Dirk Paulsen Menafkahi Keluarga Dari Hasil Judi Bola Profesional

292
Dirk Paulsen Professional Gambler. (foto: MataNaga)

MataNaga – Dirk Paulsen terlihat seperti seorang pria riang normal berumur awal 60’an. Tapi ada yang membedakan dia dari pria-pria lain sebaya: dia mencari nafkah dari berjudi.

Dirk adalah gabungan dari kepribadian seorang pejudi gila. Dia jenius matematika sekaligus penggemar fanatik sepakbola. Bukannya menjadi korban dari kecanduan berjudi—seperti jutaan manusia lainnya yang menghambur-hamburkan uang untuk taruhan lalu menyesal dengan berbotol-botol arak— Dirk justru bisa menopang keluarga dari hobi berjudi.

Kisah hidupnya terdengar gila, tapi setelah ngobrol-ngobrol bareng dia sekian menit, kami mulai mengerti kenapa dia memilih judi sebagai caranya mencari nafkah. Berikut ringkasan obrolan kami bersamanya:

Kamu tinggal bersama keluarga di satu apartemen besar. Kamu mencari nafkah dari berjudi, kalau sampai kalah anakmu ga makan, cicilan apartemen nunggak. Kalau udah gini tekanan untuk selalu menang buatmu besar ga sih?

Dirk Paulsen: Tekanannya sangat tinggi. Terutama karena selalu ada godaan untuk bertaruh melawan statistik dan mengikuti insting pribadi. Masalahnya kamu bisa kehilangan banyak uang kalau tidak berpikir secara rasional. Sekarang, saya sudah punya cukup pengalaman untuk selalu bertaruh dengan kepala jernih. Jarang saya salah.

Ceritain dong pengalamanmu kalah pasang taruhan paling besar?
Hingga 2008, saya selalu bertaruh sendiri [Paulsen sekarang memiliki “partner bisnis”]. Pendapatan mingguan saya waktu itu lebih dari Rp158 juta. Tapi pernah juga saya kehilangan Rp474 juta. Sesekali pasti ada periode dimana kami sedang tidak beruntung. Tapi kamu harus selalu bisa bangkit. Di sisi lain, kamu harus bisa mempertahankan periode yang baik selama mungkin tanpa ‘kelepasan’.

Kamu biasanya berjudi dalam sepakbola. Perkara bola masuk ke gawang atau tidak masalah hoki-hokian, bagaimana kamu melakukan perhitungan?
Saya mengembangkan sebuah program menggunakan rumus matematika. Perjudian saya tidak ada hubungannya sama sekali dengan keberuntungan. Saya tidak pernah menggunakan insting semata. Semuanya menurut perhitungan.

Kamu dulu kuliah apa sih? Emang dari dulu pengen jadi pejudi?
Saya kuliah matematika, tapi mulai sering main-main dari dulu. Saya mengembangkan program perhitungan judi pas kuliah dan mulai masuk ke dunia perjudian: backgammon, blackjack. Barulah nantinya saya mulai berjudi dalam sepakbola.

Umur berapa pas mulai bertaruh pertama kali?
Kayaknya pas 24 tahun. Pertamanya ada teman menunjukkan slip judi dari SSP Overseas Betting. Dulu kamu harus ikut berjudi secara lisan. Awalnya saya tidak mengerti apa-apa, tapi saya ikutan aja. Saya sewot karena kita kalah 10 angka. Setelah itu saya mulai berpikir dan melakukan perhitungan. Kapan mulai menang menggunakan program-mu? Kami bertaruh secara profesional untuk pertama kalinya di Piala Eropa 1988. Kami memenangkan 4.000 angka. Kemudian ketika Piala Dunia 1990 dimulai, program saya sudah selesai ditulis. Kami sukses luar biasa. Setelah Piala Dunia tersebut, saya meninggalkan pekerjaan sebagai seorang programmer, dan menjadi pejudi full-time.

Nekat juga ya.
Kedengarannya emang gila, tapi emang saya jago banget berjudi. Ketika berumur 26 tahun, saya memenangkan Rp263 juta dari kejuaraan dunia backgammon di Monte Carlo. Saya bukan modal nekat doang. Saya emang yakin ini bakal sukses.

Sebagai anak muda yang memiliki Rp263 juta, di tengah Monte Carlo, kamu mulai besar kepala gak?
Iya. Besar kepala pakai Banget. Saya melakukan beberapa hal bodoh—dan menghibur diri sendiri. Perempuan dapat melihat pria mana yang sukses, dan Monte Carlo adalah kota yang cocok untuk bersenang-senang. Setelah kemenangan tersebut, saya bepergian selama enam minggu dan terus berjudi.

Menurutmu, berjudi bikin ketagihan enggak?
Enggak juga. Akhirnya waktu itu saya meninggalkan Monte Carlo. Saya sadar waktu itu saya sedang beruntung banget dan pasti cepat lambat akan berakhir. Saya datang ke Monte Carlo dengan 5.000 nilai, dan setelah enam minggu berpesta dan bersenang-senang, saya pergi ke St. Tropez, Nice and Paris. Untungnya saya bisa kembali ke Berlin tanpa kehilangan uang.

Apa yang membedakan kamu dari pejudi lainnya?
Saya tidak memiliki tim atau angka favorit. Saya selalu menggunakan sains dan matematika. Saya menciptakan statistik, sesuatu yang menarik perhatian Sky, tim, pelatih, manajer, reporter olahraga—semua oranglah. Saya memiliki angka yang lebih tepat dan model performance yang berbeda. Saya juga menciptakan rasio keberuntungan agar saya bisa menghitung peluang kemenangan.

Bagaimana caranya mengukur tingkat keberuntungan sebuah tim sepakbola?
Saya jelaskan menggunakan sebuah contoh. Misalnya Werder Bremen sedang menyerang dan memiliki peluang untuk menembak dari jauh—mungkin sekitar 20 meter dari gawang lawan—mereka akan mengambil peluang mereka. Mereka akan menembak, tapi peluang itu jadi gol kecil sekali. Seorang pemain Bayern justru akan mencari teman yang berada di posisi lebih baik untuk dioper sebelum menembak.

Ditambah lagi fakta bahwa tim dengan penyerangan yang lebih baik cenderung menggunakan peluang dengan lebih baik juga. Jadi biarpun Lewandowski memiliki peluang mencetak gol yang sama dengan Hosiner dari Cologne, misalnya, 50 persen waktu Lewandowski akan mengkonversi peluang menjadi gol, sementara Hosiner hanya memiliki rate 25 persen.

Bagaimana orang bereaksi setelah mendengar kamu pejudi profesional?
Ada semacam ucapan populer, “Kalau anda bertaruh, anda pasti untung-untungan.” Ini omong kosong. Bertaruh itu menggunakan hitungan matematika yang adil dan logis. Untungnya sekarang pandangan ini sudah lebih diterima sekarang. Dulu, generasi tua sering mempermasalahkan ini. Hari gini, ini sudah bukan masalah lagi.

Lalu gimana menjelaskan ke anak-anakmu kalau cari nafkah dengan cara berjudi?
Anak-anak saya yang lebih muda mulai mengerti sedikit-sedikit. Mereka mengerti bahwa kami memiliki uang dan kebutuhan mereka terpenuhi. Ketika ditanya di sekolah tentang pekerjaan orang tua mereka, saya tidak tahu apa jawaban mereka. Palingan jawab, “Ya berhubungan sama perjudian sepakbola.” Mereka enggak malu kok.

Apakah kamu pernah khawatir dicap sebagai contoh buruk masyarakat karena melakoni profesi pejudi?
Anak saya yang tertua berumur 18 tahun dan akhir-akhir ini sedang mencari pekerjaan. Saya tawarkan dia pekerjaan membantu saya. Dia berada di kantor saya selama seminggu dan mulai mengenal program, statistik, ranking saya dan sebagainya. Menunjukkan dia cara saya bekerja rasanya seperti menurunkan warisan. Tidak ada orang lain yang bisa menggunakan program saya selain saya. Jadi saya tidak memberikan contoh buruk apapun.

Baca juga:
Mengenal Microgaming Lebih Dekat
Pengalaman Menarik Bermain Judi Online
Kisah Nyata: Pengalaman Pertama Kali Bermain Judi Online
5 Rahasia Menang Judi Bola Online
5 Tips Jika Kalah Judi Online