Rahasia Orang Jepang Bisa Tetap Sehat Meski Tanpa Pergi ke Gym

14
Orang Jepang Bisa Tetap Sehat Meski Tanpa Pergi ke Gym
Ilustrasi. (Foto: ClarksilverNow.com)

Matanaga – Di Amerika Serikat, citra kesehatan dibombardir oleh gambar orang-orang fitness, berolahraga secara reguler di gym. Keatletisan adalah suatu obsesi di Negeri Paman Sam dan nampaknya semua orang yang ingin sehat harys menjadi member fitness apa pun.

Hotel ataupun kampus yang bagus sering memiliki akses bebas kepada gym, terkadang bahkan menawarkan baju berolahraga untuk disewakan. Amerika Serikat merupakan tempat Alo Yoga ataupun Crossfit tumbuh subur. Influencer paling sukses di ranah online menulis tentang fitness, dan itu bukanlah suatu hal yang aneh untuk melihat seseorang untuk berlatih gila-gilaan di gym demi unggahan di media sosial, demikian pula dengan mengonsumsi makanan sehat.

Namun sebaliknya dengan itu, untuk negara dengan umur panjang dan rasio obesitas yang sangat rendah — setidaknya di antara negara pendapatan tinggi berkembang pada 4,3 persen — Anda mungkin terkejut bahwa tidak akan ada budaya untuk berolahraga secara berlebihan di Jepang.

Keatletisan bukanlah hal yang besar, dan tidak banyak orang yang punya kartu member gym. Orang jarang memanfaatkan istirahat makan siang mereka untuk sesi di gym, dan mereka yang mungkin terlihat sebagai pecinta aktivitas gym fanatik.

Dalam survei teranyar yang dilakukan oleh Rakuten Insight kepada 1.000 orang warga Jepang di usia 20 hingga 60 tahun, hampir sekitar setengahnya mengungkapkan bahwa mereka jarang berolahraga, entah sekitar satu kali sebulan atau bahkan tidak sama sekali. Mengatakan bahwa mereka tidak punya waktu untuk berolahraga sebanyak itu, kebanyakan orang tidak melihat bverolahraga sebagai bagian dari gaya hidup mereka.

Jadi mengapa ini terjadi?

Apa Artinya Berolahraga di Jepang

Jika Anda menengok lebih dekat tentang apa artinya berolahraga terhadap orang-orang Jepang, maka Anda akan menemukan bahwa olahraga sama dengan persepsi Anda. Namun mungkin olahraga bisa dalam bentuk yang lain, tidak perlu ke gym dan mengangkat beban, atau berlari sejauh 10km. Sebutlah, mungkin olahraga yang diperlukan oleh mereka adalah sekadar berjalan kaki.

Hasil yang ditunjukkan bukannya olahraga tidak sepenting itu untuk menjadi sehat, namun dalam pendekatan Jepang, mungkin banyak yang tidak melihatnya sebagai olahraga. Orang Jepang dewasa terbiasa berjalan rata-rata 6.500 langkah sehari, dengan orang dewasa pria pada usia 20 hingga 50 tahunan berjalan hampir 8.000 langkah sehari, dan wanita pada usia 20 hingga 50 tahunan sekitar 7.000 langkah sehari.

Orang-orang Okinawa dikenal dengan budaya jalannya, terutama tentang bergerak secara aktif sebagai bagian dari gaya hidup mereka. Nagano, sebuah prefektur pedesaan di Jepang, mampu membalikkan laju stroke yang tinggi dengan memiliki lebih dari 100 jalur jalan, dan kini warga mereka menikmati tingkat umur panjang yang tinggi di negara ini.

“Satu hal yang ingin kami lakukan adalah untuk membuat orang berjalan. Semua orang bisa melakukan itu. Anda berjalan, Anda berbicara, Anda berolahraga, dan itu membantu mengembangkan rasa kebersamaan,” kata Akira Sugenoya, walikota Matsumoto, prefektur Nagano.

Kebanyakan warga negara Jepang hidup di kota dengan jalur jalan yang sangat banyak, dengan transportasi publik yang nyaman, aman, dan terjangkau, dan tidak banyak rumah tangga memiliki mobil.

Sebagai konsekuensinya, ketika sebagian besar orang pergi bekerja, mereka berjalan. Ketika orang pergi berbelanja, mereka berjalan. Ketika orang pergi makan malam, mereka berjalan. Itu adalah aktivitas yang diadopsi setiap hari oleh setiap generasi: berjalan kaki merupakan bagian dari gaya hidup sehari-hari, sama seperti bernapas.