit bawaan.

“Mengizinkan terapi antibodi monoklonal ini mungkin bisa membantu para pasien agar tidak dibawa ke rumah sakit dan meringankan beban sistem kesehatan kita,” kata Stephen Hahn, komisioner dari Badan Obat dan Makanan AS (FDA).

Perawatan antibodi Regeron merupakan perawatan antibodi sintetik yang kedua untuk menerima sistem penggunaan darurat (EUA) dari FDA, setelah terapi yang sama, yang dikembangkan oleh Eli Lilly, juga mendapatkan izin pada tanggal 9 November lalu.

Perusahaan mengatakan bahwa mereka mengharapkan untuk bisa memproduksi dosis untuk 80 ribu pasien pada akhir bulan November, dan total 300 ribu pasien pada akhir bulan Januari 2021.

Namun dengan jumlah kasus yang terus meningkat di AS dan juga global, maka itu berarti aksesnya tidak akan luas. AS telah mendapatkan lebih dari 360 ribu kasus COVID-19 baru untuk dua hari terakhir saja.

Telah ada kabar positif mengenai vaksin selama beberapa hari terakhir, dari perusahaan AS, Pfizer  yang bekerja sama dengan firma asal Jerman, BioNTech.

Pada hari Jumat (20/11) lalu, perusahaan tersebut meminta izin penggunaan darurat dari calon vaksin mereka, yang merupakan pertama di AS dan Eropa untuk melakukannya, setelah uji klinis menunjukkan keefektifan sebesar 95 persen.

Persaingan vaksin juga diramaikan oleh perusahaan bioteknologi lainnya, Moderna, yang mengklaim bahwa produknya juga memiliki tingkat keefektifan sekitar 95 persen.

Namun, terlepas dari segala perkembangan itu, ada kecemasan bahwa dunia tidak akan memiliki akses yang merata kepada vaksin, dan negara-negara G-20 telah berkumpul untuk melakukan rapat virtual pada hari Sabtu (21/11) lalu, mengulas kecemasan ini.

“Meskipun kami optimistis mengenai perkembangan yang terjadi terhadap vaksin, alat-alat terapi dan diagnostik untuk COVID-19, kami harus bekerja untuk menciptakan kondisi ketika semua orang memiliki akses yang terjangkau dan adil terhadap semua ini,” kata Raja Salman dari Arab Saudi dalam pertemuan tersebut.

“Kami memiliki tugas untuk menghadapi tantangan bersama selama pertemuan ini dan memberikan pesan harapan yang kuat dan menjamin kepada masyarakat kami dengan mengadopsi kebijakan untuk memitigasi krisis ini,” katanya kepada para pemimpin dunia.

Perkembangan vaksin juga memberikan harapan kepada Italia, salah satu negeri yang mengalami dampak terburuk selama pandemi. Menteri Kesehatan Roberto Speranza mengatakan pada hari Sabtu bahwa negaranya berencana untuk melakukan kampanye vaksinasi besar-besaran mulai Januari.

Vaksin tersebut “akan dilaksanakan menjelang akhir Januari ketika kami berharap sudah mendapatkan dosis-dosis pertama,” kata Speranca dalam pertemuannya dengan para dokter.

Italia, seperti negara-negara Eropa lainnya, sedang kesulitan dalam menangani gelombang kedua pandemi, dan telah mencatatkan lebih dari 1,3 juta kasus dengan total kematian hampir mencapai 50 ribu semenjak pandemi merebak pada awal tahun ini.