6 Mitos Soal Tidur Ini Bisa Membahayakan Kesehatan

83
Sleeping Woman
(Foto: NIH)

Jakarta – Untuk meraih tidur yang nyenyak setiap malam mungkin kamu akan sering mendengar beberapa imbauan. Namun, tak semua imbauan itu benar, karena bisa jadi di antaranya adalah mitos yang bisa membahayakan kesehatan.

Para peneliti di New York Unversity meneliti banyaknya klaim di internet yang bisa menyebabkan tidur nyenyak. Studi yang dipublikasikan di jurnal Sleep Health ini menyebutkan bahwa tak hanya merusak kesehatan, namun juga bisa memperpendek usia kita.

“Tidur adalah salah satu hal paling penting yang bisa kita lakukan malam ini untuk meningkatkan kesehatan, mood, kesejahteraan dan umur panjang kita,” ujar salah satu peneliti, Dr Rebecca Robbins.

Mereka berharap dengan mematahkan mitos ini bisa meningkatkan kesehatan fisik dan mental seseorang. Dikutip dari BBC, mana saja di antara mitos ini yang pernah atau sering kamu lakukan?

1. Tidur lima jam saja cukup
Banyaknya imbauan untuk tidur cukup selama 7-8 jam sehari rupanya kalah dengan mitos tidur lima jam saja sudah cukup untuk tubuh tetap sehat dan tidur yang nyenyak.

Kanselir Jerman Angela Merkel yang baru-baru ini menjadi sorotan akibat tiga kali gemetar hebat di depan publik bahkan pernah mengaku sering menukar jam tidur agar mendapat waktu ekstra di kantor. Praktik ini adalah lumrah dalam kisah kesuksesan bisnis atau kewirausahaan.

Dr Robbins mengatakan ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa tidur lima jam atau kurang secara konsisten bisa meningkatkan risiko terkena masalah kesehatan. Seperti serangan jantung, stroke, dan memendeknya harapan hidup, yang bisa ditangkal dengan tetap tidur setidaknya 8 jam sehari.

2. Minum alkohol bisa bantu tidur
Dr Robbins menyebut alkohol memang bisa membantu kita cepat tertidur, namun secara dramatis juga mengurangi kualitas tidurmu malam itu. Yakni dengan mengganggu tahap REM (rapid eye movement), yang sangat penting bagi memori dan pembelajaran.

Selain itu, alkohol juga merupakan diuretik alami, sehingga akan membuatmu repot karena harus sering terbangun di tengah malam untuk kencing.

3. Menonton TV di kasur bikin rileks
Menaruh televisi di ruang tidur bukanlah hal aneh, namun menonton televisi sebelum tidur tidak akan membuatmu rileks dan tidurmu menjadi nyenyak.

“Seringkali kita menonton televisi dan yang kita tonton adalah berita malam, yang bisa jadi membuatmu insomnia atau stres sebelum tidur saat kita justru mencoba untuk santai dan rileks,” kata Dr Robbins.

Televisi, dan gadget lainnya seperti tablet dan ponsel, memproduksi sinar biru yang bisa menunda produksi hormon tidur melatonin dalam tubuh.

4. Sulit tidur? Tetap di kasur
Apa kamu sering menghabiskan waktu hanya berguling-guling di kasur, berusaha dan berharap untuk bisa tertidur? Jika kamu sulit tidur, cara terbaik adalah bangunlah dari kasur!

Dr Robbins mengaitkan kasur dengan insomnia. Karena butuh waktu sekitar 15 menit bagi orang sehat untuk bisa jatuh tertidur, namun jika lebih lama dari itu, pastikan kita harus bangun dari kasur, ubah sekitarmu dan lakukan apapun yang tak membutuhkan kamu berpikir terlalu keras.

5. Memencet tombol snooze
Siapa yang sering memasang alarm lalu menekan tombol snooze sembari berpikir “Ah tak apa tidur lima menit lagi”? Bukannya kamu semakin nyenyak, namun justru akan membuatmu ngantuk seharian.

“Hindarilah keinginan untuk memencet tombol snooze. Tubuhmu memang akan kembali tidur, tapi tidurmu akan berkualitas sangat rendah. Saranku adalah membuka jendela dan gorden, lalu paparkan dirimu pada sinar terang sebanyak mungkin,” kata Dr Robbins.

6. Mendengkur berarti nyenyak
Orang mendengkur memang tidak membahayakan siapapun (kecuali mungkin telingamu), namun mendengkur bukan berarti seseorang tertidur nyenyak. Mendengkur alias ngorok bisa jadi tanda gangguan tidur sleep apnea.

Sleep apnea bisa membahayakan nyawa, karena menyebabkan dinding tenggorokan rileks dan menyempit saat tidur, sehingga bisa mengakibatkan seseorang berhenti bernapas sesekali.

Pengidap sleep apnea akan lebih berisiko terserang tekanan darah tinggi, denyut jantung tak beraturan dan serangan jantung atau stroke.