Sejarah Asian Games (Pt. 1)

213
Asian Games.

MataNaga – Asian Games adalah event tertua dan paling bergengsi dalam kalender Olympic Council of Asia/OCA (Dewan Olimpiade Asia), yang edisi perdananya dimulai di tahun 1951.

Seperti Olimpiade, event ini diselenggarakan setiap empat tahun sekali. Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang, Indonesia akan menjadi edisi ke 18.

Olahraga-olahraga yang dipertandingkan mengikuti program olahraga Olimpiade, dengan cabang atletik dan renang menjadi cabang olahraga inti, yang juga akan menampilkan cabang olahraga lain yang mencerminkan beragam budaya olahraga dari benua Asia seperti sepak takraw dari Asia Tenggara, Kabaddi dari Asia Selatan dan Wushu dari Asia Timur.

1. New Delhi 1951

Edisi pertama dari Asian Games diselenggarakan di New Delhi pada bulan Maret 1951. Buntut dari Perang Dunia Kedua artinya Jepang dilarang mengikuti Olimpiade 1948 di London.

Mereka tidak diundang ke pertemuan pendirian Asian Games Federation (pendahulu OCA) di tahun 1949 tetapi negara tersebut diperbolehkan bertanding di edisi perdana Asian Games.

Namun Korea Selatan tidak berpartisipasi karena Perang Korea, yang mana dimulai di tahun sebelumnya dan baru akan berakhir di tahun 1953.

Asian Games dibuka secara resmi oleh Presiden India Rajendra Prasad di Stadion Nasional Dhyan Chand. Total 489 atlet dari 11 Komite Olimpiade Nasional bertanding dalam 12 cabang olahraga.

Jepang memuncaki klasemen medali dengan 24 medali emas, 21 medali perak dan 15 medali perunggu. Total 169 medali diberikan.

2. Manila 1954

Edisi kedua dari Asian Games diselenggarakan di Manila pada bulan Mei 1954. Asian games edisi ini secara resmi dibuka oleh Presiden Filipina Ramon Magsaysay di Rizal Memorial Stadium.

Total 970 atlet dari 19 Komite Olimpiade Nasional bertanding dalam 8 cabang olahraga.

Sekali lagi, Jepang memuncaki klasemen medali dengan 38 medali emas, 36 medali perak dan 24 medai perunggu. Total 218 medali diberikan.

3. Tokyo 1958

Torch Relay (pawai/estafet obor), yang sampai saat ini telah menjadi aspek tradisi menjelang Olimpiade dan Commonwealth Games (Pesta Olahraga Persemakmuran), diperkenalkan sebagai tradisi baru dari Asian Games di Asian Games Tokyo 1958.

Pawai obornya dimulai di Rizal Memorial Coliseum, yang merupakan venue utama dari Asian Games sebelumnya di Manila.

Di Jepang, obor tersebut dibawa dari Pulau Okinawa yang diduduki Amerika Serikat sampai ke Prefektur Kagoshima yang terletak di Pulau Kyushu untuk perjalanan sepanjang Kepulauan Jepang.

Total 1.820 atlet dari 16 negara bertanding dalam 13 cabang olahraga di bulan Mei dan Juni. Api sakral tersebut dinyalakan di upacara pembukaan oleh atlet triple jump (lompat jangkit) Mikio Oda, yang tiga dekade sebelumnya menjadi juara Olimpiade pertama Jepang saat memenangkan medali emas di Amsterdam pada tahun 1928.

Asian Games edisi ini secara resmi dibuka di Stadion Nasional Jepang oleh Kaisar Hirohito. Dan sekali lagi Jepang memuncaki klasemen medali dengan 67 medali emas, 41 medali perak dan 30 medali perunggu. Total 302 medali diberikan.

4. Jakarta 1962

Edisi keempat dari Asian Games diselenggarakan di Jakarta di bulan Agustus dan September 1962.

Di balik layar politik memainkan peran besar, pemerintah Indonesia yang mendapat tekanan dari negara-negara Arab dan Tiongkok menolak mengeluarkan visa untuk delegasi dari Israel dan Taiwan.

Meskipun demikian total 1.460 atlet dari  12 negara bertanding dan bulu tangkis melakukan debutnya sebagai salah satu cabang olahraga dari 13 cabang olahraga yang dipertandingkan.

Asian Games edisi ini dibuka secara resmi oleh Presiden Indonesia Soekarno di Stadion Gelora Bung Karno. Jepang memuncaki klasemen medali dengan 73 medali emas, 65 medali perak dan 23 medali perunggu. Total 381 medali diberikan.

5. Bangkok 1966

Edisi kelima dari Asia Games diselenggarakan di Bangkok pada bulan Desember 1966.

Taiwan dan Israel kembali bertanding di Asian Games dan total 1.945 atlet dari 16 negara terlibat dalam event ini.

Olahraga voli putri membuat debutnya sebagai salah satu cabang olahraga dari 14 cabang olahraga yang dipertandingkan.

Asian Games edisi ini mendapatkan persetujuan Kerajaan Thailand, dibuka secara resmi oleh Raja Thailand, Bhumidol Adulyadej di Stadion Nasional Thailand.

Jepang memuncaki klasemen medali dengan 78 medali emas, 53 medali perak dan 33 medali perunggu. Total 454 medali diberikan.

6. Bangkok 1970

Asian Games kembali diselenggarakan di Bangkok setelah tuan rumah awal Seoul membatalkan pencalonan mereka karena menerima ancaman keamanan dari Korea Utara.

Thailand mementaskan Asian Games edisi ini di bulan Agustus dan September dengan bantuan dana dari Korea Selatan.

Total 2.400 atlet dari 16 negara bertanding dengan olahraga layar melakukan debutnya sebagai salah satu cabang olahraga dari 13 cabang olahraga yang dipertandingkan.

Sekali lagi Asian Games edisi ini dibuka secara resmi oleh Raja Thailand Bhumibol Adulyadej di Stadion Nasional Thailand.

Penyala kaldron (obor/panci raksasa) adalah Preeda Chullamondhol, atlet sepeda Thailand yang bertanding di Olimpiade 1964 Tokyo.

Jepang memuncaki klasemen medali dengan 74 medali emas, 47 medali perak dan 23 medali perunggu. Total 427 medali diberikan.

7. Tehran 1974

Edisi ketujuh dari Asian Games diselenggarakan di Tehran di bulan 1974 saat event yang berlangsung empat tahun sekali ini diselenggarakan di Timur Tengah untuk pertama kalinya.

Kompleks Olahraga Azadi dibangun secara khusus untuk Asian Games dan ibukota dari Iran ini menjadi tuan rumah untuk jumlah rekor atlet 3.010 dari 19 negara.

Anggar, senam dan basket putri ditambahkan ke disiplin yang telah ada sehingga ada 16 cabang olahraga yang dipertandingkan.

Sebagai tambahan dari penggunaan teknologi State of the Art (SOTA), mulai dari trek sintesis sampai kamera foto-finish, Asian Games edisi ini diketahui melakukan tindakan keamanan yang ketat karena laporan ancaman dari sekte militan Palestina dan Jepang.

Politik memainkan peran besar saat negara-negara Arab, Tiongkok, Korea Utara dan Pakistan menolak menghadapi Israel di pertandingan basket, anggar, sepakbola dan tenis.

Konferensi Asian Games Federation, yang diselenggarakan 10 bulan sebelum Asian Games edisi ini, memutuskan mengeluarkan Taiwan dan menerima Tiongkok.

Asian Games edisi ini dibuka secara resmi oleh Mohammad Reza Pahlavi, Syah Iran, di Stadion Aryamehr. Pegulat gaya bebas Iran Mansour Barzegar menyampaikan sumpah atlet, sementara Golverdi Peymani menyalakan kaldron.

Jepang memuncaki klasemen medali dengan 75 medali emas, 49 medali perak dan 51 medali perunggu. Total 601 medali diberikan.

8. Bangkok 1978

Edisi kedelapan dari Asian Games diselenggarakan di Bangkok pada bulan Desember 1978 – ketiga kalinya Asian Games diselenggarakan di ibukota negara Thailand.

Tuan rumah awal Singapura tidak mampu memenuhi kewajiban meraka karena alasan finansial.

Ibukota Pakistan Islamabad kemudian terpilih untuk menyelenggarakan event ini tetapi menarik diri juga karena konflik dengan Bangladesh dan India.

Sehingga Bangkok maju dan kembali menjadi tuan rumah Asian Games. Karena politik, Israel dikeluarkan dari Asian Games edisi ini.

Total 3.842 atlet dari 19 negara bertanding dalam 19 cabang olahraga. Cabang olahraga yang membuat debut adalah panahan dan bowling.

Asian Games ini dibuka secara resmi oleh Raja Thailand, Bhumidol Adulyadej di Stadion Nasional Thailand.

Jepang memuncaki klasemen medali dengan 70 medali emas, 58 medali perak dan 49 medali perunggu. Total 625 medali diberikan.

9. New Delhi 1982

Edisi kesembilan dari Asian Games diselenggarakan di New Delhi pada bulan November dan Desember 1982.

Ini menandakan kembalinya Asian Games di New Delhi, tuan rumah dari edisi perdana Asian Games di tahun 1951. Dengan demikian New Delhi bergabung dengan Bangkok sebagai kota yang menyelenggarakan Asian Games lebih dari satu kali.

Edisi 1982 adalah Asian Games pertama yang didukung oleh OCA (penerus Asian Games Federation). Asian Games Federation, yang mengadakan delapan Asian Games pertama, dibubarkan.

Dari tahun 1980an, Asian Games berkembang pesat. Total 3.411 atlet dari 23 negara bertanding dalam 21 cabang olahraga. Cabang olahraga yang membuat debut adalah berkuda, golf, bola tangan, hoki lapangan putri dan dayung, sementara bowling dan anggar tersisih.

New Delhi 1982 menandai awal dominasi Tiongkok dalam klasemen medali, mengakhiri rentetan kemenangan secara menyeluruh Jepang pada semua edisi sebelumnya dari Asian Games.

Tiongkok mengumpulkan 61 medali emas, 51 medali perak dan 41 medali perunggu. Dalam persiapan untuk Asian Games edisi ini, televisi berwarna telah diperkenalkan di India dan memungkinkan Asian Games disiarkan menggunakan teknologi terbaru.

Asian Games edisi ini juga pantas dikenang karena alasan lain. Ini adalah Asian Games pertama yang memperkenalkan maskot, dengan Appu – seekor gajah yang diklaim ofisial India merepresentasikan kesetiaan, kebijaksanaan dan dan kekuatan – terpilih.

Korea Selatan, yang nantinya akan menyelenggarakan Asian Games 1986 dan Olimpiade 1988 di Seoul, mempunyai delegasi sebanyak 406 orang di New Delhi 1982. Jumlah tersebut termasuk satu tim pengamatan untuk mempelajari event, fasilitas dan manajemen.

Asian Games edisi ini dibuka secara resmi oleh Presiden India Zail Singh di Stadion Jawaharlal Nehru. Pilavullakandi Thekkeparambil Usha (P. T. Usha), salah satu atlet terhebat India, membacakan sumpah atlet. Standar sepanjang masa meningkat dengan 74 rekor Asian Games dan rekor Asia dipecahkan. Total 614 medali diberikan.

Baca juga: Sejarah Asian Games (Pt. 2)