Kisah Indra: Digoyang Tante Widya Temen Ibu yang HOT

1388
Kisah Indra. (Foto: MataNaga)

MataNaga – Namaku Indra saat ini aku berusia 26 tahun, aku ingin menceritakan pengalaman pribadiku saat pertama kali aku melepaskan keperjakaan ku.

Saat itu aku masih berumur 14 tahun dan duduk di bangku SMP, saat itu aku belum tahu yang namanya dunia sex dan saat itu aku masih perjaka… Tetapi semua itu sirna begitu saja.

Siang itu seperti biasa aku menjalani aktivitasku di rumah sambil menonton TV dan ditemani teh hangat, saat sedang asyiknya menonton terdengar bunyi ketukan dari pintu depan.

Saat ku buka ternyata seorang wanita berusia sekitar 36 tahun dan bertanya keberadaan ibu “Dik, ibunya ada?”… Lalu dengan nada lembut aku menjawab “Maaf sebelumnya, tante ini siapa?

Ibu sedang ada di kamar, sebentar nanti aku panggillkan ”Terus sambil memberikan senyuman manis kepadaku dia mengatakan ” Saya Widya, teman ibu kamu dari Pasar Minggu.”

Begitu awal perkenalan aku dengan Tante Widya, yang akhirnya baruku ketahui bahwa beliau adalah seorang “renteneir”. Saat itu keluarga kami sedang mengalami kesulitan ekonomi.

Ibu terlilit utang dengan beliau dan ditambah lagi ayahku yang memilih meninggalkan ibu dan adik ku di sebuah rumah petak demi istri barunya.

Hari demi hari terus berganti, aku dan Tante Widya sering dipertemukan, karena beliau setiap hari selalu datang ke rumah untuk menagih cicilan hutang.

Di pagi yang cerah itu tepatnya minggu 18 April 1996 (masih ku ingat betul)
saat itu aku baru saja bangun tidur, sambil menikmati teh hangat yang manis. Sampai ku dengarkan suara langkah kaki yang menuju pintu depan rumahku. Belum saja dia mengetuk, pintu sudah kubuka.

Aku : “Eh Tante… Mau cari Ibu ya?”
Tante Widya : “Iya, masih di rumah nggak? Tante kesiangan nih… Tante bilang sih jam 9 mau kesini, sekarang udah jam 10 lebih”
Aku : “Iya tan, ibu lagi nganter adik tuh ke gereja kayaknya. Saya aja baru bangun nih, mungkin sebentar lagi Tan… Tunggu saja kalo mau”
Tante Widya: “Gitu ya? Ya udah deh Tante tunggu aja…”

Setelah kupersilahkan duduk, aku pun ke dapur untuk membuatkan minuman untuknya.

Tante Widya: “Wah repot- repot kamu Ndra… Tante kan bisa ambil sendiri..”
Aku : “Gak apa Tante… Gak repot kok”
Tante Widya: “Kamu sendirian di rumah?”
Aku : “Iya nih Tan, aku aja baru bangun… Tau- tau udah gak ada siapa- siapa”

Tante Widya : “Oh gitu… Lha kamu sendiri gak kemana-mana?”
Aku : “Nggak Tan, kalo aku paling di rumah aja nonton tv atau ke rumah temen di sebelah..”
Tante Widya : “Gak Pacaran?… Eh ngomong- ngomong udah punya pacar belum kamu?”

Aku : “Hehehehe… masih kecil Tan, belum bisa cari uang sendiri, aku gak mau pacaran, nanti kalo udah kerja baru deh..”
Tante Widya : “Masih kecil gimana? emang umur kamu berapa?”

Aku : “Baru 14 tahun Tan… Baru kelas 3 SMP”
Tante Widya : ” Hah… 14 tahun kok bongsor ya? Tante kira kamu SMA… hehehe”

Aku : “Ah tante bisa aja… Emang sih banyak yang bilang kalo aku bongsor, maaf Tan… Permisi sebentar aku tinggal mandi dulu gak apa- apa ya…”
Tante Widya : “Wah belom mandi ya? Ih pantesan bau… hehehe, ganteng- ganteng kok jorok belum mandi, ya udah mandi aja sana… apa mau tante yang mandiin?” (sambil tersenyum nakal)

Aku : “Ah Tante bisa aja… sebentar ya Tan..” tapi belum sempat aku berdiri dari tempat dudukku, tangan Tante Widya langsung menarik tangan ku…
Tante Widya : “Sebentar sini Ndra… Tante gak bercanda kok, mau nggak tante mandiin… enak loh..beneran deh gak bohong”

Seketika itu juga jantungku berdegup begitu kencang, mukaku memerah seketika Tante Widya meletakkan tangannya di pahaku..

Tante Widya : “Beneran kok Indra, Tante janji deh gak cerita siapa- siapa…kamu gak usah takut… Tante khan gak galak hehehehehe… sini deh” tangan kanan tante menarik pinggangku, seraya menyuruhku untuk lebih rapat duduk didekatnya.

Aku masih membisu tak dapat berkata apa- apa ketika tangan kirinya sudah masuk kedalam celanaku dan meremas buah zakarku…
Aku : “Aah Tante” (sambil merintih keenakkan ketika ia memainkan buah zakarku)

Tante Widya : ”Tenang aja ya sayang… pokoknya tante jamin enak deh” bisik Tante Widya sambil menjilat telingaku… kemudian leherku, akupun mengerang ketika dia menghisap pentil dadaku…

Aku : “Tante… akh… hmmmnnn… aaaak h…”
Kemudian bibirnya terus menciumi perutku sehingga aku semakin tak kuasa ketika kepala penisku mulai dijilati dan dikulum-kulum olehnya… Aku hanya bisa mengerang tanpa bisa menolak apalagi berontak…

Saat Tante Widya melahap buah zakarku, dan memainkannya dengan lidahnya… ooohh… Kemudian Tante mulai membuka baju dan roknya… Aku pun makin terpana dengan kemontokkan tubuhnya… payudaranya… ooh Tante…

Tante Widya : “Sini sayang… kamu jilatin ini ya” Sambil mendorong kepalaku ke arah vaginanya yang ditumbuhi bulu- bulu halus… Aku pun langsung saja menjilati vagina Tante Widya dengan rakus…

Tante : “Ohh…terus sayang…ooohh…jangan berhenti sayang…ooooh…iya sayang disitu…iya terus…terus..terus…oaaaahh ….”

Setelah beberapa menit kujilati vaginanya…
Tante Widya : ”Kamu hebat Ndra…”

Tante Widya meregangkan kedua kakinya, sambil menarik penisku… “sini sayang, masukkan kesini…aaaaahhh…” ia pun mengerang, ketika penisku mulai masuk ke dalam vaginanya, sambil kedua tangannya mendorong dan menarik pantatku…

Tante Widya terus mengerang ”Ooooh…terus sayang…Oooh Tuhan…Aaaahhhkh..”

Setelah beberapa menit, aku langsung merasakan ketegangan, seluruh tubuhku terasa kaku…dan akhirnya, Aaaaaaakkkhhhh….tapi tangan Tante Widya terus menekan pantatku sehingga aku “keluar” di”dalam”nya…dan kemudian dia membiarkan aku terkapar lemas diatas tubuhnya.

Tante Widya : “Kamu jagoan Ndra..” sambil mencium keningku…” Tante janji, gak akan bilang siapa- siapa sayang…kamu nggak usah takut… ini rahasia kita berdua ya sayang…”

Aku: “Tapi gimana kalo ibu aku tau? atau suami Tante?..”
Tante Widya : “Nggak, mereka nggak bakal tau…tenang aja ya sayang…pokoknya Tante janji deh…terus terang tante sudah “kepingin” sama kamu dari dulu… akhirnya dapet juga..hehehehe…”

Setelah kejadian pagi itu, kami pun semakin sering melakukannya di setiap ada kesempatan, Tante Widya mengajariku bermacam gaya… dari foreplay dan seterusnya… dan setiap kali aku orgasme, Tante Widya selalu menyuruhku untuk orgasme di dalam vaginanya.

Dia bilang lebih nikmat rasanya… bahkan kadang dia menyuruhku untuk “keluar” di mulutnya…awalnya aku takut kalo nanti dia hamil, ternyata Tante Widya jujur padaku bahwa sesungguhnya dia tidak akan pernah bisa mempunyai keturunan (mandul) dan kedua anaknya yang masih kecil adalah anak hasil adopsi.

Berhubungan dengannya perlahan kehidupan ekonomi keluargaku membaik…walaupun aku selalu berbohong pada ibuku, mengenai uang yang Tante Widya sering berikan kepadaku.

Selain itu diapun memenuhi segala macam kebutuhan sekolahku dari keperluan membeli buku, sampai membiayai uang sekolah untuk masuk SMU, malahan sejak kami berhubungan dia tidak pernah lagi menagih hutang ke ibuku, padahal jumlahnya hampir 30 juta.

Tiga tahun aku menjalin hubungan dengan Tante Widya, sampai saat krisis moneter menimpa Indonesia, Tante Widya memutuskan pindah ke Solo bersama suami dan kedua anak angkatnya…

Sampai sekarang aku tak pernah lagi mendengar kabar beritanya…
karena semenjak krisis moneterpun rumahku pindah ke daerah yg lebih terpencil…

Kenangan bersama Tante Widya pun tak mungkin terlupakan, Tante Widya telah merenggut keperjakaanku, kini Tante Widya entah bagaimana kabarnya…

Baca juga:
Kisah Pak Bos: “Mencicipi” Tubuh Perawan Pembantu yang Bohay
Kisah Rudi: Ketagihan 5 Ronde! Pengalaman Pertama Main dengan PSK
Kisah Sex Swinger: Bertukar Pasangan dengan Pembantuku Pak Karmin
Kisah EnaEna Mahasiswa: Tak Kuasa Menahan Syahwat, Sahabat Pacar Ku Embat di Ruang Komputer