Para Ahli Mengklaim COVID-19 Berasal dari India

46
COVID-19 Berasal dari India
Ilustrasi. (Foto: NPR)

Jakarta – Setelah diduga lebih dulu muncul di Eropa, kini sebuah studi menyebut COVID-19 kemungkinan besar berawal dari India. Studi dimuat dalam jurnal medis The Lancet berjudul The Early Cryptic Transmission and Evolution of Sars-CoV-2 in Human Hosts.

Para peneliti meneliti dan menghitung mutasi jenis virus Corona pada 17 negara. Diduga bahwa mutasi Corona di beberapa negara ditemukan lebih sedikit daripada yang dilaporkan pada sampel pertama Corona di Wuhan.

Dikutip dari Daily Star, para peneliti mengklaim strain atau jenis Corona yang paling sedikit bermutasi, ditemukan di delapan negara yaitu Australia, Bangladesh, Yunani, AS, Rusia, Italia, India, dan Republik Ceko.

Namun, para peneliti menyebut virus Corona COVID-19 tak dapat ‘melompat’ ke manusia dari semua tempat ini di waktu yang sama. Disimpulkan, wabah COVID-19 pertama pasti terjadi di wilayah dengan keragaman genetik.

“Tidak ada tempat yang lebih beragam secara genetik selain India dan Bangladesh,” jelas peneliti.

Menurut teori para peneliti, cuaca ekstrem mungkin berpengaruh memicu pandemi, merujuk pada Mei 2019 ketika India mengalami musim panas terpanjang kedua.

“Ini berarti lebih banyak manusia dan hewan berbagi sumber air minum,” sebutnya.

“Informasi geografis strain yang paling sedikit bermutasi dan keanekaragaman strain menunjukkan bahwa anak benua India mungkin menjadi tempat penularan Sars-CoV-2 dari manusia ke manusia yang paling awal terjadi,” tulis kesimpulan jurnal tersebut.

Namun, tak sedikit yang mengkritik hal ini termasuk WHO. Pakar WHO menyebutkan dugaan asal-muasal Corona berada di luar China hanyalah spekulatif saja.

Begitu juga respons David Robertson dari Universitas Glasgow mengatakan kepada Mail Online bahwa makalah itu ‘sangat cacat’ dan mengatakan itu tidak menambah pemahaman kita tentang virus Corona.

“Memilih urutan virus yang tampaknya memiliki perbedaan paling sedikit dari yang lain dalam kumpulan acak tidak mungkin menghasilkan kesimpulan seperti itu,” jelas Marc Suchard, seorang ahli dari University of California.