Herrera Sebut Ada Kemiripan Antara Tuchel dengan Van Gaal

63
Ander Herrera & Louis van Gaal
Ander Herrera dan Louis van Gaal sewaktu di Manchester United. (Foto: Goal.com)

MataNaga – Gelandang Paris Saint-Germain, Ander Herrera, menarik perbandingan antara Thomas Tuchel dengan Louis van Gaal, menegaskan bahwa mereka berdua sama-sama menciptakan tim dengan posisi yang teratur.

Herrera menjadi rekrutan pertama Van Gaal ketika menjabat di Manchester United pada bursa transfer musim panas tahun 2014 silam, berkomitmen dengan menandatangani kontrak berdurasi empat tahun dengan Si Setan Merah.

Sang gelandang asal Spanyol tersebut mencatatkan total 70 penampilan di semua ajang ketika sang juru taktik asal Belanda itu menjabat, namun kesulitan untuk mendapatkan tempat di starting line-up.

Van Gaal mengantarkan United menempati posisi empat besar pada musim pertamanya menjabat, namun dipecat setahun kemudian meski berhasil menjuarai Piala FA. Herrera masih menetap di Old Trafford sebelum pindah ke PSG dengan status bebas transfer pada musim panas tahun 2019 lalu.

Namun berbagai masalah cedera membuat performa pemain berusia 30 tahun itu tidak cukup cemerlang pada musim debutnya di Ligue 1, namun dia masih memainkan peranan kecil untuk keberhasilan sang jawara Prancis dalam perburuan gelar juara domestik serta mencapai perempat final Liga Champions.

Tuchel mendapatkan banyak kritikan semenjak menggantikan Unai Emery di kursi kepelatihan PSG mulai tahun 2018 lalu, dan disebut-sebut bisa disingkirkan dari kursi kepelatihan pada akhir musim ini.

Herrera mengakui bahwa Tuchel memiliki gaya melatih yang sama pragmatisnya dengan Van Gaal, yang jauh dari filosofi idealis seperti ketika dia bermain untuk Marcelo Bielsa di Athletic Bilbao sebelum pindah ke United.

“Secara garis besar, dia membuat saya berpikir tentang Van Gaal. Dia menyukai permainan sepak bola yang teratur oleh posisi,” kata Herrera mengenai pelatihnya di PSG tersebut, Tuchel, dalam sebuah wawancara untuk Stadio TV.

“Dia sama sekali tidak sama, seperti contoh, dengan Marcelo Bielsa, seorang pelatih yang juga lebih menyukai gaya bermain menyerang, namun juga menginginkan permainan dengan pergerakan berlanjut, yang bisa memungkinkan Anda untuk memecah lini, dan merebut bola untuk diri sendiri.”

PSG berada dalam jalur yang tepat untuk mengakhiri penantian lama mereka dalam meraih gelar juara di pentas Eropa musim ini, setelah sukses menyingkirkan Borussia Dortmund dengan agregat 3-2 pada babak 16 besar Liga Champions.

Tim besutan Tuchel sempat takluk dengan skor 2-1 berkat dwigol Erling Haaland di Signal Iduna Park, namun menampilkan performa yang jauh lebih baik pada leg kedua di Parc des Princes, dengan mengalahkan tim Bundesliga itu 2-0, memastikan diri lolos ke babak delapan besar untuk pertama kalinya dalam empat tahun.

Herrera ditanyakan mengenai ekspektasi ekstra yang dibebankan kepada para pemain PSG mengenai tuntutan untuk sukses di Eropa, “Tuntutan yang ada di Paris tidak pernah saya ketahui sebelumnya.

“Di sini, menang adalah suatu kewajiban, jika tidak, maka itu adalah sebuah tragedi. Kami kalah 2-1 dari Dortmund. Di Liga Champions, itu adalah hasil tandang yang bagus, namun itu dianggap tragedi. Pada pertandingan kedua, kesatuan grup menjadi luar biasa dan itu memberikan kami kemenangan.”

Sang pemain timnas Spanyol kemudian berbicara mengenai kegemaran Tuchel untuk mengubah formasi dan susunan pemain dalam skuatnya, yang malah berimbas bagus untuk laga kontra Dortmund di Liga Champions.

“Sistemnya telah berubah sepanjang musim, namun publik tidak terlalu mengikuti Ligue 1,” kata Herrera. “Kami bermain beberapa kali dengan empat bek, namun dengan seorang defender yang terintegrasi dengan lini tengah.

“Pada akhirnya, kami terbiasa dengan sistem ini. Namun di Liga Champions, saya pikir kami tidak bermain seperti itu. Publik terus melihat pertandingan ini sebagai ukuran dan berupaya mencari kontroversi. Dia adalah seorang pelatih yang juga suka mengubah sistem dalam permainan.”