Sakit Kepala Saat Berhubungan Seks, Normalkah?

227
Ilustrasi.

MataNaga – Seks seharusnya menjadi aktivitas yang menyenangkan dan memuaskan, bukan? Namun untuk beberapa orang, seks juga bisa menimbulkan efek negatif, salah satunya adalah sakit kepala.

Namun rupanya Anda tak sendirian. Mengutip Men’s Health, sekitar satu persen orang mengalami sakit kepala selama seks. Dan sebanyak tiga perempatnya adalah laki-laki, menurut dokter Michael Reitano.

Ada tiga jenis sakit kepala saat seks ini. Pertama cukup ringan, dimulai saat Anda mulai terangsang. Sakit kepala ini juga menjalar ke leher. Namun biasanya tidak serius. Anda bisa mengonsumsi obat seperti ibuprofen untuk mengusir rasa sakitnya.

Kedua adalah rasa sakit kepala yang muncul saat orgasme dan bahkan bisa bertahan hingga berjam-jam setelah bercinta. Ini biasanya lebih menyakitkan dan membutuhkan penanganan lebih lanjut. Apalagi jenis ini bisa jadi tanda-tanda dari penyakit yang lebih serius.

Sekitar setengah dari orang yang mengalaminya juga menderita sakit kepala saat berolahraga. Ini menimbulkan dugaan bahwa sakit kepala muncul karena tekanan darah yang meninggi karena aktivitas fisik.

Faktor lainnya yang menyebabkan sakit kepala adalah adrenalin yang dirilis saat seks yang membuat tekanan di otak. Kontraksi pada leher juga kadang menjadi penyebabnya.

Makanan dan minuman pun bisa menjadi penyebab rasa sakit ini. Semisal anggur merah, marijuana, keju, dan makanan lain. Belum lagi diperparah dengan kebiasaan merokok, minum-minum, dan kelebihan berat badan.

Jenis sakit kepala yang ketiga amat jarang dialami, hanya terjadi pada satu dari setiap 20 ribu orang. Rasa sakit ini dialami setelah seks dan makin parah saat Anda berdiri. Orang yang menderita ini biasanya memiliki lapisan otak yang tipis dan naiknya tekanan darah membuat cairan tulang belakang mereka bocor.

Anda seharusnya berkonsultasi dengan dokter jika mengalami sakit kepala saat melakukan hubungan seks. Tak hanya untuk mengatasi rasa sakitnya, tapi juga untuk berjaga-jaga apabila rasa sakit itu merupakan tanda-tanda awal penyakit yang lebih parah, seperti pendarahan otak, pembekuan darah, atau pembengkakan arteri.