Paini, Pembantu Pemuas Nafsu

255
Cewek Cantik
Ilustrasi. (Foto: Twitur)

MataNaga – Nama saya Andi, seorang karyawan di sebuah bank terkemuka di Indonesia. Saya akan menceritakan kisah saya yang terjadi pada saat saya masih 3 SMU.

Tinggi saya 175 cm, berat 55 kg dan saya berotot pada saat itu karena sering angkat barbel 3 kg dan sit-up setelah bangun tidur setiap hari. Ya, cukup menarik perempuan saat itu sehingga saya dapat seorang wanita cantik di SMU.

Tetapi saya tidak akan menceritakan saya tidur dengan pacar saya karena saya tidak pernah ngesex dengannya dan tentu saja cerita hubungan pacar atau pasutri itu tidak menarik.

Saya akan menceritakan tidur dengan pembantu saya, Paini. Seorang wanita desa yang ndeso dan lugu. Dia hanya lulusan SD dan pengetahuan sexnya sangat rendah. Perawan saja tidak tahu, dia mengira perawan itu payudara dan pantatnya kencang, sedangkan yang tidak perawan itu payudaranya kendor dan pantatnya gantung. Masih ada saja yang percaya begituan di zaman sekarang.

Umurnya masih 19 tahun, masa keemasan. Tingginya hanya 160-an cm dan beratnya sekitar 45 kg. Kulitnya putih dan halus seperti wanita jawa lainnya. Wajahnya pun bisa dibilang lumayan karena putih mulus tak berjerwat.

Toketnya yang berukuran jumbo itu membuat pria di desanya sering menggodanya. Sayapun tertarik dengan ukuran besarnya. Ukuran yang bisa dibilang kebesaran, 36B, itu adalah nomor yang saya dapatkan ketika mengobok-obok lemarinya ketika dia ke pasar. BH murahan itu kadang saya cium dan hisap aromanya. Oh wanginya BH ini dan kadang-kadang saya juga mencium CD nya dan sesekali menumpahkan mani saya di celananya yang kemudian langsung saya bersihkan agar tidak ketahuan.

Kalau anda melihatnya naik sepeda ontelnya dan melewati jalan berbatu atau polisi tidur, toketnya goyang dengan indah. Pria mana yang tidak ngaceng melihat pemandangan ini. Dan apabila mandi, saya sering melihatnya dengan one way mirror yang saya taruh di kamar mandinya. Melihat dia dengan rambut basah atau penuh busa serta melihat dia menyabuni payudaranya dan vaginanya yang dipenuhi bulu tipis yang dicukur membuat saya berfantasi tidur dengannya.

Sesekali saya juga melihat dia menyukur jembutnya atau mencukur bulu kakinya di kamar mandi juga membuat junior saya tegang, atau melihatnya menyuci mobil. Oh… Alangkah seksinya dia ketika saya melihatnya dengan baju yang ngeplat BH dan putingnya karena basah dan tentunya saya lanjutkan dengan choli atau ngocok.

Tidur dengannya? Tidak, saya tidak berani karena takut hamil. Tetapi karena perkembangan teknologi yang memungkinkan tidak bisa hamil, maka niat saya tidur dengannya hidup lagi.

Suatu hari, orang tuaku beserta adikku pergi ke luar kota untuk menghadiri resepsi pernikahan, sedangkan saya tidak ikut karena saya ada ulangan di sekolah. Tetapi ibu saya ingin saya ikut dengan minta ujian susulan, tapi saya menolak dengan berbagai alasan karena kalau ujian susulan nggak bisa nyontek.

Akhirnya orang tuaku beserta adikku meninggalkanku. Kemudian saya belajar dan langsung tidur. Kemudian saya mengerjakan ulangan dengan contekan dan setelah pulang sekolah saya langsung pulang ke rumah. Setelah itu saya main PS2 sampai malam bersama teman saya dan setelah selesai teman saya langsung pulang.

Tidak terasa sudah malam. Saya meminta Paini untuk masak.
“Paini… Paini,” saya teriak memanggil Paini.
Mungin karena terlalu keras dia lari terbirit-birit dari ruang tv ke hadapan saya. Pada saat lari, susunya bergoyang kemana-mana dibalik baju kekecilannya otomatis membuat saya ngaceng. Saya langsung mengambil koran dan menutup penis saya dibalik celana pendek yang saya pakai.

“Paini, sudah masak nasi belum?”
“Waduh saya lupa.”
“Masak nasi tuh kan lama, bisa setengah jam. Gimana si kamu?”
“Maaf mas Andi, saya lupa.”
“Makanya dikurangin nonton sinetronnya.”
“Sekali lagi maaf mas.”
“Ya udah, gapapa kok. Lauknya apa?”

“Terserah mas.”
“Kalo gitu, nugget aja yang di kulkas.”
“Oke mas.”
“Kalau gitu saya mandi dulu, nanti kalo udah selesai saya dipanggil ya.”
“Nggih mas.”
Itu adalah percakapan pendek saya dengan Paini. Kemudian saya mandi dengan bersih dan menggunakan baju sepakbola dan celana pendek.

“Mas, makanannya sudah siap,” Paini memanggil saya. Kemudian saya langsung makan.
“Mbak, makannya sudah selesai,” suaraku dengan lantang.
Dia datang dan membersihkan meja dan menyuci piring dan saya ke ruang keluarga dan sekilas melihat tv yang sudah hidup yang ditonton olehnya. Ternyata sebuah sinetron. Ah, mengapa orang suka menonton junk ini. Kemudian saya gonta ganti channel, ternyata semuanya sinetron karena lagi prime time-nya.

“Mas, kok diganti sih?” katanya yang saya tidak ketahui sudah duduk di bawah.
“Mbak masih nonton yang tadi? Itu kan jelek.”
“Bagus loh mas, itu episode terakhir loh mas.”
“Please mas,” kata itu diulang berkali-kali.
“Ya udah deh.”
Saya mengembalikan ke channel semula dan saya mengambil majalah olahraga karena saya anti-sinetron. Kami sering bincang-bincang ringan. Ya seputar kehidupan saya di sekolah dan cerita dia.

Beberapa menit kemudian sinetron itu di ending dan sepasang manusia berciuman yang tentunya disensor seperti hanya keliatan punggungnya.
“Yah, kok cuma punggungnya sih?”
“Namanya juga di Indonesia, nggak boleh diliatin.”
“Iya mas, sinetron lain juga begitu.”

Kemudian saya melenceng dari topik.
“Emang mbak nggak tahu ciuman?”
“Nggak pernah mas, takut hamil.”
“Duh ini orang goblog banget ciuman kok hamil,” kataku dalam hati.
“Nbak, ciuman itu nggak bikin hamil.”
“Emang mas pernah nyium mbak Dina ya?” pertanyaannya malah balik ke saya. Dina adalah pacar saya.
“Nggak pernah, Dina kan solehah,” kataku.

Pacarku memang solehah, sayapun kalau berpacaran selalu disuruh membawa adikku. Pas nembak diapun setengah mati. Dia setuju, tetapi kedua orang tua juga harus setuju. Itu permintaan, tapi saking cintanya, maka saya menurutinya.
“Ohh,” katanya.
“Masak mbak nggak pernah?”
“Betulan nih nggak pernah sama mas Jay,”
Jay adalah mantan pacarnya di desa. Saya mendapatkan informasi ini dari mengorek hp-nya.

“Nggak, saya cuma dicium pipi sama mas Jay.”
“Ohh, mbak pijatin dong,” kemudian saya telungkup di sofa dan Paini memijat saya.
“Paini, kamu kok nggak punya pacar si?”
“Nggak tau mas.”
“Loh, kok nggak tau si?”
“Iya nih.”
“Padahal kamu itu cantik,” rayuan gombalku keluar.
“Ah, mas bisa saja.”

“Kok kamu putus si sama mas Jay?”
“Dulu mas Jay ngajak begituan, tapi saya malu kemudian kami putus.”
“Loh kok malu?”, “Mmm,” dia bergumam.
“Jawab dong.”
“Saya malu buka baju.”
“Loh kok buka baju takut? Mbak ini aneh.”
“Mmm,” dia bergumam lagi, lama sekali.
“Mbak, jawab dong, budek ya.”

“Mmm.”
“Oi, jawab dong,” kataku kesal.
“Anu mas, saya mau jawab tapi jangan bilang sapa-sapa ya,” ucapannya lirih.
“Oke deh.”
“Janji ya mas.”
“IYA!” ucapan saya dengan nada menekan.
“Saya malu dengan susu saya,” ucapan ini membuat saya ngaceng plus rangsangan darinya merijat pada dalamku. Otomatis penis saya tertekan, “aduh.”

“Kenapa mas?” saya bingung harus menjawab apa.
“Di situ sakitnya, dipijitnya disitu terus aja,” berarti aku menambah kesakitan penisku.
Kemudian saya melanjutkan pembicaraan yang tadi terputus.
“Kenapa?”
“Kata teman saya, kegedean, terus saya juga risih kalau naik sepeda sering diliat orang mas, aku isin mas.”
“Kataku payudaramu bagus kok.”

“Ah, mas ini bisa saja. Coba ada operasi ngecilin susu.”
“Ada tapi harganya selangit, kamu kuat? Nanti operasi di luar negeri.”
“Saya nggak kuat mas kalau segitu.”
“Bagus kok susumu Paini, wanita-wanita itu pada ingin dibesarin kok kamu dikecilin,” kataku memuji.
“Terus susu kamu bikin tambah kamu jadi sexy lo,” kataku memuji lagi.
“Ah, mas ini,” mukanya merah tersipu malu.

“Terus muka kamu kan cantik,” pujianku menjadi-jadi.
“Tapi kan aku tetep gadis desa mas, kampungan, ndeso,” katanya merendahkan diri.
“Kamu bisa kok jadi gadis kota, gadis yang ada di sinetron-sinetron itu.”
“Ah, yang bener mas, gimana caranya?” katanya.
“Ya, dari baju, sikap, dll.”
“Baju, kayak gimana mas?”
“Kalo ini kamu harus percaya diri, kamu pake tanktop atau rok mini.”
“Malu mas.”
“Udah, kamu coba dulu, saya beliin deh.”
“Duh, nggak enak mas.”
“Udah, gapapa kok.”

Kemudian dia ke kamarnya dan mengambil uang.
“Gapapa nih mas, masak saya nyuruh majikan beliin baju.”
“Oh gapapa kok, ini kan demi kamu juga. Lagipula saya juga ingin keluar.”
“Makasih ya mas, jadi nggak enak nih.”
“Udah tenang saja.”

Kemudian saya keluar dengan naik sepeda motor saya dan pergi ke toko pakaian yang terkemuka. Mumpung lagi sale, saya memilih tanktop pink, rok jeans mini dan sebuah g-string. Tapi masalahnya saya risih membawa pakaian perempuan, apalagi membawa g-string. Oleh karena itu, saya mencuri pakaian daripada diketawain sama kasirnya.

Saya memasukan barang tersebut di balik jaket saya yang seharusnya tadi dititipkan penitipan barang, tapi, karena orangnya nggak ada, saya nyelonong saja. Dengan perasaan santai saya keluar dan langsung mengendarai motor ke rumah.

“Kemudian agar keliatan beli, saya diam-diam ke dapur dan mengambil kantong kresek yang ada logo sebuah toko baju.
“Ini Paini bajunya.”
“Waduh, makasih banget mas, saya harus ganti berapa?”
“Nggak usah ganti, gratis kok.”

Tetapi wajah senang itu 360 derajat menjadi malu setelah melihat pakaian yang ada di dalam kantong tersebut.
“Mas, nggak salah nih?”
“Betul kok, kamu pasti seksi dan cantik pake itu.”
“Kamu mandi dulu, terus baru pake itu, biar tambah cantik.”
“Tapi mas, nanti paha sama belahan susu saya kelihatan lo mas.”
“Gapapa kok, kan susu kamu gede terus kulit kamukan putih jadi cantik kok.”
“Tapi kan saya jadi malu.”

“Tenang, kan cuma ada saya dan kamu doang, jadi nggak usah malu.”
“Iya deh mas, tapi cuma semalam saja ya.”
“Iya, tapi nanti kamu jangan pake BH.”
“Loh mas, kok nggak pake BH”
“Kamu tahu nggak kalo pake BH bisa bikin kanker payudara nanti matinya cepat kayak artis yang di infotainment itu,” kataku menakutinya.
“Saya jadi takut mas.”
“Makanya kamu nggak usah pake BH saja terus, buang saja BH-mu, terus kamu pake CD yang saya beliin.”
“Iya mas”
“Sabunnya yang banyak ya.”

Saya menunggu beberapa menit dan akhirnya keluar juga. Waduh, cantik bener, terlihat Paini dengan tanktop V-neck sehingga putingnya ngeplat dan belahan dadanya yang besar serta terlihat kakinya dan pahanya mulus yang ingin aku raba-raba. Betul-betul membuat saya ngaceng sampai sakit yang kemudian menyembul dibalik celanaku, dengan cepat aku duduk dan langsung mengambil bantal yang kemudian saya taruh diatas paha.

“Gimana mas Andi?” katanya berusaha menutupi bagian dadanya.
“Waduh Paini kamu seksi dan cantik banget.”
“Makasih mas Andi.”
“Mas Jay pasti nyesel mutusin kamu kalo lihat kamu kayak begini.”
“Ah, mas Andi bisa saja deh.”
“Kamu itu aslinya cantik dan seksi lo Paini.”

“Mas tapi ada yang nyelip.”
“Nyelip?”
“Iya mas”
“Apaan?”
“Anu mas, kolor tali yang mas beliin,” kata Paini malu-malu.
“Oh, gapapa kok, ayo duduk di sofa,” kemudian dia duduk di hadapan saya.

“Gimana, enak nggak?”
“Nggak enak mas, yang bawah nyelip. Terus yang atas ngetat mas, nggak pake BH lagi mas. Puting saya kelihatan ya mas? Saya malu sekali mas, ternyata jadi gadis kota itu susah.”
“Puting kamu keliatan bikin kamu jadi tambah seksi kamu kayak di film-film lo, kamu jadi model aja Paini.”
“Ah, mas ini bisa saja, nanti kalau Paini jadi model, nanti yang ngurus mas siapa?”
“Udah Paini, nggak usah ditutup-tutupin susumu, santai saja. Yang lihat cuma aku, kalo kamu kecilin susumu, mungkin kamu nggak jadi seksi lagi lo.”

“Tenang, cuma aku dan kamu. Aku nggak gigit kok, aku jaga rahasia kita berdua.”
“Hihihi,” akhirnya senyumnya mengembang juga.
“Mas, aku boleh salin ndak?”
“Jangan ganti, nanti saya ajarin biar tambah seksi dan naughty.”
“Mas Andi, kok kayak lagunya Tata Young?”
“Nanti biar kamu seksi kaya Tata Young”

Kemudian saya memutar VCD Tata Young, lagu Sexy Naughty Bitchy. Keluarlah Tata Young yang seksi itu.
“Tata Young saja berani dilihatin di dunia malah. Kamu dihadapan saya saja kok malu.”
“Tata Young kan cantik, kalo saya apanya cantik.”
“Udah, sekarang kamu menutup mata, bayangkan kamu Tata Young”
“Iya mas.”

Kemudian dia meniru gerakan Tata Young sambil nyanyi. Meskipun english-nya kagok, tapi gerakannya sangat sensual. Kedua tangannya meraba pahanya, payudaranya dan tentu saja membuat saya ngaceng. Setelah bernyanyi, Paini menjadi percaya diri, dia tidak menutupi tubuhnya lagi.

Tanpa saya sadari, rupanya dia terangsang, terlihat dari putingnya sudah berkembang. Saya menganggap ini kesempatan emas untuk ML dengannya.
“Mbak, kalo udah nyanyi ayo duduk di sini.”
“Iya mas,” Paini langsung duduk di sampingku.
“Mbak haus kan, saya juga haus.”
“Kok tau sih mas Andi ini, saya ambil jus jeruk di kulkas ya.”
“Udah, bia saya yang ambil, mbak kan capek abis joget.”

Kemudian saya langsung mengambil jus jeruk di kulkas dan mengambil gelas di dapur. Diam-diam saya mengambil obat perangsang milik kedua orang tua saya di kotak obat. Saya menelan 2 obat perangsang sekaligus dan 1 obat saya tumbuk menjadi bubuk dan saya masukan ke dalam jeruknya. Saya langsung ke ruang keluarga, dengan siotong yang terus ngaceng karena pengaruh obat perangsang tersebut, dan tidak saya tutupi yang mungkin bisa menambah rangsangan dia juga.

“Ini mbak jus jeruknya.”
*Sluurrpp* Jus jeruk itu langsung diminum sampai habis kemudian efek obat itu bekerja. Terlihat Paini mengipas-ngipas tubuhnya dan puting susunya membengkak.

Kemudian kami mulai ngobrol lagi.
“Mbak, masa sama mas Jay cuman cium pipi?”
“Iya mas.”
“Mbak, pengin tau nggak rasanya mulut mbak dicium? Kayak di sinetron?”
“Mau, kayaknya enak.”
“Kalo saya ajarin cium mulut orang mau nggak?”
“Saya takut mas.”
“Katanya tadi mau, kok sekarang takut si?”
“Mmm…” dia bergumam lagi.
“Udah, gini aja. Kamu saya cium, kalo nggak enak nggak usah dilanjutin.”

Kemudian saya suruh menutup mata, saya mendekatkan bibir saya dan kami saling berciuman sekitar 10 detik.
“Gimana mbak, enak?”
“Enak ya mas.”
“Ini ada satu ciuman lagi tapi kamu harus aktif juga, nanti lidah kamu ke lidahku dan lidahku ke lidahmu.”

Kemudian kepalaku sedikit dimiringkan dan kami melakukan french kiss cukup lama sekali. Bibirku berpindah kekupingnya dan kucium kupingnya dan aku julurkan lidahku ke lubang telinganya
“Uhh… Geli mas.”
Saya cium lehernya yang wangi.
“Enak mas, enak. Lagi mas… Ohh…” kuberikan tanda merah di lehernya.

Saya turunkan tali tanktop-nya.
“Jangan mas, malu.”
Tetapi kuteruskan saja dan terlihatlah kedua bukit kembar yang putingnya sudah menonjol keras, saya remas-remas kedua bukitnya.
“Mas, pelan saja,” kuturunkan temponya dan ku cubit-cubit kecil payudaranya.
Setelah itu saya pilin-pilin putingnya. Dia mendesah menggelinjang.
“Ohh… Ahh… Geli mas,” sungguh indah pemandangan ini.

Saya emut-emut payudaranya kananya dia teriak-teriak.
“Ohh yeah… Yess… Ahh…” Tangannya meremas payudara kiri.
Setelah beberapa menit saya pindah dan beberapa menit kemudian saya menjulurkan lidah saya ke pusarnya yang bersih itu dan kedua tangan saya aktif meremas kedua payudaranya. Posisi ini susah karena perut Paini bergoyang terus saking nikmat yang kuberikan untuknya.

Kedua tangan saya turun ke roknya dan pelorotkan roknya.
“Mas jangan mas. Ahh… Jangan mas, malu… Ohh…”
Pada saat ini masih sempet-sempetnya dia untuk bilang tidak.
Kemudian muncul lah g-string biru muda, warna kesukaanku kemudian kuraba, rupanya sudah basah.

Aku raba bibir vaginanya yang sudah merah merekah.
“Ahh… Enak.”
Kemudian aku pelorotkan juga g-string-nya sehingga terlihat Paini si toket gede bugil dengan payudara yang mungkin sudah bertambah besar 25% dengan puting mengeras dan vagina basah yang sudah merekah siap untuk ditiduri.

Aku menyuruh Paini untuk membuka bajuku. Setelah itu dia memelorotkan celanaku sehingga terlihatlah CD ku yang menyembul.
“Paini, kamu sudah siap untuk melihat penis saya sayang?”
“Sudah siap mas,” dia melorot kan celanaku dan penisku menyembul keluar. Penis dengan jembut keriting dan penis kokoh sekitar 18 cm dengan diameter 3 cm.

“Emut donk say…”
“Diemut?!”
“Iya diemut, dijilat.”
“Nggak brani ya say?”
“Iya mas…”

Rupanya dia rada ngeri dengan penisku, kemudian saya ke dapur dan mengambil susu kental manis dan mengambil ceres. Saya oleskan susu kental manis coklat itu sampai memenuhi penis ku dan dan kuberi ceres warna-warni di penisku.
“Biar mbak nggak takut, ini saya beri coklat biar enak oralnya, emut sampai habis.”
“Iya mas.”
“Jangan lupa, jangan sampe burung mas kena gigi, nanti lecet.”

Dia mulai menjilat penis saya, awalnya menjilat tapi lama-kelamaan mengemut.
“Ahh… Enak sekali Paini. Terus… Ahh… Yes…”
Lama kelamaan sampai mulutnya penuh dan saya menjambak rambutnya. Hisapannya seperti orang yang sudah sering nyepong.

Beberapa menit kemudian, *crot* saya melepaskan mani saya pertama di mulutnya. Anehnya penis saya tidak mengkerut, mungkin ini efek dari obat tersebut.
“Mas kok buang pejunya di mulut mbak si?”
“Kamu tau nggak mani itu mempunyai protein yang banyak? Telan saja.”
Dia menurut dan cairan putih kental itu dia telan sampai habis.

Sekarang giliran saya menjilat vaginanya. Kuraba vaginanya dan kucari clitorisnya. Dia mendesah, “Ahh… Enak mas… Lanjut mas.”
Kemudian keluar juga dan kubersihkan dari mulutku.

Sekarang mungkin saatnya penis saya menerobos vaginanya.
“Mbak, mungkin ini rada sakit, tapi setelah itu nikmatnya keluar,” saya bersiap memasukannya.
Tangan saya dipegang, “Mas, nanti kalo hamil gimana mas?” dengan nada khawatir.
“Kalo kamu hamil aku tanggung jawab,” jawabku berusaha menenangkan Paini.

Dia akhirnya percaya dan saya mulai lagi memasukan penis perlahan-lahan, rupanya penisku masih terlalu besar untuk vaginanya yang sempit.
“Uhh… Perih mas,” erangnya menahan kesakitan.

Kemudian saya memasukan penis 1 cm dan keluar lagi, kemudian saya masukan penis 2 cm dan keluar lagi dan terus-terus menerus dan akhirnya aku merasakan ada dinding.
“Duh, mas perih sekali.”
“Udah, kamu siap-siap ya say,” kemudian saya menekan dengan keras.
“Aahh…” Paini teriak dengan keras.

Kemudian aku mulai gerakan maju-mundur dengan posisi missionary dan sesekali saya minta agar penis saya dijepit di antara pahanya.
“Ahh… Ahh… Ahh…” muka kesakitan Paini berubah menjadi muka penuh kenikamatan.
“Ohh… Ohh… Ohh… Lebih cepat mas.”
Kemudian saya mempercepat gerakan penis saya.
“Nikmat mas, terus mas. Uhh… Ahh… Yes… Yes…” desahan Paini yang membuatku bersemangat.

Setelah itu kami berganti posisi favorit (katanya), doggy style. Saya menyuruh Paini nungging dan kemudian saya mulai menyodok vagina Paini.
“Ahh… Ahh… Mas terus mas… Ahh… Ahh…” sedangkan saya memukul pantatnya sampai merah dan setelah itu saya jambak rambutnya seperti cowgirl. Tetapi rasa sakit itu sepertinya ditutupi oleh sodokan maut penisku.

Beberapa menit kemudian Paini, “Mas… Mau pipis. Ahh…”
“Udah keluarin saja.”
Kemudian dia mengeluarkan cairan kental dan beberapa menit kemudian, *crot* *crot* saya juga mengeluarkan cairan hangat yang kental di vaginanya. Setelah itu kami french kiss dan tidur bersama di kamar tidur orangtuaku sambil bugil.

Tidak terasa sudah pagi rupanya. Paini masih tertidur pulas dan saya membanguninya.
“Mbak, bangun mbak udah jam 9 pagi mbak,” kemudian dia bangun dengan tubuh lemas.
“Loh, kok sudah jam 9 pagi.”
“Laper mbak.”
“Mas Andi mau makan apa?”
“Roti selai aja deh, gimana mbak permainan semalam? Enak nggak?”
“Enak banget mas, besok-besok lagi ya mas.”
“Iya”

“Mas, tapi nanti kalo aku hamil gimana mas?”
“Udah tenang saja, nanti beli pil anti hamil saja.”
“Mas nakal deh,” katanya mencubit putingku.
“Kamu nakal juga deh,” kemudian aku mencubit payudaranya.
“Kamu jangan pake baju dulu yach,” pintaku.
“Iya, tapi mas juga.”

Kemudian Paini pergi ke dapur dan aku pergi ke kamarku untuk mengambil CD BF pinjeman temanku untuk memberikan pendidikan macam posisi ngeseks. Kemudian terdengar suara dari dapur.
“Mas Andi, selainya rasa apa? Stroberi, coklat, nanas apa kacang?”
Kemudian muncul lagi pikiran ngeresku untuk menidurinya. “Bawa saja semua selainya. Sekalian bawa ceres sama madu sayang.”
“Buat apa?”
“Liat saja nanti.”

Kemudian kami berkumpul lagi di ruang keluarga. Saya menyetel film biru kualitas DVD. Terlihat dari cover disc-nya dengan judul hardcore xxx yang kata teman saya ngeseks di bermacam posisi dan di berbagai tempat seperti di kantor, rumah sakit, hutan, lapangan, air terjun dll. Orangya bermacam seperti Chinese, Arabian, India dan lokal, dll.

Sedangkan Paini sudah menaruh roti dan barang yang saya inginkan. Kemudian kami menonton film tersebut bersama Paini sambil makan roti. Wah rupanya film ini berdurasi 45 menit. Ternyata benar kata sohibku ini film memberi pengetahuan posisi macam-macam dan tempat setting-nya keren.

Baru menonton adegan buka baju penis saya bengkak lagi, sedangkan Paini masih santai-santai saja. Para model yang digunakan betul-betul pro, cakep dan cantik-cantik. Saya paling suka melihat salah satu adegan 1 tante-tante girang yang luar biasa cantiknya serta tubuh yang sangat sempurna dientot 3 orang. Saya juga suka melihat orang India yang mukanya seperti Aiswarya Rai yang toketnya ukuran jumbo. Saya taksir 39C, ditiduri oleh pria India perkasa. Kemudian film itu selesai.

“Mas andi, minta jatah lagi dong.”
Saya melihat paini yang wow payudaranya betul-betul membengkak, tidak seperti kemarin. Putingnya pun lebih besar. Kemudian saya menumpahkan semua sirup dan selai saya oleskan ke tubuh saya dan tidak lupa untuk memberikan ceres ke tubuh saya kemudian saya menyuruh membersihkan tubuhku dengan lidah.

Kemudian dia menjilat tubuhku dengan ganas dan terakhir mengemut penis saya. Mungkin karena kelewat nafsu yang membara. Paini mengemut dengan sangat pintar dan kemampuan sedotannya kayak mesin pompa betul-betul enak sekali tidak kaya kemarin. Sedotannya mungkin bisa membuat penis saya panjang.
“Uhh… Ahh… Alamak enaknya. Terus… Ahh… Sedot terus… Yes… Ahh… Uhh…” desahanku sambil menjambak rambutnya.

Beberapa menit kemudian saya menumpahkan mani di mulutnya dan dia langsung mengemutnya, tapi kali ini penis saya mengekrut.
“Loh mas, kok ini mengkerut sih nggak kayak kemarin?”
“Kan ini nggak pake obat sayang kayak kemarin.”
“Kalo ukurannya segini gimana masukinnya dong?”
“Semua laki-laki tuh kayak gini kalo abis keluarin peju, kamu harus bikin saya rangsangan biar ngaceng lagi.”
“Rangsangan apaan?”
“Pokoknya sesuatu yang bikin aku ngaceng seperti menari bugil atau lainnya.”
“Oh, kamu tiru ini saja, lebih gila juga boleh.”
Sebetulnya penis saya dipijit-pijit juga udah ngaceng tapi saya mencari cara untuk mengulur waktu.

Kemudian aku ke kamarku mengambil DVD porno lagi yang ceritanya seorang wanita super eksibisionis membuat pria horny. Aku menyetelnya untuk Paini, sedangkan aku kamar tidur untuk merenggangkan otot.

Setelah selesai saya melihat Paini masih menonton film itu dan beberapa menit kemudian film itu selesai. Kemudian Paini menggunakan bajunya lagi.
“Loh kok pake baju lagi?” tanyaku.
“Buat pertunjukan, nanti juga copot lagi.”
Dia menyuruhku untuk duduk di sofa agar saya bisa menikmatinya. Rupanya dia ingin meniru yang ada di film barusan. Setelah selesai pakai baju dia bilang action maka aktingnya dimulai.

Dia berjalan-jalan seperti peragawati dan matanya selalu melirik padaku dengan kedipan nakal. Kemudian dia stop di depanku. Dia jongkok dengan paha terbukan lebar memamerkan vaginanya karena tidak menggunakan kolornya kehadapanku kemudian berdiri lagi. Kemudian dia mengambil botol air mineral dan menumpahkan di rambut dan bajunya seperti tidak sengaja. Terlihatlah kedua putingnya yang menambah keseksiannya.

Dia kelihatan seperti megusap bajunya yang kemudian kedua tangan itu mengusap dadanya yang basah karena air itu. Dia seperti ketagihan mengusap payudaranya dan memegang payudaranya. Spontan burungku sudah berdiri tapi belum maksimal. Dia memilin-milin putingnya yang rupanya terangsang sendiri. Dia memuntir-muntir putingnya dan tentu desahannya, “Ahh… Uuh… Ohh…” yang membuat saya horny maksimal.

Kemudian setelah memuntir, dia duduk berhadapan di kursi. Dia terlihat membuka pahanya yang spontan sudah membuat jatah, tapi rupanya belum berakhir. Paini kemudian mengusap-usap pahanya dan mulai meraba-raba bibir vaginanya. Kemudian dia mulai memasukan 3 jari sekaligus ke dalam vaginanya. Dia mulai mengocok jarinya di vaginanya.

Pertunjukan panas ini sangat mendebarkan yang dimana ini kejadian “live show” yang sangat panas. Erangannya ketika memasukkan jarinya.
“Ahh… Uhh… Ahh…” membuat pria manapun ngaceng. Setelah berselang beberapa menit, Paini mengakhiri masturbasinya. Cairan kental sudah ada di jarinya. Saya tepuk tangan dan sebuah ciuman di jidat.

“Wah rupanya Paini pintar berakting.”
“Ah, bisa aja mas Andi. Saya kan cuma meniru yang ada di tv.”
“Karena kamu berhasil membuat saya ngaceng ayo kita bertanding.”
“Paini, boleh nggak saya anal sex?”
“Anal sex, apaan tuh?”
“Anu, ngesex tapi di pantatmu”
“Mmm…”
“Please, mungkin rada perih, tapi saya ingin coba.”
“Boleh mas.”

Kemudian Paini telungkup dan saya beri bantal di pantatnya serta penis saya sudah pas ke pantatnya.
“Saya masukin ya, sakitnya ditahan ya,”
Saya memasukan penis saya, setiap saya masukin, Paini mendesis kesakitan. Saya suruh untuk masturbasi. Saya menaikkan temponya, ternyata benar, dijepit pantat itu enak rupanya.

“Ahh… Uhh…” semakin lama semakin cepat.
“Ahh… Uhh…” eranganku.
“Ahh… Nikmat sekali dijepit pantatmu Paini!”

Beberapa menit kemudian saya menghentikan aksi ini. Saya kasihan Paini merasa kesakitan. Saya suruh untuk berbalik badan, rupanya dia sudah berlinangan air mata. Saya mengecup matanya.
“Sudah Paini.”
“Loh mas kok nggak sampai puncak?”
“Saya kasihan sama kamu Paini.”
“Ah, gapapa kok mas sampai selesai, yang penting mas Andi senang.”
“Udah nggak saya terusin analnya, sekarang gini aja, kamu di atas saya di bawah, kamu pasti senang.”

Kemudian kita bertanding dengan posisi woman on top atau wanita di atas. Dengan posisi ini saya melihat wajah Paini berubah 360 derajat.
“Ahh… Uhh…” desahan ini selalu keluar apabila Paini memasukkan penisku.
Semakin lama desahannya semakin menjadi.
“Wow, Yes… Ahh… Yes…” semakin lama temponya semakin cepat dan akhirnya, “Mas, Paini mau keluar.”
“Mas Andi juga keluar, kita keluar sama-sama yuk.”
“Kita hitung ya. Tiga…”
“Dua…”
“Satu…”
*crot* *crot* Akhirnya kami langsung lemas bersama.

“Ayo paini, kita bikin penutupan.”
“Iya mas.”
“Sekarang kamu pijit-pijit penis saya biar berdiri lagi.”
Kemudian Paini memijit batang kemaluanku dan akhirnya ngaceng lagi.
“Sekarang kita bertanding di kamar mandi sambil mandi biar bersih.”
“Mau di kamar mandi, di dapur, siapa takut!”
Saya heran dengan ini cewek kok nggak capek ngeseks ya. Mungkin gara-gara pengalaman pertama.

Saya gotong dia ke kamar mandi dan saya setel air hangat kemudian kami saling menyabuni dan membilas satu dengan lainnya. Setelah itu kami sikat gigi dengan cara unik. saya sikat gigi dengan odol yang banyak sekali. Saya sikat sehingga busanya bertumpahan. Busa itu saya tranfer lewat french kiss yang lama dan saya begitu juga kumur-kumur tapi airnya air bersih maksudnya air yang dari keran saya masukan ke mulut saya langsung saya beri ke Paini jadi tidak saya gunakan kumur dahulu.

Setelah itu kita ngeseks posisi standing yaitu Paini saya senderkan di tembok kemudian kakinya ditekuk ke atas dan saya menembus vaginanya. Rupanya posisi ini membuat saya menguras banyak energi dan bikin capek, tetapi tertutupi oleh kenikmatan duniawi dan setelah beberapa menit saya mengeluarkan mani terakhir saya di vaginanya dan kami saling mengeringkan badan dan memakai baju kembali dan setelah ini Paini merapikan rumah.

Sejak peristiwa ini kami sering melakukan hubungan sumai istri apabila di rumah hanya kami berdua. Dan karena sex ini mendongkrak nilai rapor saya lebih bagus. Kalau ulangan nilai saya menjadi lebih bagus dan tanpa menyontek. Bahkan nilai UAN saya 100 besar se-Jawa Timur. Bahkan saya bisa masuk universitas terkemuka di Bandung. Meskipun jauh dengan kampung halaman sesekali kami masih berhubungan badan apabila saya pulang kampung. Dan apabila saya di Bandung, saya selalu menyuruh Paini untuk merawat payudaranya dan meminum jamu perapet vaginanya.

Tetapi sayang, ketika saya sudah semester II, dia mengundurkan diri dengan alasan ingin menikah. Tapi rupanya dia ke Surabaya kata ibunya. Kata ibunya juga dia mengubah nama menjadi Aini, mungkin ingin menghilangkan image kedesaannya. Kata ibunya dia ke sana menjadi perawat, tetapi saya kurang percaya karena dia tidak bersekolah keperawatan. Entah tidak tahu kenapa dia ke Surabaya mungkin mendapatkan pekerjaan baru disana apa jual diri di Dolly. Selamat tinggal Paini si toket gede.

Tamat