Hendropriyono dan Keturunan Arab

185
AM Hendropriyono
Hendropriyono dan Keturunan Arab. (Foto: MataNaga)

MataNaga – Pernyataan AM Hendropriyono itu disampaikan kepada wartawan, di Kantor Lemhannas, Jakarta, Senin (6/5). Dalam pernyataannya itu, Hendropriyono mengatakan, “Saya ingin memperingatkan bangsa Indonesia, WNI keturunan Arab, sebagai elite yang dihormati masyarakat cobalah mengendalikan diri.

Jangan menjadi provokator, jangan memprovokasi rakyat,” katanya. “Bukan cuma Habib Rizieq Shihab, tapi elite lainnya. Agar bisa menahan diri dan tidak memprovokasi,” lanjutnya.

Jika ditilik sejarah Indonesia, peran orang-orang keturunan Arab sudah ada sejak jaman kerajaan. Kesultanan Cirebon, Kesultanan Banten, Kesultanan Demak, Kesultanan Siak, Kesultanan Pontianak, pernah dipimpin oleh orang-orang keturunan Arab. Di era perintisan kemerdekaan, AR Baswedan, misalnya, pernah mendirikan Partai Arab Indonesia.

Sebelum diproklamirkan Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, keluarga Arab asal Yaman, punya andil di daamnya. Kisahnya beberapa hari sebelum proklamasi kemerdekaan, Soekarno terserang beri-beri dan malaria. Bung Karno kerap menggigil, panas-dingin, dan lemas badannya.

Adalah seorang pengusaha asal Yaman, Farej Said Martak, sahabat Bung Karno, memberikan madu Arab, Sidr Bahiyah, yang didatangkan dari Hadramaut, Yaman. Ini madu bukan sembarang madu. Khasiatnya sudah teruji sejak ratusan tahun lalu. Bersifat antibiotik dan sekaligus antiseptik.

Setelah mengkonsumsi madu Sidr, kondisi Bung Karno berangsur pulih. Lalu, didampingi Mohammad Hatta, Bung Karno membacakan naskah Proklamasi di depan rumah di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini, Menteng, Jakarta.

Rumah di Jalan Pegangsaan Timur 56 itu milik keluarga Farej itu dihibahkan kepada Bung Karno. Di rumah inilah Ibu Fatmawati menjahit Bendera Merah Putih pada malam sebelum teks proklamasi dibacakan.

Atas permintaan Bung Karno, pada 1962, rumah di Jalan Pegangsaan Timur 56 itu dirobohkan. Di atas bangunan tersebut kemudian didirikan Gedung Pola, sedangkan tempat Bung Karno dan Bung Hatta berdiri saat membacakan teks Proklamasi, didirikan monumen Tugu Proklamasi. Jalan Pegangsaan Timur diubah menjadi Jalan Proklamasi.

Pemerintah Indonesia secara resmi menyampaikan ucapan terima kasih pada keluarga Martak, berupa surat secara tertulis pada 14 Agustus 1950 yang ditandatangani oleh Ir. Mananti Sitompoel sebagai Menteri Pekerdjaan Umum dan Perhubungan Indonesia. Disebutkan juga dalam surat tersebut, selain rumah di jalan Pegangsaan Timur 56, keluarga Martak telah membeli beberapa gedung lain di Jakarta yang sangat berharga bagi kelahiran negara Republik Indonesia.

Farej bin Said bin Awadh Martak adalah putra ketiga dari empat bersaudara. Secara berurutan, kakak-kakak Farej adalah Djusman Martak dan Muhammad Martak, sedangkan adiknya bernama Ahmad Martak.

Keluarga besar Martak dan keluarga Badjened mendirikan N.V. Alegemeene Import-Export en Handel Martak Badjened (Marba), dimana Farej menjadi Presiden Direkturnya. Jejak Marba masih bisa ditelusuri di Jogjakarta berupa Hotel Garuda, dan di Semarang berupa Gedung Marba.

Jejak dan keturunan keluarga Martak ini sampai saat ini masih bisa dilacak. Ustadz Yusuf Muhammad Martak, Ketua GNPF-Ulama, adalah putra dari Muhammad Martak, kakak dari Farej bin Said bin Awadh Martak. Nama besar Marba kini dilanjutkan oleh Yusuf dengan aneka bidang usaha, dari restoran sampai ke biro perjalanan, dan berpusat di Tebet, Jakarta Selatan.

Dalam berbagai kesempatan Yusuf jamak mengeluarkan pernyataan, “Apa yang bisa kami berikan untuk republik ini”, bukan “Apa yang bisa kami ambil dari republik ini”. Inilah prinsip Nasionalis-Islamis yang terus digaungkan.

Jadi, peran orang-orang keturunan Arab di Indonesia, tidak perlu diragukan lagi. Mereka bukan provokator, tapi penerus risalah kenabian: melaksanakan peran amar ma’ruf nahyi munkar. Jangan-jangan, kecintaan orang-orang keturunan Arab pada Indonesia melebihi kecitaan yang dimiliki oleh AM Hendropriyono.