Penyaliban: Hukuman Paling Mengerikan di Dunia

152
Penyaliban
Penyaliban Hukuman Paling Mengerikan di Dunia. (Foto: MataNaga)

MataNaga – Penyaliban merupakan salah satu bentuk eksekusi yang terkejam yang pernah ada di dunia. Esensi dari penyaliban bukanlah kematian itu sendiri, melainkan penderitaan saat menjelang kematian.

Dengan demikian, kematian merupakan suatu hal yang sangat diinginkan oleh orang yang disalib.

Berbeda dengan cara eksekusi terpidana mati pada masa sekarang, proses penyaliban memerlukan waktu yang relatif lama sehingga saat-saat penderitaanpun menjadi panjang.

Dibandingkan hukuman gantung, kursi listrik, suntikan mati, kamar gas, tembak mati, pancung, dan sebagainya, yang hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja menjelang kematian, penyaliban membutuhkan waktu berjam-jam.

Penyaliban, diduga diciptakan oleh orang-orang Persia pada tahun 300 SM, dan disempurnakan oleh orang-orang Romawi pada tahun 100 SM.

Penyaliban adalah salah satu bentuk hukuman yang diterapkan dalam Kekaisaran Romawi, dan orang yang paling terkenal karena hukuman salib oleh pemerintah Romawi adalah Yesus Kristus.

Pada zaman Yesus, para pemberontak dan pelaku kriminal dihukum dengan cara disalib.

Jutaan orang Kristiani pada Jumat Agung (menjelang Paskah) mengenang tentang penderitaan Yesus Kristus dan kematian-Nya di kayu Salib sebelum kebangkitannya pada hari paskah.

Dalam Kristiani, diyakini bahwa Yesus Kristus disalib untuk menebus dosa-dosa manusia.

Berikut ini detail-detail anatomi dan fisiologi kematian akibat Penyaliban yang dikumpulkan dalam penyelidikan Dr. C. Truman Davis, yang dipublikasikan di New Wine Magazine.

1. Ini adalah kematian yang paling menyakitkan yang pernah diciptakan manusia, dari mana kita mendapatkan istilah excruciating (“siksaan yang luar biasa”).

2. Penyaliban Yesus memberi “jaminan” akan kematian yang mengerikan, lambat, dan menyakitkan. Setelah dipaku di kayu Salib, Yesus sekarang mendapatkan posisi anatomi yang mustahil untuk dipertahankan.

3. Lutut Yesus ditekuk sekitar 45 derajat, dan Dia dipaksa menanggung berat badan-Nya dengan otot-otot paha-Nya, yang bukan merupakan posisi anatomi yang mungkin untuk dipertahankan selama lebih dari beberapa menit tanpa mengalami kram parah pada otot-otot paha dan betis.

4. Berat badan Yesus ditanggung di kaki-Nya, dengan paku yang dipasakkan menembus kaki-kaki-Nya. Sementara kekuatan otot-otot paha dan betis Yesus melemah karena kelelahan, berat tubuh-Nya harus dipindahkan ke pergelangan tangan-Nya, lengan-Nya, dan bahu-Nya.

5. Dalam beberapa menit setelah dipakukan di kayu Salib, bahu-bahu Yesus dislokasi (terlepas).

6. Beberapa menit kemudian siku-siku dan pergelangan tangan Yesus dislokasi.

7. Akibat dislokasi ekstremitas (anggota tubuh) bagian atas ini adalah bahwa lengan-Nya 23 cm lebih panjang dari ukuran normalnya.

8. Setelah kedua pergelangan tangan Yesus, siku dan bahu-Nya dislokasi, berat tubuh-Nya pada tungkai atas-Nya menyebabkan gaya-gaya tarikan pada otot-otot Pectoralis Mayor dari rongga dada-Nya.

9. Gaya-gaya tarikan ini menyebabkan tulang rusuk-Nya tertarik ke atas dan ke arah luar, dalam kondisi yang paling tidak wajar.

10. Rongga dada-Nya secara permanen berada dalam posisi inspirasi (tarikan) pernapasan maksimal.

11. Untuk mengeluarkan napas, Yesus secara fisiologis harus memaksa tubuh-Nya.

12. Untuk mengeluarkan napas, Yesus harus mendorong paku di kaki-Nya untuk mengangkat tubuh-Nya, supaya memungkinkan tulang rusuk-Nya bergerak ke bawah dan ke dalam untuk mengeluarkan udara dari paru-paru-Nya.

13. Tidak seperti semua film-film Hollywood tentang Penyaliban dimana sang aktor diam tak bergerak, korban Penyaliban sesungguhnya akan bergerak sangat aktif. Korban yang disalibkan itu secara fisiologis dipaksa untuk bergerak ke atas dan ke bawah pada tiang Salib, dengan jarak sekitar 30 cm, hanya supaya bisa bernapas.

14. Proses respirasi (pernapasan) menyebabkan rasa sakit yang luar biasa, dicampur dengan teror mutlak asphyxia (sesak napas).

Baca juga:
Dua Pembunuh Calon Pendeta Terancam Hukuman Mati