Legalisasi Judi, Jakarta dan Bang Ali Sadikin

182
Legalisasi Judi, Jakarta, dan Bang Ali Sadikin. (Foto: MataNaga)

MataNaga – Copacobana Casino adalah gedung yang terletak persis di sebelah kiri Hotel Mercure, di kawasan Taman Impian Jaya Ancol, tampak tak terawat walaupun pernah dipakai sebagai tempat fitness dan spa. Padahal puluhan tahun lalu, ini lah salah satu kasino di Jakarta yang selalu dijejali orang-orang berduit.

Pada masa jayanya lantai dua gedung itu disediakan khusus untuk mengadu untung lewat permainan keno. Kursi yang ditempeli asbak berderet memenuhi ruangan besar, menghadap sebuah layar yang memancarkan nomor keno yang keluar pada suatu permainan.

Bagi pengunjung berkantong lebih tebal disediakan ruang VIP atau Royal Room yang terletak di sebelah kiri eskalator. Tak sembarang orang boleh masuk. Sekurang-kurangnya tiga penjaga akan meneliti tiap pengunjung. Hanya mereka yang sudah dikenal sebagai penjudi bertaruhan besar yang diperkenankan melewati penjaga.

Richard Borsuk dan Nancy Chang dalam bukunya, Liem Sioe Liong’s Salim Group: The Business Pillar of Suharto’s Indonesia,menulis Atang Latief atau yang dikenal dengan sebutan Apiang Jinggo juga memiliki saham di kasino tersebut dan Hotel Horison. “(Pembangunannya) mestinya atas izin DKI atau Bang Ali,” kata Sutisna.

Walaupun banyak sekali yang yang mengkritik, Gubernur Ali Sadikin jalan terus dengan keputusannya melegalkan dan melokalisasi perjudian di Jakarta. Selain Copacabana, juga ada kasino di Djakarta Theatre, Proyek Senen dan Petak Sembilan di daerah Glodok.

Bang Ali berkeras bahwa sikapnya itu memiliki landasan hukum. UU No. 11 tahun 1959 tentang Peraturan Pajak Daerah kata Bang Ali memungkinkan Pemerintah Daerah memungut pajak atas izin perjudian.

“Hanya saja gubernur-gubernur lain tidak berani melakukannya,” ujar Bang Ali seperti yang dikutip dari Biografi Bang Ali Demi Jakarta 1966-1967. “Saya berani, untuk keperluan rakyat Jakarta.”

Menurut Bang Ali, DKI Jakarta saat itu benar-benar memerlukan dana untuk membangun jalan dan fasilitas umum. Tentu saja tak semua orang setuju. Tapi Bang Ali tetap kukuh pada pendiriannya.

“Bapak-bapak kalau masih mau tinggal di Jakarta sebaiknya beli helikopter saja. Karena jalan-jalan di DKI Jakarta dibangun dengan pajak judi.” Judi pun menurut Bang Ali hanya ditujukan pada golongan tertentu saja atau warga negara asing.

“Kalau ada orang Islam yang berjudi itu bukan salah gubernur, tetapi keislaman orang itu yang bobrok. Dan sebagai umat Islam saya sendiri tidak pernah berjudi.”

Berkat pajak judi saat itu, isi brankas pemerintah DKI Jakarta yang semula kering kerontang mulai terisi. Dengan pajak dari judi itu pula, Ali Sadikin mengongkosi pelbagai proyek di Jakarta seperti Taman Ismail Marzuki dan proyek perbaikan kampung-kampung.

Ketika jabatan Ali Sadikin di Balai Kota berakhir pada 1977, para pengusaha judi kehilangan “pelindung” utamanya.

Pada April 1981, Kasino Copacabana di Ancol ditutup untuk selamanya oleh Gubernur Tjokropranolo. Gubernur berdalih bahwa penutupan itu merupakan perintah bos di Istana Negara. “Ini sudah perintah Pak Harto. Judi harus dihapus, bukan dialihkan ke tempat lain,” kata Gubernur Tjokropranolo dikutip majalah Forum Keadilan, edisi Agustus 1995.

Baca juga:
5 Negara yang Melegalkan Judi
5 Casino Terbesar di Dunia, 3 Di Antaranya Berada di Asia
Ibukota Perjudian di Dunia Yang Selama Ini Jarang di Ketahui