Apa itu Virus Cacar Monyet?

28
Virus Cacar Monyet. (Foto: MataNaga)

MataNaga – Pemerintah Kota Batam memperketat pengawasan terhadap penumpang kapal dan pesawat dari Singapura untuk mengantisipasi virus cacar monyet. Antisipasi itu diklaim dilakukan setelah otoritas Singapura mengumumkan seorang warga Nigeria terbukti terjangkit dan membawa virus cacar monyet dari negaranya.

Meski virus ini dinilai tidak mematikan, ruang isolasi dan alat pendeteksi suhu tubuh disiagakan di pintu masuk Batam, kota terbesar terdekat Indonesia dari Singapura.

“Seluruh rumah sakit swasta dan puskesmas kami minta waspada. Kalau ada yang mencurigakan, langsung rujuk ke RS Embung Fatimah dan RS BP Batam,” kata Kepala Dinas Kesehatan Batam, Didi Kusmarjadi, Senin (13/05).

Batam dan Singapura berjarak sekitar satu jam perjalanan laut. Merujuk data imigrasi, warga asing terbanyak yang masuk ke Batam berasal dari negara tersebut.

Kepada BBC News Indonesia, Didi mengatakan sebagai salah satu pintu gerbang Indonesia, Batam mempunyai strategi kontigensi menghadapi potensi masuknya virus penyakit dari luar negeri.

Selama ini, kata Didi, otoritas Batam terbiasa menelisik virus MERS-CoV yang diidap jemaah haji yang baru pulang dari Timur Tengah.

“Kami sudah memiliki rencana, terutama program karantina manusia. Kami sering menangani jemaah haji. Kami rawat, isolasi, dan ternyata banyak yang negatif,” tuturnya.

Merujuk kantor berita Reuters, virus cacar monyet masuk ke Singapura diduga melalui seorang warga Nigeria.

Laki-laki berusia 38 tahun itu disebut telah lebih dulu terinfeksi cacar monyet sebelum mendarat ke Singapura, 28 April lalu. Ia diperkirakan terjangkit virus ini setelah mengkonsumsi daging binatang liar.

Kini sekitar 23 orang yang berinteraksi dengan pria Nigeria itu tengah dikarantina selama 21 hari, sebagai pengawasan penyebaran virus, kata Kementerian Kesehatan Singapura.

Penyebaran virus ini pertama kali dilaporkan dari Afrika kawasan barat dan tengah pada dekade 1970-an. Deteksi virus cacar monyet pertama di luar Afrika terjadi di Amerika Serikat, tahun 2003.

September 2018, Inggris mengumumkan kasus cacar monyet pertama di negara mereka, yang diduga berkaitan dengan perjalanan seseorang dari Nigeria. Otoritas kesehatan Singapura menyebut cacar monyet dapat menyerang manusia antara dua hingga empat pekan.

Gejala awal pengidapnya adalah demam, sakit kepala, dan penyebaran semacam jerawat, yang berisi cairan bening atau nanah, ke berbagai bagian tubuh. Didi Kusmarjadi, Kadis Kesehatan Batam, menyebut virus ini dapat merasuk ke tubuh manusia yang mengkonsumsi daging binatang liar, antara lain monyet dan hewan pengerat.

Hingga saat ini, kata Didi, belum terdapat bukti ilmiah yang menyebut virus cacar monyet dapat menular akibat kontak antarmanusia. “Kalau kita mengkonsumsi hewan yang terkontaminasi virus cacar monyet, baru kita dapat tertular,” ujarnya.

Direktur Eksekutif Pusat Penyakit Menular Singapura, Leo Yee Sin, menyebut virus cacar monyet tidak lebih menular ketimbang flu. Dengan argumentasi itu, seperti dilansir AFP, Leo memperkirakan, “resiko penyebaran cacar monyet di Singapura sangat rendah.”

Dinas Kesehatan Batam mengkategorikan cacar monyet sebagai self-limiting disease atau penyakit yang dapat hilang dengan sendirinya dari tubuh manusia. Cacar air disebut dapat mematikan, jika diidap seseorang yang mengalami komplikasi penyakit.

“Penderitanya bisa meninggal kalau mengalami komplikasi akut. Kalau hanya terkena virus dan daya tahan tubuh baik, bisa sembuh sendiri.

“Warga Indonesia umumnya sudah imunisasi cacar, jadi 75% tubuh kita bisa terlindungi dari virus ini,” kata Didi Kusmarjadi.

Bagaimanapun, Badan Kesehatan Dunia (WHO) pernah mendesak otoritas medis di setiap negara untuk segera mengidentifikasi kasus cacar monyet untuk menghentikan potensi wabah. Masyarakat di kawasan terjangkit cacar monyet diminta menghindari kontak langsung dengan primata, hewan pengerat, dan orang yang tengah mengidap virus tersebut.