Langgar Ketentuan Karantina, Ayah Luka Jovic Rela Anaknya Dipenjara Jika Bersalah

15
Luka Jovic
Pemain Real Madrid, Luka Jovic. (Foto: The Sun)

MataNaga – Ayah dari Luka Jovic meyakini bahwa sang striker Real Madrid harus menerima hukuman apapun yang diperlukan karena melanggar ketentuan karantina dengan pulang ke Belgrade, jika memang ditemukan bersalah.

Sang striker berusia 22 tahun itu mendapatkan kecaman karena pulang ke Serbia untuk merayakan ulang tahun kekasihnya, padahal dia seharusnya berada di rumah untuk menjalani masa karantina 14 hari yang diperintahkan oleh Real Madrid.

Hal ini menciptakan banyak kontroversi di Serbia dan ayahnya, Milan Jovic, angkat bicara kepada Puls Online mengenai situasi ini, meyakini bahwa anaknya memang harus dihukum jika bersalah.

“Luka melakukan tes virus corona dua kali (di Madrid dan Belgrade) dan kedua hasil tersebut negatif,” kata Milan Jovic, menjelaskan. “Itulah sebabnya dia berpikir bahwa dia bisa kembali ke Serbia.

“Kini nampaknya itu seperti sebuah tindakan kriminal besar. Jika dia harus dipenjara, maka penjaralah dia. Saya sepenuhnya bersepakat dengan Presiden Serbia dan Perdana Menteri (untuk menuntutnya dengan pasal kriminal), namun hanya jika dia ditemukan bersalah.

“Saya akan mendukung keputusan itu jika dia melakukan sesuatu yang salah, namun dia tiba di Belgrade dan tetap berada di rumah. (Kekasihnya) Sofia sedang hamil dan dia tidak bisa pergi (untuk merayakan ulang tahunnya). Beberapa foto yang tersebar mengenai keduanya bersenang-senang, itu dari Spanyol.”

Jovic diizinkan kembali ke Serbia setelah LaLiga memutuskan untuk menangguhkan musim seiring dengan pandemi virus corona, dan Spanyol menjadi salah satu negara yang mengalami dampak terburuk di Eropa, selain Italia.

Para pemain Madrid telah melaksanakan karantina setelah seorang pemain dari tim basket mereka dinyatakan positif terjangkit virus corona, yang hingga saat ini sudah menginfeksi 28 ribuan orang, dan memaakan 1.772 korban jiwa.

Jovic diharapkan untuk menjalani isolasi mandiri selama 28 hari di Serbia, namun kabarnya terlihat berada di luar apartemennya.

Sang striker berusia 22 tahun itu kemudian membicarakan masalah ini di akun Instagram-nya, mengatakan bahwa dia menganggap bahwa dirinya masih diperbolehkan untuk mengunjungi toko obat, sebagaimana yang dilakukannya di Madrid.

“Karena situasi di dunia dan negara kami sekarang sangatlah sulit, saya harus mau dan memberikan dukungan kepada saudara-saudara saya,” tulis Jovic. “Pertama-tama, saya sangat meminta maaf karena saya telah menjadi topik utama selama beberapa hari terakhir ini dan kabar tentang saya terus berhembus, bukan seorang pahlawan dalam krisis ini, selayaknya para dokter dan semua tenaga ahli medis.

“Selama di Spanyol, saya dinyatakan negatif terjangkit virus corona dan memutuskan kembali ke Serbia untuk membantu dan membantu saudara-saudara setanah air dan untuk dekat bersama keluar, dengan izin dari klub.

“Ketika saya tiba di Serbia, saya kembali dites virus corona dan hasilnya negatif lagi. Itu sangat disayangkan untuk saya bahwa orang-orang melakukan pekerjaan mereka tidak secara profesional dan tidak memberikan instruksi yang tepat mengenai bagaimana berperilaku selama isolasi mandiri.”

Jovic menjelaskan lebih mendetail, “Selama di Spanyol, saya diperbolehkan untuk pergi ke toko obat dan supermarket agar saya memiliki kebutuhan selama terkarantina, yang ternyata tidak diperbolehkan di sini.

“Saya meminta maaf kepada semua orang jika saya membahayakan mereka dalam beberapa cara dan saya berharap agar kami bisa melewati ini bersama. Mendukung Serbia dan mari tetap bersatu.”

Kasus virus corona yang ditemukan di Serbia sendiri, pada saat berita ini diturunkan, ada 222 kasus dengan memakan korban sebanyak dua orang.