Gara-gara Handuk Ketat, Janda Muda “Dijamah” Tetangganya

253
Gara-gara Handuk Ketat, Janda Muda “Dijamah” Tetangganya
Gara-gara Handuk Ketat, Janda Muda “Dijamah” Tetangganya (Foto: MataNaga)

MataNaga – Kebanyakan laki-laki dari zaman baheula memang tidak pernah merasa puas, salah satu contohnya si Tatang (34 tahun). Meski sudah punya bini geulis, tapi ketika melihat janda aduhai yang tubuhnya hanya dibaluti handuk, birahi Tatang langsung kebelet pengin jamah.

Sebenarnya Tatang terbilang cukup beruntung. Karena sang istri, Tuti (31 tahun), merupakan perempuan yang hampir sempurna. Selain cantik, perempuan keturunan Sunda itu juga bekerja dengan jabatan lumayan tinggi di salah satu bank ternama.

Cuma masalah yang sering dialami lelaki itu adalah kebosanan. Istilahnya, kalau makan sayur asem terus pasti bosan, makanya sekali-kali mau ganti sayur kangkung. Apalagi ada tetangga seksi dan sudah janda, “memang rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau”, begitu ungkapan peribahasa yang sering kita dengar.

Baca juga:
Mesum di Pinggir Sungai
Ayahku Nakal; Tubuhku Digerayanginya
3 Lawan 1! Kagak Usah di Perkosa Gua Mau

Awalnya pria yang berprofesi sebagai supir kantor itu diminta bantuan tetangga barunya, Neneng (23 tahun) untuk membetulkan kompor gas di dapur. Maklum, sang janda putih nan seksi ini sudah ditinggalkan suaminya sejak enam bulan lalu. Jadi terpaksa minta pertolongan kepada tetangga.

Lagi asyik otak-atik selang kompor gas, fokus Tatang langsung buyar seketika setelah melihat si janda keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk putih tipis yang tampak sangat ketat. Pada saat itu hanya satu kata yang mungkin ada di otak lelaki keturunan Jawa-Sunda itu, yakni “menggiurkan”.

Nafsu yang sudah di ujung tanduk membuat bapak dari dua anak itu kehilangan kontrol dan nekat memeluk Neneng. Meski korban sudah berontak dan berteriak, namun tetap saja tidak menghentikan Tatang untuk melaksanakan aksi bejatnya. Malah menindih dan mencoba meraba-raba aset terlarang si janda tanpa anak tersebut.

Beruntung teriakan keras Neneng akhirnya terdengar oleh beberapa warga kampung, sehingga Tatang langsung mendapatkan bogem berkali-kali tanpa henti hingga polisi setempat muncul untuk membawanya menginap di balik jeruji besi.

Di kantor polisi Tatang yang tertunduk malu hanya menangis dengan terus menerus berbicara apa yang kerap diungkapkan tahanan kriminal umumnya, “ampun pak, saya cuma khilaf….”

Baca juga:
Adik Iparku yang Manis
Keperawananku Hanya Tinggal Kenangan
KuPerawani Anak Bapak Kost