Kisah Solihin: Kugadai Istriku untuk Bayar Utang

932
Kisah Solihin: Kugadai Istriku untuk Bayar Utang (Foto: MataNaga)

MataNaga – Solihin (55 tahun) salah satu warga asal Tembalang, Semarang, sedang menikmati kopi hitam hangat dan juga beberapa gorengan yang dibuat oleh Sari (48 tahun), istri pertamanya.

Solihin memang mempunyai dua istri, yang satu lagi bernama Rere (30 tahun). Tentunya, Rere bukanlah istrinya secara resmi, melainkan istri siri yang tidak dikenal oleh Sari.

Ketika sedang asyik melahap singkong goreng, matanya tertuju kepada seorang gadis muda dengan menggunakan pakaian seksi dan super ketat.

Langsung terbangun nafsunya untuk bisa bercinta, ketika ia melihat Sari, Solihin merasa tidak tertarik karena kulit Sari sudah kendur pastinya,

Jadi ia pun memutuskan untuk pergi ke rumah Rere dan meminta izin ke Sari untuk pergi sebentar membeli rokok.

Saat sampai di rumah Rere, Solihin memarkir motornya dan langsung masuk begitu saja. Wajar, rumah Rere juga dibelikan olehnya, sehingga ia bebas masuk kapan pun.

Begitu masuk, matanya langsung melotot dan ‘burung’nya pun seakan meminta keluar dari dalam celana.

Sebab, ia melihat Rere yang baru selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya dalam keadaan telanjang.

Karena tinggal seorang diri, jadi Rere merasa bebas dan tidak malu atau tidak takut untuk berbuat sesuka hati, termasuk bertelanjang diri.

Tidak sampai 5 detik, Solihin langsung membuka baju dan celananya dan langsung menyergap Rere.

“Ah… Mas datang kenapa gak bilang? Mandi dulu sana kalau main, mas bau!” ujar Rere.

“Mandi sama-sama aja atau langsung main aja gausah mandi, mas udah gak sabar nih main sama eneng,” jawab Solihin dengan nada mesum sambil memain-mainkan buah dada Rere.

Setelah itu, digendonglah Rere ke sofa kemudian bercintalah mereka. Di saat Solihin sedang asyik meremas buah dada Rere dan ‘burung’nya juga disimpan dalam ‘kandang’ Rere, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara yang tak asing di telinganya.

“Solihin! Cepat keluar dan bayar utang lu! Gue tahu lu ada di dalam, motor lu jadi buktinya!” teriak Kobar (53 tahun), seorang pemimpin preman yang uangnya dipinjam oleh Solihin.

“Maaf Kob, gue belom ada duitnya, minggu depan ya!” jawab Solihin dengan rasa takut tapi ia masih bergoyang dengan Rere.

“Banyak alesan aja lu! Keluar sini sekarang… (Braakkk!!!)” teriak Kobar lebih kencang sambil mendobrak pintu. “Wah, ternyata elu lagi asyik di sini, yaudah! Cewek lu ini jadi jaminan aja, kalau lu gak bisa bayar gue perkosa juga nih cewek!” tambah Kobar sambil ingin menarik tangan Rere.

“Jangan bang, gue masih ada stok cewek di rumah gue kalo lu mau! Tapi biarin gue selesaiin dulu yah, lagi nanggung,” jawab Solihin.

Karena merasa setuju dan juga tak tahan, Kobar memaksa Solihin dengan cara menariknya dan menyuruhnya untuk memakai celana.

Saat Solihin baru mau memakai celana dalam, Kobar menyempatkan diri untuk meremas-remas buah dada Rere sambil mencium bibirnya dengan penuh nafsu.

Karena pasrah melihat keadaan tersebut, Solihin hanya terdiam. Baru juga mau pakai celana tiba-tiba ia ditarik oleh Kobar dan dipaksa berjalan kaki menuju rumah satunnya lagi.

Jarak rumahnya dengan rumah Rere memang tidak terlalu jauh, namun jika berjalan kaki dengan hanya menggunakan celana dalam pastinya sangat malu.

Apalagi banyak tetangga yang melihat dan kenal kemudian menyorakinya hingga membuat keadaan menjadi ramai. Ketika tiba di rumahnya, ia langsung menunjuk istrinya yang sedang menyapu teras rumahnya.

Solihin langsung menunjuk jika istri pertamanya boleh ia ambil asalkan utangnya lunas. Kobar yang kebetulan belum menikah sepertinya tertarik dengan tubuh Sari.

Meski kulit Sari sudah kendur, namun setidaknya tubuhnya tetap terlihat seksi bagi Kobar, maka ditariknya lagi Sari yang masih menyapu.

Merasa kaget ditarik oleh preman kelas kakap, Sari memberanikan diri untuk memberontak dan memukul Kobar dengan sapu.

“Apa-apaan lu! Ngapain lu tarik-tarik gue?” teriak Sari. Sambil tetap menarik Sari, Kobar mengatakan jika ia disuruh oleh Solihin dengan syarat utangnya lunas.

“Mas, kamu tega masa istri kamu satu-satunya ini dijadiin bahan pelunasan utang kamu?” teriak Sari yang disekelilingnya sudah ramai banyak orang.

“Enggak apa-apa, cuma bentaran aja yang penting utang kita lunas. Lagian, aku masih ada istri cadangan kok, si Re…” karena takut ketahuan Solihin langsung menutup mulutnya.

Sayangnya Sari tidak peduli dengan siapa nama yang belum dilengkapi oleh Solihin. Dengan menggunakan kekuatan emak-emak, Sari berhasil melepaskan diri dari genggaman Kobar lalu gantian memukul Solihin lebih kencang.

Bahkan, hingga bagian gagang dan ijuknya patah Sari tetap memukul Solihin tiada henti. Kobar yang menjadi takut dan kasihan malah membela Solihin.

“Udah gausah lu kasianin! Gue malu punya suami suka ngutang tukang selingkuh pula! Lu bantuin gue aja gebukin dia kalo perlu bunuh sekalian!” ujar Sari dengan geram.

Di saat yang bersamaan, ada juga pak RT yang datang lalu menghentikan aksi Sari. Pak RT kemudian menelepon polisi agar ada tindakan lanjut dari pihak yang berwenang.

Solihin pun di bawa oleh polisi dan sebelum di bawa, Sari mengaku ingin bercerai dengannya dan mengabulkan permintaan Solihin secara tidak langsung, yaitu Sari memilih Kobar sebagai suami barunya.

Sementara Rere yang telah mengetahui keadaannya tidak akan tentram lagi, maka ia memutuskan untuk pulang ke kampungnya di Makassar.

Baca juga:
Kisah Ridho: Pengalaman Menggenjot Ibu Tiri yang Kesepian 
Kisah Mahasiswa KKN: Kugarap Ibu dan Anaknya Sekaligus
Kisah Bambang: Keenakan Main PS, “Anu”nya Digoyang Pacar
Kisah Yudi: Oh… Mantan Terindah
Kisah Agung: “Praktek Langsung” dengan Guru Biologi di WC Sekolah