Mengenal Judi Tradisional Jepang, Cho-Han Bakuchi

38

DISCLAIMER: Perjudian atau judi online adalah suatu hiburan yang menyenangkan untuk jutaan orang di dunia namun untuk sebagian kecil orang perjudian atau judi online dapat menyebabkan masalah keuangan yang parah. Ingatlah bahwa perjudian atau judi online adalah suatu permainan hiburan belaka. Sama seperti hiburan lainnya, hiburan perjudian atau judi online adalah sebuah bentuk pengeluaran.

Setiap negara pastinya memiliki permainan judi tradisional masing-masing. Di Jepang, misalnya memiliki berbagai permainan judi tradisional, salah satunya Cho-Han Bakuchi. Cho-Han Bakuchi atau Cho-Han merupakan permainan judi tradisional asal Jepang yang menggunakan dadu. 

Permainan Cho-Han Bakuchi dimainkan secara turun temurun dari zaman dahulu hingga saat ini dengan sistem taruhan berupa uang atau lainnya. Cho-Han Bakuchi dimainkan secara kelompok dengan seorang bandar dan beberapa pemain. 

BACA JUGA

Biasanya permainan ini diikuti dengan tradisi minuman keras seperti minuman tradisional khas Jepang yaitu sake, bir, dan minuman beralkohol lainnya. Tradisi minum minuman beralkohol ini dilakukan sebagai taruhan. Jika, salah satu pemain kalah dalam permainan, maka dia harus meminum seteguk minuman alkohol tersebut.

Cho-Han Bakuchi juga sering diperlihatkan dalam film, serial, anime Jepang dan negara lainnya. Kini Cho-Han Bakuchi juga dapat dimainkan dalam sejumlah game untuk perangkat mobile, PC dan konsol game.

Sejarah Cho-Han Bakuchi

Cho-Han Bakuchi awalnya dimainkan oleh para pejudi keliling yang akrab disapa Bakuto sekitar abad ke 

18 sampai 20 di Jepang. Sekedar informasi, Bakuto sendiri merupakan cikal bakal dari mafia Jepang yaitu Yakuza. Hingga saat ini, Cho-Han Bakuchi masih dimainkan dan dikelola oleh Yakuza Jepang.

Cho-Han Bakuchi dimainkan oleh beberapa orang dengan salah seorang bertindak sebagai bandar dari zaman dahulu hingga sekarang. Pada fase awal, Chou-Han tradisional mengharuskan para pemain duduk di lantai yang beralaskan tatami. 

Saat itu, sang bandar duduk dengan posisi duduk tradisional Jepang, yaitu Seiza. Duduk Seiza dilakukan dengan cara meletakkan lutut di lantai, lalu kaki dilipat ke belakang serta bokong menimpa betis kaki. 

Kebanyakan yang menjadi bandar adalah kaum pria, dan ada juga wanita. Biasanya kaum pria yang menjadi bandar bertelanjang dada untuk mencegah tuduhan kecurangan. Sementara untuk kaum wanita menggunakan pakaian dalam.

Hingga di zaman modern ini, kurang lebih sistem permainan dalam Cho-Han Bakuchi mirip dengan permainan zaman dulu. 

Sistem Permainan Cho-Han Bakuchi

Permainan judi ini menggunakan dua buah dadu dengan enam sisi standar, yang biasanya diletakkan di dalam cangkir atau mangkok oleh bandar. Biasanya cangkir atau mangkok tersebut terbuat dari bambu atau bahan lainnya. Dadu tersebut diletakkan di dalam cangkir atau mangkuk dalam posisi terbalik di lantai.

Cho-Han Bakuchi sendiri berasal dari kata Cho yang berarti genap dan Han yang artinya ganjil. Sesuai namanya, para pemain Cho-Han memasang taruhan mereka dengan jumlah total angka yang ditampilkan pada dua buah dadu dan akan dibagi menjadi genap atau ganjil. Selanjutnya, sang bandar memasukkan kedua dadu ke dalam cangkir atau mangkok tersebut. 

Kemudian wadah tersebut ditaruh di lantai. Lalu, wadah tersebut dibuka dan terlihat dua buah dadu tersebut. Setelah hasil dadu terlihat ganjil atau genap, maka akan ditentukan pemenang yang akan mendapatkan hadiah uang tunai atau jenis taruhan lainnya.

Dalam permainan Cho-Han Bakuchi, peranan sang bandar disesuaikan pada situasi dan kondisi. Terkadang para bandar bertindak sebagai tuan rumah yang mengumpulkan semua dana taruhan dari pemain yang kalah. 

Keseringan, para pemain akan saling bertaruh dengan pemain lain. Ketika bertaruh satu sama lain,  membutuhkan jumlah pemain yang sama yang bertaruh pada ganjil dan genap. Dari total 36 hasil, ada enam ganda berbeda yang menghasilkan nilai genap seperti (1,1), (2,2), dan seterusnya, 30 pasangan angka yang berbeda dengan 18 bilangan ganjil, serta 12 bilangan genap.